METROTODAY, SURABAYA – Peringatan Hari Sungai Sedunia yang jatuh, Minggu (27/9) dimanfaatkan untuk membersihkan aliran air di Kota Surabaya. Kali Tebu menjadi pusat aksi bersih sungai yang diikuti 350 orang, berhasil mengangkut 3,12 ton sampah dalam satu hari. Kegiatan ini sekaligus menegaskan perluasan sungai lestari yang akan segera beroperasi di empat wilayah tambahan mulai Oktober 2026.
Program sungai lestari merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab, dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup, diimplementasikan UNDP Indonesia. Telah berjalan di Surabaya sejak Juni 2026 dan Surakarta sejak Agustus, bulan depan program diperluas ke Sidoarjo, Badung, Denpasar, dan Bekasi.
Di Surabaya, Ecoton bersama Satgas Sungai Lestari Kali Tebu menggelar patroli dan aksi bersih sungai terpusat di SMPN 58 Surabaya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, M. Fikser, hadir langsung dan menyampaikan apresiasinya.
“Kami sangat senang dan merasa terbantu. Saat ini sudah mulai terlihat perubahan perilaku masyarakat yang awalnya tidak peduli pada sungai, kini sudah mulai banyak yang peduli,” ujar Fikser.

Kegiatan dibagi menjadi tiga zona hulu, tengah, dan hilir. Ketua Satgas Sungai Lestari Kali Tebu, Ayu, melaporkan hasilnya kepada Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono melalui telekonferensi. Total sampah yang berhasil diangkat mencapai 3.121,72 kilogram atau 3,12 ton.
“Ini menunjukkan persoalan sampah di Kali Tebu masih membutuhkan kerja bersama dan pengawasan yang dilakukan secara rutin,” ujar Ayu.
Selain bersih sungai, digelar pula penuangan 300 liter cairan eco enzyme ke aliran Kali Tebu oleh Komunitas Relawan Eco Enzyme Nusantara Cabang Surabaya.
“Langkah ini bagian dari upaya menjaga kualitas perairan sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli dan terlibat langsung,” kata Christiany Tanzil dari komunitas tersebut.
Para siswa SMP turut berpartisipasi menanam pohon di bantaran sungai agar tumbuh kesadaran lingkungan sejak dini. Kepala SMPN 58 Surabaya, Suharti, menegaskan pendidikan lingkungan tak cukup hanya di dalam kelas.
“Anak-anak harus terlibat langsung merawat Kali Tebu dan memahami bahwa menjaga sungai adalah tanggung jawab kita bersama,” ucapnya.
Data dari Ecoton memperlihatkan gambaran yang lebih luas. Selama Mei–September 2026, sebanyak 122,5 ton sampah berhasil dievakuasi dari Kali Tebu melalui pemasangan pencegat sampah (trash boom) di empat titik.
Dari 95,9 ton yang dipilah, komposisinya: residu 84,1 persen, sampah organik 7,6 persen, dan sampah daur ulang 8,32 persen. Sampah popok menduduki posisi kedua terbanyak dengan 30,51 ton atau 32,44 persen.
Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, menegaskan data ini mengarahkan solusi ke akar masalah.
“Karakteristik sampah menunjukkan bahwa penanganan harus dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan lingkungan. Bukan sekadar mengangkat dari sungai,” ungkapnya.
Program Sungai Lestari melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, kelompok RT/RW, perempuan, pemulung, pengepul, hingga sekolah dengan pendekatan menyeluruh mulai pencegahan dari sumber, pemasangan sarana pencegat, pengolahan, hingga edukasi perilaku. (ahm)


