Fosfat Melebihi Baku Mutu, Ikan di Sungai Jagir Wonokromo Surabaya Mabuk Mengapung

Alaika tegas mengimbau seluruh warga tidak mengambil, menjual, maupun mengonsumsi ikan yang mengapung atau mati di sungai. Pasalnya, zat pencemar yang tertelan tubuh ikan dapat berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi — penumpukan zat beracun yang semakin berbahaya saat naik ke rantai makanan.

“Kadar polutan yang tertelan ikan bisa berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi. Ketika polutan melebihi baku mutu dan dikonsumsi, bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” tegasnya.

Jenis ikan yang banyak ditemukan mengapung antara lain ikan bader, bader putih, hampala, dan ikan keting. Ikan keting menjadi jenis yang paling banyak ditemukan mati karena hidupnya di dasar sungai, tempat di mana zat pencemar dan endapan paling banyak menumpuk.

Alaika menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan saat ini baru tahap identifikasi awal. Pihaknya merekomendasikan pengujian lanjutan untuk mengukur parameter lain guna mengetahui secara pasti jenis dan tingkat pencemaran.

“Dampak jangka panjangnya bisa memicu kepunahan ikan. Kalau ikan punah, ekosistem sungai tidak akan stabil kembali,” tuturnya.

Selain itu, Alaika juga mengingatkan masyarakat bahwa kualitas air sungai sangat berpengaruh terhadap pasokan air baku yang diolah PDAM.

“Sungai ini termasuk baku mutu Kelas II fungsinya untuk mandi dan mencuci, bukan untuk dikonsumsi langsung. Jika sumber air baku tercemar, tentu akan mempengaruhi kualitas air yang didistribusikan ke masyarakat,” pungkasnya. (ahm)

Alaika tegas mengimbau seluruh warga tidak mengambil, menjual, maupun mengonsumsi ikan yang mengapung atau mati di sungai. Pasalnya, zat pencemar yang tertelan tubuh ikan dapat berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi — penumpukan zat beracun yang semakin berbahaya saat naik ke rantai makanan.

“Kadar polutan yang tertelan ikan bisa berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi. Ketika polutan melebihi baku mutu dan dikonsumsi, bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” tegasnya.

Jenis ikan yang banyak ditemukan mengapung antara lain ikan bader, bader putih, hampala, dan ikan keting. Ikan keting menjadi jenis yang paling banyak ditemukan mati karena hidupnya di dasar sungai, tempat di mana zat pencemar dan endapan paling banyak menumpuk.

Alaika menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan saat ini baru tahap identifikasi awal. Pihaknya merekomendasikan pengujian lanjutan untuk mengukur parameter lain guna mengetahui secara pasti jenis dan tingkat pencemaran.

“Dampak jangka panjangnya bisa memicu kepunahan ikan. Kalau ikan punah, ekosistem sungai tidak akan stabil kembali,” tuturnya.

Selain itu, Alaika juga mengingatkan masyarakat bahwa kualitas air sungai sangat berpengaruh terhadap pasokan air baku yang diolah PDAM.

“Sungai ini termasuk baku mutu Kelas II fungsinya untuk mandi dan mencuci, bukan untuk dikonsumsi langsung. Jika sumber air baku tercemar, tentu akan mempengaruhi kualitas air yang didistribusikan ke masyarakat,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait