Ia ingin penanganan luberan lumpur saat ini dapat segera tuntas. Dengan begitu masyarakat Sidoarjo tidak kembali dibayang-bayangi kejadian semburan lumpur 20 tahun silam. “Kita tetap akan komitmen untuk membantu atau komunikasi dengan panjenengan dari Kementerian PU dan DPR RI,” ujarnya.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono juga meminta luberan lumpur Sidoarjo segera ditangani dengan cepat. Jika tidak akan membahayakan keselamatan masyarakat. Bahkan dampaknya juga pada perekonomian nasional.
“Jika tidak segera ditanggulangi, ini akan menjadi lebih besar lagi dan bisa menghambat transportasi publik atau logistic karena ini jalan nasional, jadi tidak hanya membahayakan keselamatan, tapi juga ekonomi kita bisa terhambat, perekonomian di Jawa Timur dan nasional bisa terhambat,” ujarnya.
Bambang Haryo Soekartono meminta penanganan serius luberan lumpur tersebut. Seperti dengan memperbesar volume pembuangan lumpur ke sungai Porong. Terutama volume air lumpur yang harus dipercepat pembuangannya. Selain itu dinding-dinding tanggul lumpur harus diperkuat kembali.
“Saya minta untuk serius penanganan pembuangan lumpur menuju ke sungai. Terutama airnya. Jadi airnya yang perlu kita percepat untuk pembuangan. Terus yang kedua, perkuat semua dinding-dinding lumpur Lapindo ini,” mintanya.
Bambang Haryo juga meminta Pemkab Sidoarjo segera merealisasikan early warning system. Sistem peringatan dini potensi bencana tersebut sangat penting agar warga dapat segera melakukan evakuasi. Dengan begitu korban jiwa dan kerugian material akibat bencana tersebut dapat diminimalisir.
“Bu Wabup untuk merealisasikan early warning system, yaitu peringatan dini. Itu supaya warga dapat segera melakukan evakuasi jika terjadi kejadian bencana karena sisi ini ada ribuan atau mungkin ratusan ribu masyarakat yang bisa terdampak,” ucapnya.
Sementara itu Ketua Tim Perencanaan Teknik PPLS Arif Firmanto mengatakan, penurunan tanah memang terjadi pada tanggul lumpur. Dari data pengukuran yang dilakukannya, penurunan tanggul lumpur rata-rata terjadi setengah meter pertahun. Dari 11 kilometer tanggul lumpur tersebut terdapat titik-titik yang mempunyai kerawanan. Salah satunya di titik P10D. Titik yang berada di sisi Utara dan Barat pusat semburan yang juga berdekatan langsung dengan jalur rel kereta api dan jalan raya Porong.
“Jadi penurunannya rata-rata untuk titik ini adalah 0,5 meter per tahun. Tapi dari 11 kilometer ini variatif, Pak. Memang di area tanggul yang sisi Selatan relatif stabil daripada tanggul yang sisi lainnya, terutama yang di sisi Barat ini,” ucapnya.
Arif menyampaikan penyebab penurunan tanggul lumpur karena kondisi geologi. Ia menerangkan kondisi geologi di Sidoarjo adalah daerah endapan sedimen. Daerah endapan sedimen tersebut yang mengakibatkan daya dukung tanah rendah. Kemudian pengaruh dari adanya dua sesar atau dua patahan aktif, yaitu sesar Siring dan sesar Watukosek.
“Jadi memang kalau kita menghitung stabilitas bahwa beban yang kita timbun itu akan berpengaruh terhadap stabilitas. Ini juga akan kita hitung kembali, Pak. Ini kita perlu lakukan hitung sampai elevasi berapa nanti kita akan lakukan peninggian timbunan yang baru nanti,”jelasnya.
Saat ini lanjut Arif, penanganan luberan lumpur Sidoarjo dilakukan dengan peninggian tanggul. Alat berat terus bekerja untuk menambah ketinggian tanggul lumpur. Tingginya sekitar 1 meter. Pekerjaan tersebut masih bersifat darurat sebelum dilakukan penghitungan elevasi untuk menentukan tingginya timbunan tanggul yang baru.

