“Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tuturnya.
Jika pasokan magma dari bawah berhenti dan tidak ada tekanan tambahan dari gerakan lempeng, kantong magma akan mendingin perlahan. Proses ini membuat mineral mengkristal, lalu lama-kelamaan aktivitas vulkanik berhenti sendiri tanpa harus meletus.
“Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus memicu letusan,” jelasnya.
Selain proses internal, erupsi juga bisa dipicu faktor luar, misalnya guncangan gempa bumi yang menambah tekanan pada kantong magma yang sudah penuh. Namun pengaruhnya sangat bergantung pada jarak antara pusat gempa dengan lokasi gunung api itu sendiri.
Karena karakteristik yang berbeda-beda itulah, tingkat aktivitas setiap gunung sangat bervariasi. Ada yang terus bergetar, ada pula yang tidur ratusan tahun sebelum kembali aktif.
Oleh sebab itu, pemantauan berjalan terus dan dikelompokkan menjadi empat tahap: Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Penentuan status didasarkan pada data gempa, perubahan bentuk gunung, tinggi asap, hingga kandungan gas yang terukur.
Sebagai contoh spesifik, erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi baru-baru ini berjenis Strombolian hingga Hawaiian relatif tidak terlalu besar, namun berlangsung sangat lama, hampir 25 jam berturut-turut.
Akibatnya, abu vulkanik tersembur terus-menerus hingga ketinggian belasan kilometer, menyebar ke arah tenggara menuju Banten dan barat daya menuju Lampung hingga Samudra Hindia.
“Hal itu juga bergantung pada lapisan ketinggian angin, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar dosen Departemen Geofisika ITS itu.
Haris menegaskan bahwa segala pergerakan gunung api adalah proses alam yang harus dipahami berdasarkan data pemantauan ilmiah.
Mengenali karakteristik masing-masing gunung menjadi kunci utama agar masyarakat siap dan tangguh menghadapi dinamika kebumian yang terjadi di wilayah Indonesia. (ahm)


