(Ilustrasi)
METROTODAY, SIDOARJO – Kasus penipuan jual beli akun game online masih marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pelaku memanfaatkan tingginya minat para pemain game untuk mengiming-imingi dengan label akun “sultan”, skin langka, hingga item eksklusif.
Berdasar hasil penelusuran Ditressiber Polda Bali tahun lalu, modus yang paling sering digunakan ialah menawarkan akun game dengan harga jauh di bawah pasaran melalui media sosial dan platform komunitas game. Beberapa game yang paling sering digunakan dalam praktik penipuan ini antara lain Mobile Legends: Bang Bang, Free Fire, hingga Valorant.
Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan modus rekening bersama atau rekber palsu. Caranya, korban diarahkan untuk transfer ke akun admin palsu yang tampak terpercaya dengan logo professional gamers dan ribuan pengikut media sosial.
Selanjutnya, seringkali penjual diminta untuk mentransfer sejumlah uang sebagai deposit pencairan dana. Namun, tak jarang juga, pembeli bersekongkol dengan orang yang mengaku sebagai admin rekber untuk melancarkan aksinya. Akibatnya, akun korban akan diperjualbelikan kembali dalam komunitas game online.
Dilansir dari laman patroli siber, penipuan online merupakan kasus paling marak terjadi dalam kejahatan siber. Sampai Mei 2026 jumlahnya sebanyak 14.496 kasus. Lalu, ancaman kekerasan 8.614 kasus dan pencemaran nama baik 6.556 kasus.
Page: 1 2
Persebaya Surabaya mulai menyusun rangkaian persiapan matang menyongsong kompetisi mendatang. Tim berjuluk Bajul Ijo ini…
Rangkaian operasional ibadah haji tahun 2026 secara resmi selesai. Meskipun seluruh jemaah sudah kembali ke…
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengecam keras tindakan keji yang dilakukan oleh seorang ayah yang…
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, tak kuasa menahan haru hingga meneteskan air…
Swiss akhirnya mematahkan kutukan panjang mereka di fase gugur Piala Dunia. Bertanding menghadapi Aljazair pada…
Pesatnya perkembangan Kota Surabaya yang merupakan ibu kota Jawa Timur ternyata masih terdapat sejumlah warga…
This website uses cookies.