Categories: Nasional

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (16): Oleh-Oleh yang Tak Selalu Terlihat

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–

DI setiap perjalanan, selalu ada dua jenis oleh-oleh, yaitu yang terlihat dan yang terasa. Yang terlihat biasanya memenuhi koper, seperti kurma, cokelat, sajadah, tasbih, parfum, air zamzam, dan segala bentuk cendera mata yang secara fisik bisa disentuh, dibungkus, dibagikan, bahkan ditimbang di bandara.

Sedangkan yang terasa, diam-diam memenuhi hati, seperti pengalaman, perenungan, kenangan, rasa haru, rasa syukur, dan kadang-kadang perubahan cara pandang yang tidak kasat mata, tetapi justru bertahan paling lama.

Perjalanan ke Madinah kali ini mempertemukan saya dengan keduanya. Namun, seperti yang kemudian saya sadari, yang kedua justru jauh lebih berharga.

Sebab yang pertama memang bisa membuat orang senang, tetapi yang kedua bisa membuat seseorang berubah.

Di setiap perjalanan, terutama perjalanan ke Tanah Suci, ada satu pertanyaan yang hampir pasti muncul bahkan sebelum koper dibuka, “Oleh-olehnya apa?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, ringan, bahkan akrab. Tetapi diam-diam ia menyimpan ekspektasi yang panjang. Kurma Ajwa, cokelat Arab, sajadah, tasbih, parfum non-alkohol, air zamzam, semuanya seperti telah menjadi “paket standar” yang seolah wajib dibawa pulang.

Dalam banyak kasus, daftar titipan oleh-oleh bahkan bisa lebih panjang daripada itinerary ibadah itu sendiri. Ada yang menitip satu jenis barang, ada yang langsung lengkap dengan merek, ukuran, dan jumlah. Kadang-kadang, jamaah belum berangkat, daftar pesanannya sudah lebih dulu landing.

Saya membayangkan, jika semua titipan itu dijadikan lampiran resmi, mungkin ia bisa menyerupai dokumen logistik kecil-kecilan: terstruktur, rinci, dan cukup menguras perhatian.

Namun, di Madinah, saya mulai menyadari satu hal bahwa tidak semua oleh-oleh bisa dibungkus plastik, dimasukkan koper, atau ditimbang di bandara. Ada oleh-oleh yang tak terlihat, tak terukur, tetapi justru paling menetap.

Ia tidak terlihat pada pajangan rak toko di Bin Dawood, tidak muncul dalam daftar belanja, dan tidak bisa dibeli dengan kartu debit maupun uang tunai.

Ia hadir perlahan, kadang melalui keheningan, kadang melalui percakapan, kadang bahkan melalui kekeliruan kecil yang semula tampak sepele.

Dan sering kali, ia hadir justru dari hal-hal yang tidak kita rencanakan.

Madinah: Kota Tak Tergesa-gesa

Perjalanan kami dimulai dengan ritme yang khas. Dari stasiun kereta cepat Haramain, memasuki kota Madinah dengan doa yang lirih namun penuh harap.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika sebuah perjalanan menuju kota yang sejak lama hidup dalam imajinasi spiritual akhirnya benar-benar dijalani dengan tubuh dan langkah nyata.

Kota ini tidak menyambut dengan gemerlap, tetapi dengan ketenangan. Ia tidak menawarkan kemegahan yang mencolok, tetapi menghadirkan rasa teduh yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah Madinah memang tidak sedang berusaha memukau siapa pun. Ia cukup menjadi dirinya sendiri, dan justru karena itulah ia begitu memikat.

Berbeda dengan Makkah yang dinamis, padat, dan penuh arus manusia dari segala arah, Madinah terasa seperti jeda. Kota ini tidak tergesa-gesa. Ritmenya pelan, tetapi dalam.

Ia seperti sebuah kalimat yang dibaca tanpa terburu-buru, sehingga setiap katanya sempat meresap.

Setibanya di hotel, kami tak banyak beristirahat. Ada semacam magnet tak kasatmata yang menarik langkah kami menuju Masjid Nabawi.

Setiap kali kaki mendekat ke pelatarannya, rasa haru itu datang tanpa bisa ditahan.

Seakan-akan hati yang selama ini dipenuhi hiruk-pikuk jadwal, target, dan beragam urusan mulai dari urusan KPI, KONKIN, QS WUR, THE Impact, RENSTRA, RENIP, RKAT hingga RKATP, Laporan Keuangan (LK), Audit LK, TPB, IKITS, perpajakan, pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan sarpras, fasilitas eco-campus berupa sepeda listrik, rumah dinas, pengelolaan sampah, pengoperasian shuttle car, hingga tandon bocor dan lain-lain, tiba-tiba dipaksa berhenti sejenak.

Untuk diam, untuk merunduk, dan untuk kembali menyentuh hal yang paling esensial dalam hidup.

Langkah kaki di Madinah sering kali tidak hanya membawa kita berpindah tempat, tetapi juga berpindah rasa. Dari harap menjadi syukur, dari lelah menjadi nikmat, dari sekadar rutinitas menjadi perenungan. Di kota yang namanya sendiri berarti “tempat peradaban”, setiap jengkal langkah seperti menyimpan pelajaran dari peradaban madaniyah.

Di Masjid Nabawi, waktu terasa berbeda. Satu rakaat salat di sana disebut lebih utama dibanding seribu rakaat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.

Tetapi angka itu, bagi saya, bukan sekadar perbandingan matematis. Ia adalah pengingat bahwa ada ruang-ruang tertentu dalam hidup yang memiliki nilai lebih, bukan karena bentuk fisiknya, tetapi karena maknanya.

Berbeda dengan Masjidil Haram yang dinamis dengan pergerakan thawaf dari segala arah, Masjid Nabawi terasa lebih linear, lebih tenang. Arah gerak jamaah lebih tegas menuju kiblat. Saf-safnya rapi.

Ritme ibadahnya seolah mengajak kita untuk lebih khusyuk, bukan sekadar aktif. Tidak ada putaran 360 derajat yang intens seperti di Makkah, tetapi justru ada ruang kontemplasi yang lebih lapang.

Di sinilah saya mulai merasa bahwa oleh-oleh tidak lagi sekadar benda. Ia perlahan berubah menjadi rasa.

Pelajaran Kesabaran Menuju Raudhah

Di sela-sela ibadah itu, ada satu ikhtiar yang menjadi impian banyak jamaah: masuk ke Raudhah. Sebuah ruang kecil yang disebut sebagai taman surga.

Dalam imajinasi banyak orang, Raudhah bukan sekadar area di dalam masjid. Ia adalah kerinduan yang menjadi tujuan. Ia adalah ruang sempit dengan makna yang sangat luas.

Namun untuk masuk ke sana, kini ada ikhtiar tambahan. Tidak cukup hanya datang dan berharap. Ada aplikasi Nusuk, ada jadwal tasreh, ada slot waktu yang harus diperhatikan, ada strategi, ada antisipasi, dan ada kesabaran yang harus terus dijaga.

Suasana di Raudhah yang tenang dan khusyuk. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Ternyata, bahkan untuk mendekat pada ruang yang begitu mulia, manusia tetap perlu belajar tertib, sabar, dan ikhlas. Dan, alhamdulillah kami bisa “berlama-lama” di Raudhah, karena kami kebagian jadwal berbarengan dengan ba’da magrib, sehingga kami berkesempatan shalat magrib di Raudhah.

Di situ saya belajar sesuatu yang sederhana, tetapi dalam, bahwa tidak semua yang mulia bisa digapai dengan spontanitas. Ada yang meminta kesungguhan. Ada yang menuntut kesiapan. Ada yang menguji ketulusan melalui proses.

Kadang, kita sudah merasa siap, tetapi jadwal belum tersedia. Kadang kita sudah datang, tetapi waktu belum tepat. Kadang kita sudah berharap, tetapi keadaan berkata lain. Di situlah letak pelajarannya, bahwa kedekatan dengan yang mulia tidak selalu soal berhasil atau tidak berhasil masuk, tetapi soal bagaimana hati diproses selama menantikan kesempatan itu.

Bukankah dalam hidup pun demikian? Tidak semua yang baik bisa segera kita raih. Ada yang menuntut ikhtiar berulang. Ada yang harus didahului oleh sabar. Ada yang baru terbuka setelah kita belajar menerima bahwa tidak semua rencana akan berjalan sesuai harapan.

Di Madinah, bahkan antrean pun bisa menjadi ruang pendidikan batin.

Oleh-Oleh Rasa: Nusantara di Tanah Nabi

Salah satu kejutan kecil di Madinah adalah betapa mudahnya menemukan kuliner Nusantara. Dari nasi Padang, sate, mi instan, hingga bakso, semuanya hadir. Seolah ingin mengatakan, “Kamu memang jauh dari rumah, tapi tidak sendirian.”

Di sela-sela jadwal ibadah, kami menyempatkan diri mencicipi makanan khas Indonesia. Rasanya mungkin tidak seratus persen identik dengan yang ada di tanah air, tetapi cukup untuk menghadirkan nostalgia. Dan ternyata, dalam konteks perjalanan spiritual, nostalgia juga bisa menjadi bentuk kenyamanan.

Ada sensasi unik ketika menyantap sambal di kota Rasulullah. Pedasnya bukan hanya di lidah, tetapi juga di memori, yang menghubungkan Madinah dengan Surabaya, Padang, Malang, Madura, dan berbagai sudut Indonesia yang hidup dalam ingatan.

Saya sempat bercanda, “Ini mungkin satu-satunya tempat di dunia di mana jarak ribuan kilometer bisa dilipat oleh satu sendok sambal.”

Candaan itu tentu sederhana. Tetapi di baliknya ada pengalaman yang tidak sederhana. Makanan bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan jembatan emosi. Ia menghubungkan ruang yang jauh dengan rasa yang dekat.

Ia mengingatkan bahwa manusia, seberapa pun jauh ia bepergian, tetap membawa kampung halamannya dalam ingatan lidah, bau dapur, dan kebiasaan kecil.

Dan di Madinah, ketika waktu seolah melambat, pengalaman sederhana seperti makan bisa berubah menjadi ruang refleksi. Kita tidak sekadar makan, kita mengingat, merasakan, dan menyambungkan kembali potongan-potongan kehidupan yang tersebar jauh di tanah air.

Di titik ini, saya mulai menyadari bahwa oleh-oleh tidak selalu harus dibawa pulang. Kadang, ia justru hadir untuk dinikmati di tempat, lalu menetap sebagai kenangan.

Tersesat yang Mengenyangkan: Cerita dari Pasar Ikan

Suatu sore, setelah rangkaian ibadah yang cukup padat di Masjid Nabawi, kami diajak oleh seorang sahabat lama dari Malang. Ia sedang menjalani program ibadah cukup panjang di Tanah Haram, sekitar dua bulan.

Wajahnya tampak lebih tenang, bicaranya lebih pelan, dan entah kenapa, ada aura “cukup” yang sulit dijelaskan. Aura yang tidak ramai, tetapi kuat. Aura yang tidak dibuat-buat, tetapi terasa.

“Kita cari makan agak jalan sedikit ya,” katanya santai. “Sekalian olahraga.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tetapi sering kali, dalam perjalanan, kalimat-kalimat ringan justru membuka pengalaman yang paling dalam.

Kami pun berjalan. Sekitar satu setengah kilometer dari Masjid Nabawi. Jarak yang, jika diukur dengan kaki lelah, mungkin terasa lumayan. Tetapi hari itu tidak terasa jauh.

Mungkin karena udara sore cukup bersahabat. Mungkin karena suasana hati sedang ringan. Mungkin juga karena percakapan sepanjang jalan justru membuat langkah terasa lebih pendek.

Pertemuan dengan teman lama sambil kulineran di Madinah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Kami berbicara tentang banyak hal, diantaranya tentang keluarga, tentang kampus, tentang Indonesia, tentang perubahan zaman, tentang rutinitas yang sering membuat manusia lupa berhenti, bahkan tentang hal-hal kecil yang sering kita lewatkan dalam kehidupan yang terlalu sibuk.

Di Madinah, waktu seolah melambat. Dan ketika waktu melambat, percakapan menjadi lebih dalam.

Langkah itu membawa kami ke sebuah kawasan yang cukup hidup. Deretan restoran seafood berjajar di kawasan pasar ikan Qurban Road. Aroma laut berpadu dengan asap bakaran.

Suasananya ramai, tetapi bukan hiruk-pikuk yang melelahkan. Tidak mewah, tidak glamor, tidak dipoles dengan pencitraan modern yang berlebihan. Justru di situlah letak daya tariknya, otentik, sederhana, dan apa adanya.

Tujuan awal kami sebenarnya jelas: ingin mencoba makan di Abid Restaurant. Nama itu sudah lebih dulu disebut sebagai destinasi kuliner yang cukup terkenal. Ada menu kepala kambing, ada ikan bakar, dan ada reputasi yang membuatnya layak dicoba.

Namun, seperti banyak hal dalam hidup, arah tidak selalu berujung pada tujuan yang direncanakan.

Kami justru masuk ke salah satu restoran lain yang berjejer di kawasan tersebut. Sempat ada rasa kecele, “Lho, ini bukan tempatnya ya?”

Tetapi kami tetap duduk. Dan di situlah saya mulai memahami: tidak semua kekeliruan harus segera diperbaiki. Ada yang justru perlu dijalani.

Mungkin dalam hidup juga demikian. Tidak semua jalan yang tampak melenceng berarti salah. Kadang ia hanya sedang mengantar kita ke pelajaran yang tidak mungkin ditemui di rute semula.

Menu yang kami pesan cukup beragam, yaitu ikan bakar segar, aneka olahan seafood, dan, yang cukup unik: kepala kambing.

Kombinasi yang jika ditulis di satu meja mungkin terdengar eksentrik, tetapi justru di situlah letak pengalamannya. Dunia kuliner seperti kehidupan, tidak selalu harus tunduk pada kategori yang rapi.

Namun, yang membuat makan malam itu berkesan bukanlah makanannya semata. Melainkan percakapannya.

Sahabat kami bercerita tentang perjalanan spiritualnya. Tentang bagaimana dua bulan di Tanah Haram membuatnya melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Bahwa kesederhanaan ternyata tidak mengurangi kebahagiaan. Bahwa jarak dari rumah justru mendekatkan diri pada Tuhan. Dan bahwa kebersamaan dengan sesama jamaah sering kali menjadi penguat yang tak tergantikan.

Ia bercerita tanpa nada menggurui. Justru karena itu, ceritanya terasa lebih masuk. Ada ketenangan dalam tuturannya. Ada kedalaman dalam jedanya. Seolah-olah dua bulan di tanah suci bukan hanya mengubah jadwal hariannya, tetapi juga memperhalus irama batinnya.

Saya terdiam sejenak. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering kita jalani, seperti rapat, target, laporan, notulensi, perjalanan dinas, grup WhatsApp yang tidak pernah benar-benar tidur, ternyata ada dunia lain yang lebih hening, tetapi justru lebih bermakna.

Dan anehnya, di sebuah warung sederhana di pasar ikan, pelajaran itu terasa begitu nyata.

Di antara suapan demi suapan, ada satu hal yang terasa lebih mengenyangkan daripada makanan itu sendiri, yakni rasa syukur.

Saya sempat berpikir, mungkin ini bukan soal tempat makan yang tepat, tetapi tentang waktu dan orang yang tepat.

Dan benar, oleh-oleh yang kami dapatkan malam itu bukan sekadar rasa makanan, melainkan pengalaman, percakapan, kehangatan, dan rasa “cukup” yang jarang kita temukan di tengah kehidupan yang serba cepat.

Bin Dawood dan Dilema Koper

Hari-hari berikutnya tetap diisi dengan ibadah di Masjid Nabawi. Setiap kali masuk, selalu ada rasa yang berbeda. Kadang haru, kadang tenang, kadang justru penuh refleksi. Masjid yang sama, lantai yang sama, saf yang hampir serupa, tetapi rasa yang datang bisa selalu baru. Mungkin memang bukan tempatnya yang berubah, tetapi hati kita yang sedang dibentuk sedikit demi sedikit.

Di sela itu, tentu ada agenda wajib lain, yakni mencari oleh-oleh.

Kami pun menuju Bin Dawood, salah satu pusat perbelanjaan yang cukup populer di sekitar Masjid Nabawi. Di sana, suasana berubah. Dari yang sebelumnya hening dan reflektif, menjadi lebih ramai dan praktis. Dari keheningan batin, kita berpindah ke kalkulasi belanja. Dari zikir, kita masuk ke daftar titipan. Dari sajadah masjid, kita bergeser ke troli dan rak diskon.

Troli-troli penuh dengan kurma, cokelat, air zamzam, sajadah, parfum, hingga berbagai cendera mata lainnya. Saya pun ikut larut. Memilih ini, membandingkan itu, menghitung jumlah, menyesuaikan dengan nama-nama yang harus dibawakan oleh-oleh.

Ada anak-anak di rumah yang tentu menunggu sesuatu. Ada keluarga yang ingin diberi perhatian. Ada sahabat yang layak diingat. Ada kolega yang mungkin cukup dengan sebungkus kecil, tetapi maknanya bisa besar.

Ada kepuasan tersendiri dalam aktivitas ini. Membayangkan anak-anak di rumah yang akan senang menerima hadiah. Keluarga yang akan tersenyum. Sahabat yang akan merasa diingat. Memberi, bagaimanapun, selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri.

Namun di sinilah dilema klasik mulai muncul. Barangnya banyak, koper terbatas. Harganya menarik, tapi harus tetap rasional. Keinginan memberi besar, tetapi kapasitas bagasi tetap punya batas. Ini mungkin salah satu ujian modern jamaah, yakni antara kelapangan hati dan batas timbangan maskapai.

Saya pernah merasa berdiri cukup lama di salah satu rak kurma, memandangi berbagai pilihan, mulai yang premium, yang ekonomis, yang kemasannya elegan, yang isinya banyak, yang tampaknya cocok untuk keluarga, yang sepertinya pas untuk teman kantor. Dalam hati saya bertanya, “Mana yang paling tepat?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi lama-lama saya sadar, ia tidak hanya soal jenis kurma. Ia juga tentang niat memberi, tentang proporsi, dan tentang memahami bahwa tidak semua rasa sayang harus diterjemahkan dalam jumlah belanja yang besar.

Lalu muncul kesadaran yang jauh lebih penting dari oleh-oleh ini bukan soal nilai barangnya, tetapi tentang niat berbagi.

Dan lebih dari itu, saya tahu bahwa oleh-oleh paling berharga justru tidak berada di rak mana pun. Ia sudah lebih dulu tersimpan di dalam hati. (*/bersambung)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Haul Tambaksumur yang Meriah (7-Habis)

Setiap tahun, masyarakat Desa Tambaksumur selalu menggelar dua peringatan haul. Yang pertama adalah haul Mbah…

2 hours ago

Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Berangkat 22 April, Arab Saudi Jamin Keamanan Jemaah Indonesia

Pemerintah Arab Saudi menjamin jemaah haji Indonesia dapat melaksanakan ibadah haji yang akan diberangkatkan ke…

9 hours ago

Dua Kali Gagal Curi Beat, Pelaku Curanmor Berpeci Gondol Vega di Masjid Simokerto Surabaya

Curanmor kembali meresahkan warga Tambak Segaran, Simokerto, Surabaya. Lingkungan Masjid Darun Najah kembali disatroni maling.…

9 hours ago

KPAI Desak Pemerintah Sanksi Tegas Platform Digital Bandel yang Tak Patuhi PP Tunas

KPAI menuntut ketegasan penuh pemerintah dalam mengimplementasikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang…

9 hours ago

PSSI Umumkan Susunan Tim Pelatih Timnas Indonesia, Herdman Didampingi 10 Asisten Khusus

PSSI) mengumumkan susunan tim kepelatihan Timnas senior Indonesia di bawah komando pelatih kepala, John Herdman.…

9 hours ago

Mo Salah Pamit Tinggalkan Liverpool di Akhir Musim, Akhiri 9 Tahun Kebersamaan

Mohamed Salah resmi mengumumkan bakal angkat kaki dari Liverpool pada akhir musim 2025/2026 pada Juni…

9 hours ago

This website uses cookies.