Karate dan Kepedulian Sosial
Pembentukan karakter tidak berhenti di dalam dojo, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata kemasyarakatan. Salah satunya melalui kegiatan bakti sosial ke YPAC Surabaya untuk menanamkan empati dan rasa hormat kepada sesama, termasuk kepada penyandang disabilitas dengan tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan stamina.
Sejarah Panjang Sejak 1967
Nilai-nilai luhur ini berakar dari sejarah panjang yang dirintis oleh mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A., pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung di bawah didikan Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo. Embrio perguruan ini lahir di Kota Batu, Malang, pada tahun 1967 dengan nama awal Go No Sen, sebelum akhirnya berkembang menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Menyiapkan Regenerasi menjadi fokus utama organisasi. Shihan Hartanto menegaskan bahwa pembinaan prestasi dan regenerasi harus berjalan beriringan agar melahirkan generasi yang memiliki keberanian, disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan diri. Sebab dalam filosofi Kyokushinkai, kekuatan sejati diuji ketika seorang karateka mampu menaklukkan diri sendiri dan menghadapi tantangan kehidupan. (dite)
Karate dan Kepedulian Sosial
Pembentukan karakter tidak berhenti di dalam dojo, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata kemasyarakatan. Salah satunya melalui kegiatan bakti sosial ke YPAC Surabaya untuk menanamkan empati dan rasa hormat kepada sesama, termasuk kepada penyandang disabilitas dengan tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan stamina.
Sejarah Panjang Sejak 1967
Nilai-nilai luhur ini berakar dari sejarah panjang yang dirintis oleh mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A., pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung di bawah didikan Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo. Embrio perguruan ini lahir di Kota Batu, Malang, pada tahun 1967 dengan nama awal Go No Sen, sebelum akhirnya berkembang menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Menyiapkan Regenerasi menjadi fokus utama organisasi. Shihan Hartanto menegaskan bahwa pembinaan prestasi dan regenerasi harus berjalan beriringan agar melahirkan generasi yang memiliki keberanian, disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan diri. Sebab dalam filosofi Kyokushinkai, kekuatan sejati diuji ketika seorang karateka mampu menaklukkan diri sendiri dan menghadapi tantangan kehidupan. (dite)