PMK Kyokushinkai, Karate Keras untuk Membentuk Mental dan Karakter Generasi Muda

Ia menambahkan, karakter latihan Kyokushinkai juga tampak dari proses penguatan otot dan teknik yang dilakukan bertahap. Bahkan, tradisi berteriak di dalam dojo bukan sekadar ungkapan keberanian, melainkan bagian dari teknik pernapasan dan penguatan inti tubuh.

”Setelah fisik dan kepercayaan diri terbentuk, baru kemudian berkembang ke teknik. Itu yang kita fokuskan terlebih dahulu,” ujarnya.

Berawal dari Pengalaman Mengatasi Bullying

Menariknya, motivasi anak-anak muda bergabung dengan Kyokushinkai seringkali berakar dari pengalaman nyata di lingkungan sekolah. Salah satunya isu bullying.

Rinjani Aurellia, karateka berusia 15 tahun asal SMP Negeri 10 Surabaya, mengaku mulai bergabung karena ingin membangun kepercayaan diri setelah mengalami pengalaman sosial yang kurang menyenangkan. Setelah empat hingga lima tahun berlatih, ia merasakan transformasi drastis pada dirinya.

”Saya ingin meningkatkan kepercayaan diri. Setelah ikut karate, perubahannya cukup drastis; saya lebih bisa mengontrol emosi dan berkomunikasi dengan baik, baik dengan teman sebaya maupun lawan jenis,” tutur Rinjani.

Bagi Rinjani, karate bukan sekadar kemampuan menghadapi lawan di arena. Latihan justru membuat dirinya lebih tenang menghadapi situasi sehari-hari.

Hal serupa dirasakan oleh karateka perempuan lainnya. Salah seorang warga karate PMK Kyokushinkai Surabaya, Rianna Forto, mengatakan, karate membekalinya dengan rasa percaya diri ketika harus beraktivitas secara mandiri.

“Karate sangat penting, terutama di zaman sekarang ketika kejahatan semakin banyak. Ikut karate membuat kita lebih percaya diri dan bisa melindungi diri,” katanya.

Selain kemampuan bela diri, ia juga merasakan manfaat kebugaran tubuh serta kedisiplinan dalam menghormati orang yang lebih tua dan pelatih. Setelah empat bulan berlatih, ia menjadi lebih tenang beraktivitas hingga malam hari.

Peran Keluarga: Dari Satu Anak, Menular ke Saudara

Pembinaan Kyokushinkai juga mendapat respons mendalam dari keluarga. Salah seorang orang tua, Desi, bahkan mengikutsertakan ketiga anaknya —yang terdiri atas satu perempuan dan dua laki-laki dalam rentang usia remaja hingga anak-anak— ke dalam latihan.

Kerasnya latihan PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia difungsikan secara disiplin sebagai sarana pembentukan karakter.

Keputusan tersebut berawal dari pengalaman anak pertamanya yang pernah mengalami bullying dan nyaris menjadi korban pelecehan. Pengalaman tersebut membuatnya berpikir bahwa anak-anak mutlak harus memiliki keberanian dan kemampuan menjaga diri.

“Saya bilang, enggak 24 jam mami akan stay buat kamu. Anak perempuan juga harus fight,” tuturnya.

Dari anak pertama, kedua adiknya kemudian mengikuti latihan. Menariknya, ketiganya sama-sama memiliki pengalaman bullying di sekolah. Setelah mengikuti karate, perubahan yang dirasakan cukup signifikan: anak-anak menjadi lebih percaya diri, disiplin, mampu mengontrol emosi, dan berani melindungi diri serta membantu teman. Bahkan, dua di antaranya telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan nasional.

Surabaya Jadi Salah Satu Basis Penting

Pembinaan yang konsisten membuat Surabaya berkembang menjadi salah satu basis penting Kyokushinkai di Jawa Timur dengan jumlah anggota yang tergolong terbesar.

Sensei Arief Sugiarto, pembina di Dojo Kupang Jaya, menjelaskan bahwa kurikulum terpusat diterapkan untuk memetakan bakat atlet, baik yang diarahkan ke nomor Kumite (pertarungan) maupun Kata (seni jurus), di mana minat terhadap keduanya terpantau seimbang. Antusiasme masyarakat terus meningkat seiring tingginya kepedulian orang tua terhadap masalah bullying.

Ia menambahkan, karakter latihan Kyokushinkai juga tampak dari proses penguatan otot dan teknik yang dilakukan bertahap. Bahkan, tradisi berteriak di dalam dojo bukan sekadar ungkapan keberanian, melainkan bagian dari teknik pernapasan dan penguatan inti tubuh.

”Setelah fisik dan kepercayaan diri terbentuk, baru kemudian berkembang ke teknik. Itu yang kita fokuskan terlebih dahulu,” ujarnya.

Berawal dari Pengalaman Mengatasi Bullying

Menariknya, motivasi anak-anak muda bergabung dengan Kyokushinkai seringkali berakar dari pengalaman nyata di lingkungan sekolah. Salah satunya isu bullying.

Rinjani Aurellia, karateka berusia 15 tahun asal SMP Negeri 10 Surabaya, mengaku mulai bergabung karena ingin membangun kepercayaan diri setelah mengalami pengalaman sosial yang kurang menyenangkan. Setelah empat hingga lima tahun berlatih, ia merasakan transformasi drastis pada dirinya.

”Saya ingin meningkatkan kepercayaan diri. Setelah ikut karate, perubahannya cukup drastis; saya lebih bisa mengontrol emosi dan berkomunikasi dengan baik, baik dengan teman sebaya maupun lawan jenis,” tutur Rinjani.

Bagi Rinjani, karate bukan sekadar kemampuan menghadapi lawan di arena. Latihan justru membuat dirinya lebih tenang menghadapi situasi sehari-hari.

Hal serupa dirasakan oleh karateka perempuan lainnya. Salah seorang warga karate PMK Kyokushinkai Surabaya, Rianna Forto, mengatakan, karate membekalinya dengan rasa percaya diri ketika harus beraktivitas secara mandiri.

“Karate sangat penting, terutama di zaman sekarang ketika kejahatan semakin banyak. Ikut karate membuat kita lebih percaya diri dan bisa melindungi diri,” katanya.

Selain kemampuan bela diri, ia juga merasakan manfaat kebugaran tubuh serta kedisiplinan dalam menghormati orang yang lebih tua dan pelatih. Setelah empat bulan berlatih, ia menjadi lebih tenang beraktivitas hingga malam hari.

Peran Keluarga: Dari Satu Anak, Menular ke Saudara

Pembinaan Kyokushinkai juga mendapat respons mendalam dari keluarga. Salah seorang orang tua, Desi, bahkan mengikutsertakan ketiga anaknya —yang terdiri atas satu perempuan dan dua laki-laki dalam rentang usia remaja hingga anak-anak— ke dalam latihan.

Kerasnya latihan PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia difungsikan secara disiplin sebagai sarana pembentukan karakter.

Keputusan tersebut berawal dari pengalaman anak pertamanya yang pernah mengalami bullying dan nyaris menjadi korban pelecehan. Pengalaman tersebut membuatnya berpikir bahwa anak-anak mutlak harus memiliki keberanian dan kemampuan menjaga diri.

“Saya bilang, enggak 24 jam mami akan stay buat kamu. Anak perempuan juga harus fight,” tuturnya.

Dari anak pertama, kedua adiknya kemudian mengikuti latihan. Menariknya, ketiganya sama-sama memiliki pengalaman bullying di sekolah. Setelah mengikuti karate, perubahan yang dirasakan cukup signifikan: anak-anak menjadi lebih percaya diri, disiplin, mampu mengontrol emosi, dan berani melindungi diri serta membantu teman. Bahkan, dua di antaranya telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan nasional.

Surabaya Jadi Salah Satu Basis Penting

Pembinaan yang konsisten membuat Surabaya berkembang menjadi salah satu basis penting Kyokushinkai di Jawa Timur dengan jumlah anggota yang tergolong terbesar.

Sensei Arief Sugiarto, pembina di Dojo Kupang Jaya, menjelaskan bahwa kurikulum terpusat diterapkan untuk memetakan bakat atlet, baik yang diarahkan ke nomor Kumite (pertarungan) maupun Kata (seni jurus), di mana minat terhadap keduanya terpantau seimbang. Antusiasme masyarakat terus meningkat seiring tingginya kepedulian orang tua terhadap masalah bullying.

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait