METROTODAY, DALLAS – Australia harus mengakhiri petualangannya di Piala Dunia 2026 dengan cara yang tak diinginkan. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, Socceroos (julukan Australia) akhirnya tumbang 2-4 dari Mesir dalam drama adu penalti pada babak 32 besar yang berlangsung di Dallas, Amerika Serikat.
Namun, di balik kepedihan itu, lahir satu nama yang dipuji publik sepak bola dunia, yakni Lucas Herrington.
Dilansir dari AOL Sport, Mesir membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-13 melalui sundulan Emam Ashour yang memanfaatkan umpan matang Mohamed Salah.
Australia merespons dengan meningkatkan intensitas serangan sepanjang babak kedua hingga akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Mohamed Hany.
Kedua tim sama-sama memperoleh peluang pada babak tambahan waktu, tetapi ketangguhan kedua penjaga gawang membuat skor 1-1 bertahan hingga peluit akhir extra time berbunyi.
Drama sesungguhnya hadir dalam adu tos. Mesir tampil sempurna dengan empat eksekutor yang semuanya sukses menjalankan tugas, termasuk Mohamed Salah yang dengan tenang melepaskan tendangan bergaya Panenka.
Di kubu Australia, kapten Harry Souttar gagal menaklukkan kiper lawan, disusul Lucas Herrington yang sepakannya membentur mistar.
Hossam Abdelmaguid kemudian menjadi algojo penentu kemenangan bagi The Pharaohs (julukan Mesir).
Meski menjadi salah satu pemain yang gagal dalam adu penalti, Lucas Herrington justru banjir apresiasi.
Bek berusia 18 tahun itu dinilai memiliki keberanian luar biasa karena bersedia menjadi salah satu penendang dalam situasi hidup-mati.
Di media sosial, banyak suporter, mantan pemain, hingga analis menyebut kegagalannya bukan sebagai aib, melainkan bagian dari proses menjadi pemain besar.
Legenda seperti Thierry Henry dan Zlatan Ibrahimovic bahkan termasuk di antara figur yang memberikan dukungan moral kepada sang pemain muda.
Keberanian Herrington kemudian memunculkan perbandingan yang ramai diperbincangkan publik sepak bola.
Banyak warganet menilai mental pemain muda Australia itu jauh lebih mengesankan dibanding situasi yang terjadi sehari sebelumnya di kubu Jerman.
Dalam kekalahan Die Mannschaft dari Paraguay, sejumlah laporan media Jerman mengkritisi beberapa pemain senior justru enggan mengambil tendangan penalti karena merasa tidak siap menanggung tekanan, hingga akhirnya Jonathan Tah yang belum pernah menjadi eksekutor sukarela maju dan gagal menjalankan tugasnya.
Perbandingan itu membuat nama Herrington mendapat simpati lebih besar meski Australia tersingkir.
Berdiri di depan mikrofon media, Tony Popovic secara ksatria pasang badan dan menolak menyalahkan para pemainnya.
Ia mengakui keputusan memasukkan kiper veteran Maty Ryan di menit ke-119 menggantikan Patrick Beach yang sedang on-fire, sepenuhnya adalah tanggung jawab taktisnya yang meleset.
“Kami masih punya satu slot pergantian dan memasukkan Maty karena rekam jejak serta pengalamannya menghalau penalti. Memang, rencana itu tidak berhasil malam ini, dan kita bisa melihat banyak alasan di baliknya. Namun, jangan salahkan anak-anak,” ujar Popovic.
Popovic juga membela keputusannya menunjuk bek belia Lucas Herrington sebagai eksekutor.
“Sangat mudah mempertanyakan hal itu setelah hasil akhir diketahui. Jika anak itu mencetak gol, Anda pasti akan duduk di sini dan memuji betapa indahnya seorang remaja 18 tahun sukses mengeksekusi penalti,” pungkas Popovic, diliput oleh Fox Sports Australia.
Australia memang pulang lebih cepat, tetapi mereka meninggalkan kesan yang tidak kecil. Setelah lolos dari grup berat berisi Amerika Serikat, Paraguay, dan Turki, pasukan Tony Popovic mampu mengimbangi Mesir selama dua jam permainan.
Bagi publik Australia, kekalahan lewat adu penalti memang menyakitkan, tetapi keberanian pemain-pemain mudanya, terutama Lucas Herrington, memberikan secercah harapan bahwa masa depan Socceroos masih berada di jalur yang menjanjikan. (eza/mt)

