METROTODAY, AZTECA – Timnas Meksiko akhirnya memutus kutukan panjang di fase gugur Piala Dunia setelah menumbangkan Ekuador dengan skor meyakinkan 2-0 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6) waktu setempat.
Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung fanatik di Stadion Azteca, El Tri langsung membuka keunggulan pada menit ke-22 melalui penyelesaian keras Julian Quinones memanfaatkan umpan Roberto Alvarado.
Tak lama berselang, Raul Jimenez menggandakan keunggulan lewat sontekan tenang yang menjadi gol internasional ke-47 sepanjang kariernya.
Ekuador sempat mencoba bangkit selepas jeda, tetapi pertahanan disiplin Meksiko membuat mereka kesulitan menciptakan peluang berbahaya. Kemenangan 2-0 pun mengantar tuan rumah melaju ke babak 16 besar untuk melawan pemenang laga Inggris kontra DR Kongo.
Bagi publik Meksiko, kemenangan ini rasanya seperti meminum air segar di tengah gurun penantian yang gersang. Hasil gemilang ini resmi meruntuhkan nestapa malam-malam kelam selama empat dekade, di mana Meksiko selalu bernasib sial dan tersingkir beruntun di fase gugur Piala Dunia sejak terakhir kali merasakannya pada tahun 1968 silam.
Menghapus kutukan delapan kali eliminasi beruntun di babak krusial jelas membuat pesta tequila di Mexico City malam ini berlangsung hingga matahari terbit.
Tak heran, peluit panjang membuat pelatih Javier Aguirre menyebut hubungan emosional antara tim dan para pendukung menjadi bahan bakar utama kemenangan bersejarah tersebut.
Salah satu cerita menarik lahir dari penampilan Gilberto Mora. Dikabarkan oleh Reuters, gelandang muda berusia 17 tahun itu tampil tanpa rasa gugup di laga sebesar Piala Dunia dan mendapat tepuk tangan ketika ditarik keluar.
Catatan tersebut membuat Mora menjadi salah satu pemain termuda yang pernah tampil sebagai starter di fase gugur Piala Dunia sejak era legenda Brasil, Pelé.
Di sisi lain, frustrasi Ekuador memuncak menjelang laga usai ketika bek Piero Hincapié diganjar kartu merah, menutup malam yang pahit bagi wakil Amerika Selatan tersebut.
Bagi Ekuador, kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena mereka datang dengan kepercayaan diri tinggi usai menyingkirkan Jerman pada fase grup. Namun, permainan agresif Meksiko sejak awal membuat La Tri (julukan Ekuador) gagal menemukan ritme terbaiknya.
Seusai pertandingan, pelatih Sebastián Beccacece bahkan mengumumkan bahwa dirinya mengakhiri masa baktinya bersama Ekuador. Ia mengaku kecewa tidak mampu memenuhi target yang telah dijanjikan kepada masyarakat sepak bola negaranya.

