METROTODAY, HOUSTON – Hasil imbang 1-1 yang diraih Portugal saat menghadapi RD Kongo pada laga pembuka Grup K Piala Dunia 2026 ternyata menyisakan drama di luar lapangan.
Bukan hanya gempuran tim lawan yang menjadi perdebatan, tetapi juga gempuran serangan warganet yang ditujukan kepada sejumlah pemain Portugal.
Sasaran utamanya adalah gelandang-gelandang yang dianggap gagal memberikan cukup umpan kepada Cristiano Ronaldo sepanjang pertandingan.
Sorotan terbesar mengarah kepada Bruno Fernandes dan Joao Neves. Tak lama setelah pertandingan usai, kolom komentar Instagram keduanya dipenuhi ribuan pesan dari penggemar Ronaldo yang menilai sang kapten dibiarkan “kelaparan bola” selama 90 menit.
Beberapa komentar yang viral di antaranya berbunyi, “Berikan umpan kepada Ronaldo”, “Tolong respek ke pemain terbaik sedunia”, hingga “Kamu tak akan menjadi apa-apa tanpa Ronaldo.”
Menurut laporan media Portugal, komentar-komentar tersebut membanjiri unggahan terbaru para pemain Portugal dalam hitungan jam setelah laga usai.
Situasi semakin iba untuk Joao Neves. Pemain muda itu justru menjadi pencetak satu-satunya gol Quinas (julukan Portugal) ke gawang RD Kongo, dan meraih penghargaan pemain terbaik pertandingan.
Namun kontribusi tersebut tak cukup meredam amarah sebagian pendukung fanatik Ronaldo. Mirisnya, tak sedikit penggemar yang “menyenggol” kematian mendiang ibu Joao Neves dalam komentarnya.
Tak hanya Neves, tetapi kekasihnya, aktris Madalena Aragao, ikut menjadi sasaran komentar bernada kasar di media sosial. Banyak pengguna media sosial mempertanyakan mengapa pasangan Neves ikut diseret dalam perdebatan sepak bola yang semestinya hanya menyangkut performa di lapangan.
Media Portugal, A Bola, melaporkan bahwa bukan hanya Bruno Fernandes dan Joao Neves yang menjadi target. Nama-nama besar seperti Vitinha dan Pedro Neto juga mengalami hal serupa.
Mayoritas komentar menuding para pemain Portugal sengaja mengabaikan sang kapten ketika membangun serangan.
Menariknya, laporan tersebut menyebut sebagian besar komentar agresif ditulis dalam bahasa Inggris, yang mengindikasikan banyak pelaku bukan berasal dari Portugal melainkan penggemar internasional Ronaldo.
Kontroversi ini muncul setelah penampilan Ronaldo yang dinilai sebagian besar penggemar mengecewakan. Dalam laga melawan RD Kongo, penyerang Al-Nassr berusia 41 tahun itu gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasarn dan kesulitan bergerak di lini depan.
Statistik tersebut memicu kritik dari sejumlah analis dan pundit yang mulai mempertanyakan apakah Portugal terlalu bergantung kepada pemain yang telah menjalani Piala Dunia keenamnya tersebut.
Legenda sepak bola Prancis, Thierry Henry, termasuk salah satu sosok yang mengkritisi pendekatan Portugal.
Dalam analisisnya di FOX Sports, Henry menegaskan bahwa tujuan utama tim adalah mencetak gol, bukan sekedar melayani Ronaldo untuk menjadi pencetak gol.
Menurut Henry, beberapa situasi menyerang Portugal justru menjadi kurang efektif karena terlalu fokus mencari posisi Ronaldo di kotak penalti.
Perdebatan semakin memanas ketika saudari perempuan Ronaldo, Katia Aveiro, diketahui memberikan tanda suka pada unggahan media sosial yang mengkritisi Bruno Fernandes.
Tindakan itu memicu spekulasi mengenai adanya ketegangan internal di sekitar tim nasional Portugal, meski hingga kini tidak ada indikasi bahwa hubungan para pemain di ruang ganti mengalami keretakan.
Bagi Portugal, yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya bukanlah penampilan satu orang, melainkan performa satu tim di lapangan. Hasil imbang melawan RD Kongo membuat pasukan Roberto Martinez kehilangan dua poin penting dalam persaingan Grup K. (ezaar/mt)

