Categories: Fair Play

Jens Castrop Kaget dengan Budaya Senioritas di Timnas Korea Selatan

METROTODAY, SIDOARJO – Pemain kelahiran Jerman berdarah Korea, Jens Castrop, menjadi sorotan usai mengungkapkan pengalamannya bergabung dengan tim nasional Korea Selatan.

Dalam wawancara yang dipublikasikan media Jerman Kicker dan dikutip oleh The Korea Times, Castrop mengaku terkejut dengan budaya senioritas yang masih kuat di ruang ganti timnas Korea.

Castrop, yang baru pertama kali dipanggil ke skuad senior Korea Selatan pada Agustus 2025 setelah mendapat izin resmi FIFA untuk berganti asosiasi dari Jerman, menyebut ada perbedaan mencolok antara budaya sepak bola Eropa dan Asia Timur.

“Saya cukup terkejut dengan bagaimana para pemain muda harus selalu menunggu senior mereka di banyak hal seperti naik lift atau selesai makan. Itu hal yang tidak biasa bagi saya,” ujar Castrop seperti dikutip The Korea Times pada Kamis (7/10/2025).

Pernyataan Castrop sontak menjadi perbincangan panas di Korea Selatan. Sejumlah penggemar menilai komentar pemain Fortuna Düsseldorf itu menyinggung sistem hierarki yang sudah menjadi bagian dari budaya tim, sementara sebagian lainnya memuji keberaniannya berbicara terbuka tentang hal yang selama ini dianggap tabu.

Fenomena yang disebut “kkondae culture” istilah populer di Korea untuk menggambarkan sikap senior yang merasa lebih berkuasa atas junior memang kerap menjadi bahan perdebatan di dunia olahraga dan tempat kerja di negeri ginseng tersebut.

Meski begitu, beberapa mantan pemain timnas membela sistem itu sebagai bentuk penghormatan dan kedisiplinan.

“Kami tumbuh dengan budaya menghormati senior. Itu bukan soal tekanan, melainkan tentang menjaga etika dalam tim,” ujar salah satu eks pemain timnas kepada The Korea Times.

Castrop, yang lahir di Düsseldorf dan sempat memperkuat timnas Jerman U-21, kini menjadi pemain campuran pertama yang memperkuat timnas senior Korea Selatan.

Ia berharap bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan kontribusi maksimal bagi Taeguk Warriors di masa mendatang.

“Saya bangga bisa memakai seragam Korea Selatan. Meski ada perbedaan budaya, saya akan berusaha memahami semuanya demi tim,” pungkas Castrop seperti dikutip Reuters.

Polemik pernyataan Castrop kini memicu diskusi lebih luas tentang perlunya modernisasi budaya ruang ganti di sepakbola Korea apakah tetap mempertahankan tradisi, atau mulai membuka diri terhadap nilai-nilai baru yang lebih egaliter. (ervin/red)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Atasi Banjir di Surabaya Selatan, Pemkot Fokus Penyambungan Saluran dan Penyamaan Ketinggian Air

Penanganan banjir di wilayah Surabaya Selatan dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah kota menitikberatkan pada…

7 hours ago

Anas Karno Resmi Jabat Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Kota Surabaya

Anas Karno ditetapkan sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya dalam rapat paripurna yang digelar…

7 hours ago

Gantikan Adi Sutarwijono, Syaifuddin Zuhri Dilantik sebagai Ketua DPRD Surabaya, Fokus Optimalisasi Pendapatan Daerah

Syaifuddin Zuhri resmi dilantik dan mengucap sumpah jabatan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…

7 hours ago

Kelihaian Perempuan Mengubah Diam Menjadi Emas

KALIMAT yang diucapkan belum sepenuhnya tuntas. Tapi, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tak…

9 hours ago

Pakar: Pengelolaan Budaya Surabaya Dinilai Masih Fase Transisi

Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju…

1 day ago

KAI Uji Coba Biodiesel B50 di KA Sembrani, Performa Tetap Optimal di Jalur Surabaya – Jakarta

PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50…

1 day ago

This website uses cookies.