Categories: Bumi Aulia

Syaikh Makhdum Syarfin dari Tarik, Ulama Penghubung Kerajaan Majapahit dengan Nilai-Nilai Islam (2)

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Desa Kedungbocok dan sosok Syaikh Makhdum Syarfin diperkirakan sebagai titik temu antara sejarah Islam dan pra-Islam di Jawa Timur. Syaikh Makhdum Syarfin bisa dibilang sebagai figur tokoh yang berkontribusi besar bagi wilayah Kecamatan Tarik.

Banyak sumber menyebutkan bahwa Syaikh Makhdum Syarfin bukan asli warga setempat. Ia berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Tidak diketahui pasti, mengapa dia sampai ke kawasan Kedungbocok itu. Namun, dalam berbagai cerita penyebaran Islam, banyak ulama yang memang memilih berkelana untuk menyebarkan ajaran agama. Makhdum Syarfin bisa jadi salah satu sosok tersebut.

Saat itu, Kedungbocok adalah wilayah cikal bakal Majapahit. Wilayahnya tak jauh dari kawasan hutan Tarik, tempat di mana Majapahit kali pertama didirikan. Tidak mengherankan, di Tarik terdapat situs Paseban yang diyakini sebagai tempat pertapaan Raden Wijaya, menantu Raja Singasari Kertanegara. Situs ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Selain itu, ada juga situs Alas Trik yang baru terungkap pada 2017. Situs Alas Trik sendiri berupa bangunan gapura luar yang diyakini warga sebagai tempat Raden Wijaya pernah tinggal serta mengatur siasat.

Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, Hindu-Budha adalah agama mayoritas. Agama Islam sudah masuk sebagai minoritas. Namun, para pemeluk agama-agama tersebut dapat hidup rukun berdampingan.

Setelah Majapahit runtuh, penyebaran Islam makin meluas. Bahkan, kerajaan-kerajaan Islam baru juga banyak berdiri. Di antaranya Pajang dan Mataram. Runtuhnya kebesaran Majapahit dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam baru tersebut memicu perubahan sosial dan politik, serta peralihan kepercayaan masyarakat.

Menurut warga, Islam diterima masyarakat Kedungbocok karena mempunyai banyak daya tarik. Di antaranya, syarat masuk yang mudah, upacara keagamaan sederhana, pengaruh faktor politik, tidak ada sistem kasta, dan penyebarannya dilakukan dengan damai.

Warga Kedungbocok memperkirakan, dalam kondisi itulah Syaikh Makhdum Syarfin sangat berperan. Beliau tidak sekadar sebagai pengajar agama. Namun, lebih dari itu, beliau adalah sesepuh desa yang dihormati. Sesepuh dimaknai sebagai sosok yang memiliki peran lebih dalam daripada sekadar penyebar ajaran agama.

Agus Suyitno, seorang warga Kedungbocok, dikenal sebagai keturunan dari Syaikh Makhdum Syarfin. Dia mengatakan bahwa peran kakek-buyutnya itu juga tak lepas dari namanya.

’’Nama Makhdum disematkan pada nama Mbah Syarfin tentu tak lepas dari peran penting beliau. Makhdum itu kan artinya berbagi kebaikan atau ingin menyejahterakan,” terang Agus Suyitno. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Naufal

Recent Posts

Meski Lawan Kasta Kedua, Persebaya Tak Ingin Lengah Hadapi PSMS Medan

Usai meraih kemenangan tipis 1-0 atas Persija Jakarta pada laga perdana Grup B Piala Presiden…

2 hours ago

Pelaku Terduga Pungli di CFD Bungkul dan Tambak Wedi Datangi Wali Kota Surabaya, Minta Maaf dan Mengaku

Dua pihak yang menjadi sorotan publik dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) di Surabaya telah…

2 hours ago

Penyembelihan Unggas di Surabaya Wajib di Rumah Potong Unggas Berizin, Demi Daging ASUH sebelum Diperdagangkan

Penataan perdagangan unggas di Pasar Baba'an Baru dan Pasar Wonokromo segera diberlakukan. Aturan pokok yang…

7 hours ago

Selama Sewanya Sah, Alamat Kos dan Kontrakan Bisa Dipakai Domisili Kependudukan di Surabaya

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Surabaya menegaskan ketentuan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor…

7 hours ago

Sidoarjo Terbaik Kedua Jatim dalam Perlindungan Anak, Ruang Digital Jadi Tantangan Baru

Komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi anak kembali menuai…

8 hours ago

Hadapi Persebaya di Piala Presiden 2026, Pelatih PSMS Medan Ubah Strategi Pasca Kekalahan dari Port FC

Menghadapi laga kedua Grup B Piala Presiden 2026 melawan Persebaya Surabaya, Rabu (29/7) malam, PSMS…

8 hours ago

This website uses cookies.