Categories: Bumi Aulia

Meneladani Ulama Sufi Mbah Sahlan Tholib dari Sidoarjo; Amalkan Sabar, Ngalah, Loman, Neriman, Akas, Temen (2)

Pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Laku spiritual Mbah Sahlan dipenuhi dengan nilai-nilai kesufian. Hal itu sudah dijalani sejak masih mondok. Berpuasa setiap hari, sabar, terus bersholawat, hingga mendermakan hartanya tidak luput dalam amaliyah keseharian beliau.

Di Pesantren Bahrul Ulum, Mbah Sahlan menanak nasi hingga berkuintal-kuintal beras setiap hari. Nasi itu tidak hanya untuk para santri, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Diceritakan oleh Gus Yunus, suatu ketika Mbah Sahlan berdakwah di daerah Gresik selatan, lalu ada orang yang memberi beliau bisyarah (honor). Mbah Sahlan menerima dan menggunakan bisyarah tersebut untuk membeli beras. Dalam perjalanan kembali ke Sidorangu, setiap menemukan orang yang membutuhkan, Mbah Sahlan memberinya beras.

”Jadi, ketika tiba di rumah sudah tidak membawa apa-apa. Punya uang sedikit langsung dikasihkan orang. Bahkan, beliau tidak memikirkan dirinya sendiri,” kata Gus Yunus mengisahkan nilai-nilai yang diterapkan Mbah Sahlan.

Setiap hari selalu ada peziarah yang datang ke makam K.H Sahlan Tholib di Sidorangu, Watugolong, Krian, Sidoarjo. (Dite Surendra)

Dalam kisah yang lain, Mbah Sahlan menguji salah satu muridnya, Abah Thoyib, dari Sumengko, Wringinanom, Gresik. Kala itu, Abah Thoyib terbilang memiliki status sosial yang lumayan dan dihormati di tengah masyarakat. Namun, oleh Mbah Sahlan, Abah Thoyib diminta untuk meninggalkan kekayaan maupun jabatannya. Abah Thoyib pun mengikuti apa yang diajarkan oleh sang guru dengan riyadloh dan mendermakan hartanya di jalan agama.

Sabar, ngalah, loman, neriman, akas, dan temen (sabar, suka mengalah, ringan tangan suka memberi, menerima, giat, dan bersungguh-sungguh) menjadi ciri laku Mbah Sahlan. Sifat tersebut sebenarnya sudah tampak sejak beliau mondok dan menjadi karamah beliau. Dikisahkan Gus Yunus, semasa di Pondok Siwalanpanji, misalnya, Mbah Sahlan sangat menjaga kebersihan pakaiannya. Suatu ketika, Mbah Sahlan mendapat perlakuan jahil dari teman-temannya. Pakaian yang sudah dicuci dan dijemur dikotori teman-temannya.

Mbah Sahlan tidak membalas. Beliau mencuci kembali dan menjemur lagi pakaiannya. Namun, kejahilan teman-temannya itu dilakukan berulang-ulang. Hingga batas tertentu, Mbah Sahlan tetap tidak membalas. Tetapi, beliau memohon pertolongan kepada Allah SWT atas apa yang dialaminya tersebut.

Setelah itu, Mbah Sahlan melambai pada sebuah pohon bambu yang tinggi. Bambu tersebut seperti merunduk sehingga Mbah Sahlan bisa menjemur pakaiannya. Setelah itu, bambu kembali tegak sehingga jemuran berada pada posisi yang tinggi. Teman-teman yang semula usil akhirnya hanya bisa terdiam menyaksikannya.

Pada kisah yang lain, ada petani yang lahan garapannya tidak menghasilkan karena hama dan gangguan lainnya. Sisa-sisa dari lahan tersebut kemudian dibawa ke Sidorangu, kediaman Mbah Sahlan. Petani tersebut minta berkah kepada Mbah Sahlan. Tak disangka, usaha petani itu kemudian berhasil. Hasil panennya melimpah-ruah.

Suatu ketika Mbah Sahlan datang ke rumah petani tersebut. Tetangga si petani yang mengetahuinya kemudian menyebut, ”Kae lo dukune wis teko (itu lho dukunnya sudah datang).”

Mbah Sahlan dianggap dukun oleh tetangga si petani. Tak ayal, hal itu membuat si petani merasa sungkan terhadap Mbah Sahlan, lalu meminta maaf pada beliau.

Tapi, Mbah Sahlan dengan segala ke-tawadhu-annya tidak merespons. ”Gak popo, mene lak nyingkrih-nyingkrih dewe (Tidak apa-apa. Besok kan menyingkir sendiri),” begitu jawaban Mbah Sahlan seperti diceritakan Gus Yunus.

Apa yang terjadi setelahnya? Ternyata benar apa yang disampaikan Mbah Sahlan. Tidak lama setelah itu, tetangga si petani tersebut meninggal dunia dan tidak lama setelah itu pula rumahnya terjual.

Begitulah laku batin Mbah Sahlan yang penyabar dan tidak membalas segala cacian atau hal yang tidak menyenangkan terhadap dirinya. Namun, biasanya keajaiban langsung muncul tak lama setelah itu. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Naufal

Recent Posts

Mafia Tanah Mengintai Kota, Kita Bisa Apa (2): Sertifikat Lama Tiba-Tiba “Tertimpa” Sertifikat Baru

Mafia tanah tidak asal bekerja. Modus yang mereka lakukan rapi dan canggih. Bahkan, mereka bisa…

16 minutes ago

SMSI Desak Wujudkan Kedaulatan Digital Nasional

Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) secara resmi menyampaikan sikap organisasi terhadap Agreement on Reciprocal Trade…

8 hours ago

Tangis Nabillah O’Brien dan Rasa Keadilan Hukum Digital

Kasus Nabillah seakan menunjukkan bahwa hukum gagal menunjukkan sikapnya yang fairness. Sebab, posisi Nabillah sebagai…

8 hours ago

MUFWAY 2026 Usung Tema “Exotic Jordan”, 19 Desainer Tampilkan Koleksi Modest Fashion

Ajang Muslim Fashion Runway (MUFWAY) memasuki tahun penyelenggaraan ke-6. Pada 2026, event modest fashion itu…

17 hours ago

Mafia Tanah Mengintai Kota, Kita Bisa Apa (1): Modus Beragam, Warga Harus Waspada

Harga tanah terus melonjak dari tahun ke tahun. Di satu sisi, fenomena tersebut menguntungkan masyarakat…

1 day ago

Catat! Mulai 28 Maret, Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun

Mulai 28 Maret 2026, pemerintah akan melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak usia di…

1 day ago

This website uses cookies.