5 March 2026, 4:39 AM WIB

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (10): Tujuh Liang Lahat Sambut Jenazah Mbah Ud dan Petunjuk Kiai Hamid

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud wafat pada Selasa Pahing tanggal 10 Juni 1980, bertepatan dengan 26 Rajab 1401 Hijriah. Dia meninggal di rumah istri terakhirnya, Nyai Dewi Maryam, di Daleman, Sidoarjo. Mbah Ud dimakamkan pada Rabu Pon tanggal 11 Juni 1980 atau 27 Rajab 1401 H bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj.

Beberapa saat sebelum wafat, Mbah Ud sempat menyampaikan beberapa isyarat atau firasat kepada keluarganya.

Antara lain seperti disampaikan Hj. Lilik Khurrotin, keponakannya dari sang kakak, Hj Masrifah. Saat mengunjungi Mbah Ud di rumah istrinya Nyai Dewi di Daleman, Mbah Ud mengatakan bahwa dirinya sudah pulang dan tidak akan pergi-pergi lagi.

“Aku wis gak lungo lungo maneh, aku neng kene (Aku sudah tidak pergi pergi lagi, di sini saja, Red),” katanya

Mbah Ud juga beberapa kali mengatakan bahwa akan ada pesawat terbang yang turun ke rumahnya. ”Ono montor muluk mudun, onok montor muluk mudun (Ada pesawat terbang turun, Red).”

Tak berapa lama setelah berdiam di rumah Nyai Dewi, Mbah Ud benar-benar mengembuskan napas terakhirnya di usia sekitar 72 tahun.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat yang mengenalnya sebagai tokoh ulama kharismatik yang ringan tangan dan suka menolong dengan karomah yang dimilikinya.

Namun, sempat terjadi perdebatan saat keluarga akan memakamkan beliau. Sebab, total ada tujuh liang lahat yang disiapkan untuk menerima jasad K.H. Ali Mas’ud yang hendak dikebumikan.

Ketujuh liang lahat itu antara lain: di makam keluarga Daleman (rumah Nyai Dewi), di Pagerwojo (dekat dengan makam keluarga), di Kedungcangkring (dekat kediaman istri kelimanya, Nyai Ning Qomariyah), di Pasuruan (keinginan keluarga di Pasuruan), Majelis Taklim Ali Mas’ud dan Masjid Jamik Sidoarjo (tempat almarhum berkegiatan semasa hidup) serta liang lahat yang disiapkan di makam keramat Mbah Ahmad di Sidoarjo.

Karena adanya perdebatan ini, K.H. Romli Syarief sebagai kiai kharismatik di Desa Minggir, Larangan, Sidoarjo, akhirnya menyarankan pihak keluarga sowan dan meminta petunjuk kepada Mbah Hamid atau K.H. Abdul Hamid di Pasuruan.

WhatsApp Image 2026-02-23 at 09.47.21
Makam Mbah Ud atau K.H. Ali Mas’ud terletak di kompleks makam desa Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo. (Foto: Dite Surendra/Metrotoday)

Mbah Hamid dikenal dekat dengan Mbah Ud semasa hidup. Selain itu, juga ada keyakinan yang menyebutkan bahwa, “Tidak ada yang mengetahui kewalian seseorang kecuali wali, atau la ya’riful wali illal wali.”

Setelah keluarga menghadap ke Mbah Hamid di Pasuruan, kiai sepuh ini mengakui bahwa Mbah Ud pernah menyampaikan kepadanya agar dirinya kelak dimakamkan di dekat ibundanya.

Mbah Hamid menegaskan petunjuknya tersebut dengan menukil salah satu Hadits yang menyebutkan: “Ummuka, ummuka, ummuka” atau “Ibumu, ibumu, ibumu,” ketika Nabi ditanya seorang sahabat tentang siapa yang harus dimuliakannya lebih dulu. Mbah Hamid juga menyatakan akan hadir dalam pemakaman sahabatnya itu.

Atas petunjuk itu, pihak keluarga pun sepakat memakamkan Mbah Ud di dekat makam ibunya Nyai Hj. Fatma di Pagerwojo, Sidoarjo. Apalagi di kompleks pemakaman desa itu, tak hanya ibunya yang dimakamkan di sana. Ada juga sang kakak, Nyai Masrifah, dan paman, Kiai Hasyim

Selanjutnya, diaturlah prosesi pemakaman dari Daleman ke Pagerwojo pada keesokan harinya.

Rute perjalanan dari Daleman ke Masjid Agung Sidoarjo untuk disholatkan, kemudian jenazah disemayamkan beberapa saat di rumah ibunya. Kemudian diantar ke makam Pagerwojo.

Yang menarik, keranda jenazah Mbah Ud berganti sampai tiga kali. Sebab di setiap pemberhentian selalu disiapkan keranda baru untuk membawa jenazah almarhum.

Wafatnya Mbah Ud meninggalkan kesedihan mendalam bagi umat dan orang orang yang pernah merasakan langsung interaksi dengan dirinya.

Ratusan ribu orang menyemut di sepanjang rute perjalanan jenazah untuk mengantar Waliyullah agung yang banyak berjasa dan memberi pertolongan kepada umat itu.

Dikisahkan Bu Nunuk (cucu keponakan Mbah Ud), saat itu langit mendung seakan ikut berduka dengan kepergian almarhum.

Ribuan orang bergantian mengikuti salat jenazah untuk mendoakan almarhum. Bahkan di Alun Alun Sidoarjo yang berdekatan dengan Masjid Jamik, ribuan motor dan sepeda pancal tampak diparkir memenuhi sudut sudut jalan dan lapangan saat jenazah almarhum disemayamkan untuk disalati.

Sepanjang rute perjalanan sekitar 2 jam itu, ribuan massa tumpah di jalan hingga menutup perlintasan rel. Anehnya, tak ada satu pun kereta yang lewat. “Banyak sandal dan kopiah jamaah yang jatuh berceceran di jalan, juga tidak ada yang mengambil,” katanya. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud wafat pada Selasa Pahing tanggal 10 Juni 1980, bertepatan dengan 26 Rajab 1401 Hijriah. Dia meninggal di rumah istri terakhirnya, Nyai Dewi Maryam, di Daleman, Sidoarjo. Mbah Ud dimakamkan pada Rabu Pon tanggal 11 Juni 1980 atau 27 Rajab 1401 H bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj.

Beberapa saat sebelum wafat, Mbah Ud sempat menyampaikan beberapa isyarat atau firasat kepada keluarganya.

Antara lain seperti disampaikan Hj. Lilik Khurrotin, keponakannya dari sang kakak, Hj Masrifah. Saat mengunjungi Mbah Ud di rumah istrinya Nyai Dewi di Daleman, Mbah Ud mengatakan bahwa dirinya sudah pulang dan tidak akan pergi-pergi lagi.

“Aku wis gak lungo lungo maneh, aku neng kene (Aku sudah tidak pergi pergi lagi, di sini saja, Red),” katanya

Mbah Ud juga beberapa kali mengatakan bahwa akan ada pesawat terbang yang turun ke rumahnya. ”Ono montor muluk mudun, onok montor muluk mudun (Ada pesawat terbang turun, Red).”

Tak berapa lama setelah berdiam di rumah Nyai Dewi, Mbah Ud benar-benar mengembuskan napas terakhirnya di usia sekitar 72 tahun.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat yang mengenalnya sebagai tokoh ulama kharismatik yang ringan tangan dan suka menolong dengan karomah yang dimilikinya.

Namun, sempat terjadi perdebatan saat keluarga akan memakamkan beliau. Sebab, total ada tujuh liang lahat yang disiapkan untuk menerima jasad K.H. Ali Mas’ud yang hendak dikebumikan.

Ketujuh liang lahat itu antara lain: di makam keluarga Daleman (rumah Nyai Dewi), di Pagerwojo (dekat dengan makam keluarga), di Kedungcangkring (dekat kediaman istri kelimanya, Nyai Ning Qomariyah), di Pasuruan (keinginan keluarga di Pasuruan), Majelis Taklim Ali Mas’ud dan Masjid Jamik Sidoarjo (tempat almarhum berkegiatan semasa hidup) serta liang lahat yang disiapkan di makam keramat Mbah Ahmad di Sidoarjo.

Karena adanya perdebatan ini, K.H. Romli Syarief sebagai kiai kharismatik di Desa Minggir, Larangan, Sidoarjo, akhirnya menyarankan pihak keluarga sowan dan meminta petunjuk kepada Mbah Hamid atau K.H. Abdul Hamid di Pasuruan.

WhatsApp Image 2026-02-23 at 09.47.21
Makam Mbah Ud atau K.H. Ali Mas’ud terletak di kompleks makam desa Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo. (Foto: Dite Surendra/Metrotoday)

Mbah Hamid dikenal dekat dengan Mbah Ud semasa hidup. Selain itu, juga ada keyakinan yang menyebutkan bahwa, “Tidak ada yang mengetahui kewalian seseorang kecuali wali, atau la ya’riful wali illal wali.”

Setelah keluarga menghadap ke Mbah Hamid di Pasuruan, kiai sepuh ini mengakui bahwa Mbah Ud pernah menyampaikan kepadanya agar dirinya kelak dimakamkan di dekat ibundanya.

Mbah Hamid menegaskan petunjuknya tersebut dengan menukil salah satu Hadits yang menyebutkan: “Ummuka, ummuka, ummuka” atau “Ibumu, ibumu, ibumu,” ketika Nabi ditanya seorang sahabat tentang siapa yang harus dimuliakannya lebih dulu. Mbah Hamid juga menyatakan akan hadir dalam pemakaman sahabatnya itu.

Atas petunjuk itu, pihak keluarga pun sepakat memakamkan Mbah Ud di dekat makam ibunya Nyai Hj. Fatma di Pagerwojo, Sidoarjo. Apalagi di kompleks pemakaman desa itu, tak hanya ibunya yang dimakamkan di sana. Ada juga sang kakak, Nyai Masrifah, dan paman, Kiai Hasyim

Selanjutnya, diaturlah prosesi pemakaman dari Daleman ke Pagerwojo pada keesokan harinya.

Rute perjalanan dari Daleman ke Masjid Agung Sidoarjo untuk disholatkan, kemudian jenazah disemayamkan beberapa saat di rumah ibunya. Kemudian diantar ke makam Pagerwojo.

Yang menarik, keranda jenazah Mbah Ud berganti sampai tiga kali. Sebab di setiap pemberhentian selalu disiapkan keranda baru untuk membawa jenazah almarhum.

Wafatnya Mbah Ud meninggalkan kesedihan mendalam bagi umat dan orang orang yang pernah merasakan langsung interaksi dengan dirinya.

Ratusan ribu orang menyemut di sepanjang rute perjalanan jenazah untuk mengantar Waliyullah agung yang banyak berjasa dan memberi pertolongan kepada umat itu.

Dikisahkan Bu Nunuk (cucu keponakan Mbah Ud), saat itu langit mendung seakan ikut berduka dengan kepergian almarhum.

Ribuan orang bergantian mengikuti salat jenazah untuk mendoakan almarhum. Bahkan di Alun Alun Sidoarjo yang berdekatan dengan Masjid Jamik, ribuan motor dan sepeda pancal tampak diparkir memenuhi sudut sudut jalan dan lapangan saat jenazah almarhum disemayamkan untuk disalati.

Sepanjang rute perjalanan sekitar 2 jam itu, ribuan massa tumpah di jalan hingga menutup perlintasan rel. Anehnya, tak ada satu pun kereta yang lewat. “Banyak sandal dan kopiah jamaah yang jatuh berceceran di jalan, juga tidak ada yang mengambil,” katanya. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait