Waspada Hingga 2 Minggu ke Depan, Diprediksi Minimal 3 Kali Gempa Susulan Magnitudo 6 di NTT

METROTODAY, SURABAYA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), disusul gempa berkekuatan di atas magnitudo 6 di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah dalam waktu yang berdekatan.

Menanggapi rangkaian peristiwa tersebut, pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan hingga dua minggu ke depan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS ini menjelaskan bahwa Indonesia secara alamiah berada di zona tektonik kompleks dan jalur Ring of Fire, sehingga gempa bumi memang kerap terjadi. Namun, hal ini belum tentu berarti saling berkaitan.

“Namun, gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” paparnya, Rabu (19/8).

Kadek, yang juga dosen Departemen Teknik Geofisika ITS, menjelaskan bahwa ketiga gempa yang melanda NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah bersumber dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda. Analisis cepat menunjukkan probabilitas keterkaitan ketiganya sangat kecil.

“Gempa secara beruntun umumnya terpicu apabila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8,” terangnya.

Khusus untuk gempa di wilayah Flores, ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut dilintasi oleh Sesar Flores Back-Arc Thrust sesar aktif yang juga memicu gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada tahun 1992.

“Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan bahwa sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,” jelasnya.

Pascagempa utama, Kadek mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gempa susulan (aftershock) yang timbul akibat penyesuaian sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama. Kekuatan gempa susulan umumnya akan terus menurun seiring berjalannya waktu, namun tetap perlu diantisipasi.

“Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” ungkapnya.

Ia mengimbau tim relawan, petugas evakuasi, tim asesmen bangunan, serta masyarakat terdampak untuk tetap siaga selama dua minggu ke depan. Asesmen fisik bangunan sangat penting dilakukan guna memastikan ketahanan struktur. Warga disarankan tetap berada di tempat evakuasi yang aman apabila hunian masih menunjukkan keretakan yang berisiko. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), disusul gempa berkekuatan di atas magnitudo 6 di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah dalam waktu yang berdekatan.

Menanggapi rangkaian peristiwa tersebut, pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan hingga dua minggu ke depan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS ini menjelaskan bahwa Indonesia secara alamiah berada di zona tektonik kompleks dan jalur Ring of Fire, sehingga gempa bumi memang kerap terjadi. Namun, hal ini belum tentu berarti saling berkaitan.

“Namun, gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” paparnya, Rabu (19/8).

Kadek, yang juga dosen Departemen Teknik Geofisika ITS, menjelaskan bahwa ketiga gempa yang melanda NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah bersumber dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda. Analisis cepat menunjukkan probabilitas keterkaitan ketiganya sangat kecil.

“Gempa secara beruntun umumnya terpicu apabila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8,” terangnya.

Khusus untuk gempa di wilayah Flores, ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut dilintasi oleh Sesar Flores Back-Arc Thrust sesar aktif yang juga memicu gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada tahun 1992.

“Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan bahwa sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,” jelasnya.

Pascagempa utama, Kadek mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gempa susulan (aftershock) yang timbul akibat penyesuaian sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama. Kekuatan gempa susulan umumnya akan terus menurun seiring berjalannya waktu, namun tetap perlu diantisipasi.

“Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” ungkapnya.

Ia mengimbau tim relawan, petugas evakuasi, tim asesmen bangunan, serta masyarakat terdampak untuk tetap siaga selama dua minggu ke depan. Asesmen fisik bangunan sangat penting dilakukan guna memastikan ketahanan struktur. Warga disarankan tetap berada di tempat evakuasi yang aman apabila hunian masih menunjukkan keretakan yang berisiko. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait