70 Persen Wabah Baru dari Hewan, Surabaya Perkuat Pencegahan Zoonosis Termasuk Leptospirosis dan Rabies

METROTODAY, SURABAYA – Sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi wabah berasal dari hewan.

Menjawab ancaman itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Kementerian Kesehatan, Portkesmas, Pokja RCCE, dan berbagai pihak menggelar lokakarya edukasi pencegahan penyakit zoonosis di Puskesmas Medokan Ayu, 21–22 Juli 2026.

Kegiatan ini memperkuat sistem pantauan, koordinasi, dan sosialisasi agar wabah bisa dicegah sejak dini.

Kepala Bidang P2P Dinkes Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, menjelaskan dalam lima tahun terakhir Surabaya bebas suspek flu burung dan antraks, namun kasus leptospirosis serta gigitan hewan penular rabies (GHPR) masih berfluktuasi.

Tahun 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR; hingga pekan ke-27 2026 tercatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.

“Kesiapsiagaan kunci utama. Kami terus perkuat surveilans, koordinasi dengan kesehatan hewan dan lingkungan, serta edukasi masyarakat,” ujarnya Rabu (22/7).

Musim hujan mendekat, dr. Atiek mengingatkan risiko leptospirosis dari air terkontaminasi urin tikus.

“Tikus suka tempat kotor dan lembap. Jika urinnya terkena kulit luka, bakteri masuk. Pakai alas kaki tertutup di genangan, cuci tangan rutin, dan segera berobat jika demam tinggi disertai nyeri badan tanpa batuk-pilek, apalagi gangguan buang air kecil,” jelasnya.

Meskipun Surabaya bukan wilayah endemis rabies, warga tetap diminta segera ke fasilitas kesehatan jika digigit atau dicakar hewan.

Perwakilan Bidang Kesehatan Hewan drh. Wafiroh menambahkan rabies dicegah dengan vaksinasi hewan peliharaan rutin tiap tahun.

Unggas sakit atau mati mendadak jangan disentuh atau dikonsumsi; daging dan telur harus matang sempurna.

Sementara ternak sakit atau mati mendadak jangan disembelih dan segera lapor dinas terkait untuk cegah antraks.

Program Manager Portkesmas dr. Basra Ahmad Amru menekankan koordinasi lintas sektor jadi fondasi tanggul cepat dan terpadu.

Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menambahkan pesan yang benar, sederhana, dan menyeluruh didukung tokoh masyarakat dan media mendorong warga melindungi diri sendiri. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi wabah berasal dari hewan.

Menjawab ancaman itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Kementerian Kesehatan, Portkesmas, Pokja RCCE, dan berbagai pihak menggelar lokakarya edukasi pencegahan penyakit zoonosis di Puskesmas Medokan Ayu, 21–22 Juli 2026.

Kegiatan ini memperkuat sistem pantauan, koordinasi, dan sosialisasi agar wabah bisa dicegah sejak dini.

Kepala Bidang P2P Dinkes Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, menjelaskan dalam lima tahun terakhir Surabaya bebas suspek flu burung dan antraks, namun kasus leptospirosis serta gigitan hewan penular rabies (GHPR) masih berfluktuasi.

Tahun 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR; hingga pekan ke-27 2026 tercatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.

“Kesiapsiagaan kunci utama. Kami terus perkuat surveilans, koordinasi dengan kesehatan hewan dan lingkungan, serta edukasi masyarakat,” ujarnya Rabu (22/7).

Musim hujan mendekat, dr. Atiek mengingatkan risiko leptospirosis dari air terkontaminasi urin tikus.

“Tikus suka tempat kotor dan lembap. Jika urinnya terkena kulit luka, bakteri masuk. Pakai alas kaki tertutup di genangan, cuci tangan rutin, dan segera berobat jika demam tinggi disertai nyeri badan tanpa batuk-pilek, apalagi gangguan buang air kecil,” jelasnya.

Meskipun Surabaya bukan wilayah endemis rabies, warga tetap diminta segera ke fasilitas kesehatan jika digigit atau dicakar hewan.

Perwakilan Bidang Kesehatan Hewan drh. Wafiroh menambahkan rabies dicegah dengan vaksinasi hewan peliharaan rutin tiap tahun.

Unggas sakit atau mati mendadak jangan disentuh atau dikonsumsi; daging dan telur harus matang sempurna.

Sementara ternak sakit atau mati mendadak jangan disembelih dan segera lapor dinas terkait untuk cegah antraks.

Program Manager Portkesmas dr. Basra Ahmad Amru menekankan koordinasi lintas sektor jadi fondasi tanggul cepat dan terpadu.

Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menambahkan pesan yang benar, sederhana, dan menyeluruh didukung tokoh masyarakat dan media mendorong warga melindungi diri sendiri. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait