Starmer Angkat Koper dari Downing Street, Andy Burnham Bersiap Jadi Nahkoda Baru Inggris

METROTODAY, LONDON – Kejutan mengguncang politik Inggris. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, resmi mengumumkan pengunduran diri sebagai pemimpin pemerintahan sekaligus Ketua Partai Buruh (Labour Party).

Keputusan itu diambil kurang dari dua tahun setelah ia membawa Partai Buruh meraih kemenangan telak pada pemilu 2024 dan mengakhiri 14 tahun rezim Partai Konservatif.

Starmer menyatakan akan tetap menjalankan tugas sebagai Perdana Menteri hingga partainya memilih pengganti agar proses transisi berlangsung tertib.

Dalam pidato di depan kediaman resmi perdana menteri Inggris di 10 Downing Street, Westminster, London, Starmer menegaskan pengunduran dirinya dilakukan demi kepentingan partai dan negara.

Seperti yang dilaporkan oleh Le Monde, ia mengakui Inggris membutuhkan kepemimpinan baru untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Meski tidak menyebut dirinya gagal, Starmer mengatakan transisi yang teratur akan memberi kesempatam bagi pemerintahan Partai Buruh untuk memulihkan kepercayaan publik menjelang agenda politik penting beberapa bulan ke depan.

Keputusan tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Selama beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap Starmer terus meningkat setelah popularitas pemerintahannya merosot tajam.

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh mempertanyakan visi kepemimpinannya menyusul hasil mengecewakan dalam pemilihan lokal, berbagai kebijakan ekonomi dan kesejahteraan yang memanen kritik, serta munculnya kembali Partai Reformasi UK pimpinan Nigel Farage sebagai saingan politik yang menggerus dukungan Labour.

Di internal partai, The Guardian mengabarkan, banyak anggota kabinet yang menilai komunikasi politik Starmer kurang efektif dan berujung gagal membangun kembali antusiasme pemilih.

Pengamat politik menilai pengunduran diri Starmer merupakan konsekuensi dari hilangnya dukungan internal.

Survei cepat yang dilakukan setelah pengumuman tersebut bahkan menunjukkan sekitar separun warga Inggris menganggap keputusan Starmer untuk mundur merupakan langkah yang tepat, mencerminkan tingkat kerendahan kepuasan publik terhadap pemerintahannya.

Kini perhatian beralih kepada sosok yang hampir dipastikan menggantikannya, yakni Andy Burnham. Politikus berusia 56 tahun itu dikenal sebagai mantan Menteri Kesehatan Inggris era kabinet pemerintahan Gordon Brown, sebelum menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester sejak 2017.

Burnham membangun reputasi sebagai pemimpin daerah yang vocal memperjuangkan pendanaan layanan publik, transportasi, hingga kesehatan masyarakat, sehingga namanya kerap disebut sebagai sosok yang paling populer di Partai Buruh.

Peluang Burnham menuju Downing Street semakin terbuka setelah banyak tokoh senior Labour Party memberikan dukungan.

Mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting bahkan memutuskan tidak maju dalam pemilihan ketua partai dan memilih mendukung Burnham.

Dengan dukungan anggota parlemen serta serikat pekerja yang kuat, Burnham diperkirakan dapat memenangkan kontender kepemimpinan tanpa persaingan berarti dan mulai menjabat sebagai perdana menteri pada pertengahan Juli mendatang.

Apabila resmi terpilih, Burnham akan diwarisi sejumlah pekerjaan rumah berat. Ia harus memulihkan elektabilitas Partai Buruh, meredam perpecahan internal, mengatasi persoalan ekonomi yang masih membayang Inggris, serta menghadapi tantangan politik dari Partai Reformasi UK yang terus menguat.

Burnham juga dituntut menjaga hubungan Inggris dengan Uni Eropa dan sekutu Barat di tengah situasi geopolitik yang masih tidak menentu arah. (eza/mt)

METROTODAY, LONDON – Kejutan mengguncang politik Inggris. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, resmi mengumumkan pengunduran diri sebagai pemimpin pemerintahan sekaligus Ketua Partai Buruh (Labour Party).

Keputusan itu diambil kurang dari dua tahun setelah ia membawa Partai Buruh meraih kemenangan telak pada pemilu 2024 dan mengakhiri 14 tahun rezim Partai Konservatif.

Starmer menyatakan akan tetap menjalankan tugas sebagai Perdana Menteri hingga partainya memilih pengganti agar proses transisi berlangsung tertib.

Dalam pidato di depan kediaman resmi perdana menteri Inggris di 10 Downing Street, Westminster, London, Starmer menegaskan pengunduran dirinya dilakukan demi kepentingan partai dan negara.

Seperti yang dilaporkan oleh Le Monde, ia mengakui Inggris membutuhkan kepemimpinan baru untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Meski tidak menyebut dirinya gagal, Starmer mengatakan transisi yang teratur akan memberi kesempatam bagi pemerintahan Partai Buruh untuk memulihkan kepercayaan publik menjelang agenda politik penting beberapa bulan ke depan.

Keputusan tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Selama beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap Starmer terus meningkat setelah popularitas pemerintahannya merosot tajam.

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh mempertanyakan visi kepemimpinannya menyusul hasil mengecewakan dalam pemilihan lokal, berbagai kebijakan ekonomi dan kesejahteraan yang memanen kritik, serta munculnya kembali Partai Reformasi UK pimpinan Nigel Farage sebagai saingan politik yang menggerus dukungan Labour.

Di internal partai, The Guardian mengabarkan, banyak anggota kabinet yang menilai komunikasi politik Starmer kurang efektif dan berujung gagal membangun kembali antusiasme pemilih.

Pengamat politik menilai pengunduran diri Starmer merupakan konsekuensi dari hilangnya dukungan internal.

Survei cepat yang dilakukan setelah pengumuman tersebut bahkan menunjukkan sekitar separun warga Inggris menganggap keputusan Starmer untuk mundur merupakan langkah yang tepat, mencerminkan tingkat kerendahan kepuasan publik terhadap pemerintahannya.

Kini perhatian beralih kepada sosok yang hampir dipastikan menggantikannya, yakni Andy Burnham. Politikus berusia 56 tahun itu dikenal sebagai mantan Menteri Kesehatan Inggris era kabinet pemerintahan Gordon Brown, sebelum menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester sejak 2017.

Burnham membangun reputasi sebagai pemimpin daerah yang vocal memperjuangkan pendanaan layanan publik, transportasi, hingga kesehatan masyarakat, sehingga namanya kerap disebut sebagai sosok yang paling populer di Partai Buruh.

Peluang Burnham menuju Downing Street semakin terbuka setelah banyak tokoh senior Labour Party memberikan dukungan.

Mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting bahkan memutuskan tidak maju dalam pemilihan ketua partai dan memilih mendukung Burnham.

Dengan dukungan anggota parlemen serta serikat pekerja yang kuat, Burnham diperkirakan dapat memenangkan kontender kepemimpinan tanpa persaingan berarti dan mulai menjabat sebagai perdana menteri pada pertengahan Juli mendatang.

Apabila resmi terpilih, Burnham akan diwarisi sejumlah pekerjaan rumah berat. Ia harus memulihkan elektabilitas Partai Buruh, meredam perpecahan internal, mengatasi persoalan ekonomi yang masih membayang Inggris, serta menghadapi tantangan politik dari Partai Reformasi UK yang terus menguat.

Burnham juga dituntut menjaga hubungan Inggris dengan Uni Eropa dan sekutu Barat di tengah situasi geopolitik yang masih tidak menentu arah. (eza/mt)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait