Suasana Haru Wisuda Unesa: Ibu Gantikan Putrinya yang Meninggal Dunia, Adik Dapat Beasiswa

METROTODAY, SURABAYA – Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang digelar di Graha Unesa, Kamis (25/6). Dari 1.500 lulusan yang mengenakan toga, satu nama tidak hadir secara fisik.

Linda Ayu Tivani, mahasiswi Fakultas Ekonomi berusia 22 tahun, telah meninggal dunia akibat penyakit paru-paru basah yang berkembang sangat cepat. Kehadirannya dalam acara wisuda pun diwakili oleh ibunya, Kartiwi.

Menurut Kartiwi, Linda merupakan sosok yang pendiam dan tidak pernah mengeluh. Ia lebih memilih memendam rasa sakit agar tidak merepotkan orang lain maupun teman-temannya, sehingga kondisinya baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut.

WhatsApp Image 2026-06-25 at 18.52.13
Wisuda Unesa.

Gejala sakit baru muncul sekitar dua bulan sebelum ia meninggal. Awalnya hanya disertai batuk-batuk, namun setelah diperiksa melalui rontgen, dokter mendapati paru-parunya sudah memutih dan terisi cairan.

“Tanggal 6 hasil rontgen keluar, sore harinya langsung dirawat inap. Saat itu cairan yang diambil sekitar 250 mililiter. Setelah sebulan kontrol tidak ada perubahan, malah dia makin lemah dan tidak bisa berjalan. Saya bawa ke rumah sakit di Kediri, ternyata cairannya sudah penuh,” kata Kartiwi.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan jumlah cairan di paru-paru mencapai sekitar 6 liter, jauh melebihi batas normal yang hanya berkisar 3–4 liter, serta berwarna sangat gelap.

“Dokter pun kaget melihat kondisinya. Selama ini dia anak yang pendiam, tidak pernah mau mengeluh atau cerita kalau merasa sakit. Tidak mau merepotkan orang tua maupun teman-temannya, jadi semuanya dipendam sendiri. Akhirnya saya baru tahu kondisinya sudah parah,” ujarnya.

Meskipun tubuhnya makin melemah, Linda enggan mengambil cuti kuliah karena khawatir kehilangan beasiswa yang diterimanya.

Sang ibu bahkan sempat menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menawarkan biaya pendidikan jika harus menambah masa studi, namun Linda tetap bersikeras menyelesaikan revisi jurnal tugas akhirnya.

“Dia bilang takut beasiswanya hilang. Saya katakan tidak apa-apa, nanti cari uang untuk bayar UKT. Tapi dia tetap tidak mau berhenti. Bahkan setelah keluar rumah sakit tanggal 19, dia masih bilang sudah bisa jalan tanpa bantuan kursi roda,” tuturnya.

METROTODAY, SURABAYA – Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang digelar di Graha Unesa, Kamis (25/6). Dari 1.500 lulusan yang mengenakan toga, satu nama tidak hadir secara fisik.

Linda Ayu Tivani, mahasiswi Fakultas Ekonomi berusia 22 tahun, telah meninggal dunia akibat penyakit paru-paru basah yang berkembang sangat cepat. Kehadirannya dalam acara wisuda pun diwakili oleh ibunya, Kartiwi.

Menurut Kartiwi, Linda merupakan sosok yang pendiam dan tidak pernah mengeluh. Ia lebih memilih memendam rasa sakit agar tidak merepotkan orang lain maupun teman-temannya, sehingga kondisinya baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut.

WhatsApp Image 2026-06-25 at 18.52.13
Wisuda Unesa.

Gejala sakit baru muncul sekitar dua bulan sebelum ia meninggal. Awalnya hanya disertai batuk-batuk, namun setelah diperiksa melalui rontgen, dokter mendapati paru-parunya sudah memutih dan terisi cairan.

“Tanggal 6 hasil rontgen keluar, sore harinya langsung dirawat inap. Saat itu cairan yang diambil sekitar 250 mililiter. Setelah sebulan kontrol tidak ada perubahan, malah dia makin lemah dan tidak bisa berjalan. Saya bawa ke rumah sakit di Kediri, ternyata cairannya sudah penuh,” kata Kartiwi.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan jumlah cairan di paru-paru mencapai sekitar 6 liter, jauh melebihi batas normal yang hanya berkisar 3–4 liter, serta berwarna sangat gelap.

“Dokter pun kaget melihat kondisinya. Selama ini dia anak yang pendiam, tidak pernah mau mengeluh atau cerita kalau merasa sakit. Tidak mau merepotkan orang tua maupun teman-temannya, jadi semuanya dipendam sendiri. Akhirnya saya baru tahu kondisinya sudah parah,” ujarnya.

Meskipun tubuhnya makin melemah, Linda enggan mengambil cuti kuliah karena khawatir kehilangan beasiswa yang diterimanya.

Sang ibu bahkan sempat menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menawarkan biaya pendidikan jika harus menambah masa studi, namun Linda tetap bersikeras menyelesaikan revisi jurnal tugas akhirnya.

“Dia bilang takut beasiswanya hilang. Saya katakan tidak apa-apa, nanti cari uang untuk bayar UKT. Tapi dia tetap tidak mau berhenti. Bahkan setelah keluar rumah sakit tanggal 19, dia masih bilang sudah bisa jalan tanpa bantuan kursi roda,” tuturnya.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait