METROTODAY, MONTERREY – Siapa bilang tim yang sedang pincang tidak bisa tampil garang? Timnas Jepang baru saja memberikan kuliah 90 menit tentang bagaimana cara mengamuk di lapangan hijau meskipun skuad mereka sedang babak belur akibat badai cedera parah.
Bermain di Monterrey Stadium, Meksiko, dalam laga yang tercatat sebagai pertandingan ke-1.000 sepanjang sejarah bergulirnya Piala Dunia, Samurai Biru (julukan Jepang) justru tampil kesetanan dan sukses menebas Tunisia dengan skor kejam 4-0 tanpa balas.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Jepang sama sekali tidak menunjukkan kecemasan walau pincang tanpa diperkuat pilar-pilar utamanya, seperti Kaoru Mitoma, Takumi Minamino, hingga Wataru Endo.
Laga baru berjalan empat menit, papan skor langsung bergetar berkat jurus maut Daichi Kamada yang memanfaatkan umpan tarik ciamik Keito Nakamura. Gol kilat ini menasbihkan dirinya sebagai pencetak gol tercepat dalam sejarah partisipasi Jepang di Piala Dunia.
Tunisia yang limbung kian merana ketika penyerang haus gol, Ayase Ueda, menggandakan keunggulan di menit ke-31 lewat tendangan roket mendatar dari luar kotak penalti yang bersarang mulus di pojok gawang Aymen Dahmen.
Memasuki paruh kedua, jalannya laga tidak banyak berubah karena kemudi penuh masih dipegang oleh anak-anak besutan Hajime Moriyasu.
Junya Ito memperlebar jarak pada menit ke-69 setelah dengan lincah meloloskan diri dari kawalan ketat Mohamed Amine Ben Hamida sebelum menaklukkan kiper Tunisia untuk ketiga kalinya. Ueda menutup pesta lewat sundulan akurat pada menit ke-84.
Kemenangan ini terasa semakin istimewa karena Jepang tidak tampil dengan kreator utama mereka, Takefusa Kubo, yang harus absen karena cedera lutut yang didapat saat laga melawan Belanda.
Absennya pemain Real Sociedad tersebut sempat memunculkan kekhawatiran mengenai ketajaman lini serang Jepang.
Namun kekhawatiran itu seketika tenggelam ketika Kamada, Ueda, dan Ito bergantian mengambil peran menjaga kolektivitas Jepang.
Dilansir dari Sports Mole, pelatih Hajime Moriyasu bahkan secara khusus memuji kemampuan para pemainnya beradaptasi di tengah skuad yang tidak ideal.
Ada satu menit yang membuat publik Jepang sempat menahan napas sekaligus berdebat. Pada salah satu serangan berbahaya Samurai Biru, bola sempat terlihat sudah melewati garis gawang Tunisia.
Namun teknologi garis gawang menunjukkan bahwa bola belum sepenuhnya melewati garis sehingga gol urung disahkan.
Keputusan teknologi tersebut sempat memancing reaksi penonton baik di stadion dan layar kaca, tetapi Jepang tidak larut dalam galau dan terus menggempur hingga akhirnya mencetak empat gol yang sah.
Di sisi Tunisia, pelatih Herve Renard, yang baru saja ditunjuk menggantikan Sabri Lamouchi awal pekan ini, pascapertandingan mengaku sangat terpukul dan menyebut bahwa merombak mental ruang ganti dalam waktu singkat ternyata tidak cukup untuk membendung keganasan organisasi permainan Nippon.
Sebaliknya, Hajime Moriyasu semringah memuji habis-habisan determinasi serta pengorbanan kolektif anak asuhnya yang menolak menyerah pada keadaan cedera.
Tak kalah mencuri perhatian dari aksi olah bola di lapangan, dikabarkan oleh BBC Sport, tribun penonton Monterrey Stadium juga menyajikan pemandangan menggelitik yang viral di jagat maya.
Di tengah kekhawatiran publik akan rapuhnya kedalaman skuad Jepang. Dua suporter fanatik hadir memberikan suntikan moral dengan mengenakan kostum cosplay total maskot karakter anime legendaris, Goku dan Vegeta dari serial Dragon Ball. Lengkap dengan replika rambut jabrik Super Saiyan yang mencolok.
Kehadiran duo jenaka ini seolah merepresentasikan semangat pantang menyerah dan daya tempur luar biasa yang menular langsung ke performa spartan tim nasional Jepang.
Selain memastikan Elang Kartago (julukan Tunisia) tersingkir dari turnamen, kemenangan telak ini patut membuat publik Asia bangga. Sebab, skor 4-0 tersebut menjadi skor terbesar yang pernah diraih negara Asia dalam sejarah Piala Dunia.
Lebih dari itu, Jepang juga menjadi tim Asia pertama yang mampu mengawinkan empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. Sebuah pencapaian yang semakin menjelaskan perkembangan pesat sepak bola Negeri Sakura di panggung dunia. (ezaar/mt)

