Indonesia Peringkat 3 Pencemar Plastik Dunia, Sekolah di Surabaya Ini Kampanyekan Kemasan Daging Kurban Bebas Kresek

METROTODAY, SURABAYA – Sebuah langkah kecil namun penuh makna dilakukan oleh salah satu sekolah di Surabaya dalam perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini.

Melawan arus kebiasaan umum yang masih lekat dengan penggunaan kantong plastik, sekolah ini menerapkan konsep istimewa dan ramah lingkungan di seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyembelihan hingga proses pengemasan daging kurban.

Mereka secara signifikan berusaha mengurangi ketergantungan pada plastik dan beralih ke kemasan alami, yaitu besek bambu yang dialasi daun pisang segar.

Langkah ini terasa semakin penting mengingat data fakta yang memprihatinkan. Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga sebagai negara pencemar plastik terbesar di dunia, setelah India dan Nigeria.

Ironisnya, Kota Surabaya yang berada di aliran hilir Sungai Brantas, diidentifikasi sebagai salah satu penyumbang utama pencemaran mikroplastik.

Padahal, dampak plastik bagi kesehatan manusia sangat mengkhawatirkan, mulai dari gangguan hormon, peradangan, hingga peningkatan risiko kanker dan gangguan sistem reproduksi.

Belum lagi fakta bahwa sebanyak 57 persen penduduk Indonesia masih memiliki kebiasaan membakar sampah, yang berisiko melepaskan zat beracun berbahaya seperti dioksin dan furan ke udara.

Di tengah kondisi tersebut, inisiatif sekolah ini mendapat apresiasi tinggi, termasuk dari para siswanya.

Kirana Prameswari Lesmana Putri, siswi kelas VII, tampak antusias dan bangga bisa terlibat langsung. Baginya, penggunaan kemasan alami bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk nyata kepedulian menjaga bumi.

“Jadi kita taruh di besek dan daun pisang itu agar mengurangi penggunaan plastik untuk menaruh dagingnya di dalam ya,” ujar Kirana, Kamis (28/5).

Kirana mengaku sangat memahami bahaya laten di balik kemudahan kantong plastik. Ia sadar betul bahwa plastik adalah material anorganik yang butuh waktu sangat lama untuk terurai dan sering kali justru berakhir mencemari sungai, tanah, dan lahan kosong.

“Jadi sebenarnya plastik itu emang praktis ya, tapi gara-gara itu anorganik dan kita sering buang bukan di tong sampah, tapi di sungai, di tanah, di lahan kosong. Jadi itu plastiknya lama mengurai dan akhirnya menyebabkan polusi air, tanah, dan lain-lain,” jelasnya.

Remaja ini pun merasa senang dan bangga sekolahnya menjadi pelopor. Ia menambahkan, budaya hidup ramah lingkungan ini sudah ditanamkan sejak dini dan menjadi gaya hidup sehari-hari di lingkungan sekolahnya.

“Kalau dari sekolah kita, kita sangat senang. Soalnya kita bisa membantu untuk memperbaiki lingkungan walaupun dengan usaha-usaha dan hal-hal yang kecil. Kalau di sekolah itu kan kita disediakan tong sampah, jadi kita selalu buang sampah pada tempatnya, dan kita juga sudah dibiasakan di sekolah untuk membawa tumbler sendiri, kayak tidak membeli botol plastik,” tuturnya.

Sementara itu, ketua panitia kurban sekaligus guru agama di sekolah tersebut, Wahyudiono, mengungkapkan bahwa ide mulia ini sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, beralih ke bahan alami seperti besek dan daun pisang bukan hanya baik untuk alam, tetapi juga memiliki manfaat luar biasa bagi kualitas dan keamanan pangan.

“Banyak sekali kelebihannya. Menjaga tekstur daging dan taste-nya itu tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berupa plastik, sehingga daunan itu melindunginya, masih alami. Saya rasa ini kami sajikan yang terbaik lah kepada masyarakat, baik yang mudhohi maupun yang berkurban bisa menerima dan menikmati dagingnya segar,” papar Wahyu.

Ia mengakui, dua tahun lalu sekolahnya bahkan sudah mencapai 100 persen bebas plastik untuk kemasan kurban. Wahyu pun optimis, ke depannya mereka bisa kembali mencapai kondisi tersebut. Ia sangat sepakat bahwa plastik adalah musuh jangka panjang lingkungan karena sifatnya yang awet dan sulit terurai di alam.

“Betul sekali, plastik itu butuh waktu sangat lama untuk terurai. Insyaallah nanti kami anggarkan dalam perencanaan berikutnya, mengingat jumlah polusi melalui bahan kimia ini sangat berat dampaknya,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Sebuah langkah kecil namun penuh makna dilakukan oleh salah satu sekolah di Surabaya dalam perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini.

Melawan arus kebiasaan umum yang masih lekat dengan penggunaan kantong plastik, sekolah ini menerapkan konsep istimewa dan ramah lingkungan di seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyembelihan hingga proses pengemasan daging kurban.

Mereka secara signifikan berusaha mengurangi ketergantungan pada plastik dan beralih ke kemasan alami, yaitu besek bambu yang dialasi daun pisang segar.

Langkah ini terasa semakin penting mengingat data fakta yang memprihatinkan. Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga sebagai negara pencemar plastik terbesar di dunia, setelah India dan Nigeria.

Ironisnya, Kota Surabaya yang berada di aliran hilir Sungai Brantas, diidentifikasi sebagai salah satu penyumbang utama pencemaran mikroplastik.

Padahal, dampak plastik bagi kesehatan manusia sangat mengkhawatirkan, mulai dari gangguan hormon, peradangan, hingga peningkatan risiko kanker dan gangguan sistem reproduksi.

Belum lagi fakta bahwa sebanyak 57 persen penduduk Indonesia masih memiliki kebiasaan membakar sampah, yang berisiko melepaskan zat beracun berbahaya seperti dioksin dan furan ke udara.

Di tengah kondisi tersebut, inisiatif sekolah ini mendapat apresiasi tinggi, termasuk dari para siswanya.

Kirana Prameswari Lesmana Putri, siswi kelas VII, tampak antusias dan bangga bisa terlibat langsung. Baginya, penggunaan kemasan alami bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk nyata kepedulian menjaga bumi.

“Jadi kita taruh di besek dan daun pisang itu agar mengurangi penggunaan plastik untuk menaruh dagingnya di dalam ya,” ujar Kirana, Kamis (28/5).

Kirana mengaku sangat memahami bahaya laten di balik kemudahan kantong plastik. Ia sadar betul bahwa plastik adalah material anorganik yang butuh waktu sangat lama untuk terurai dan sering kali justru berakhir mencemari sungai, tanah, dan lahan kosong.

“Jadi sebenarnya plastik itu emang praktis ya, tapi gara-gara itu anorganik dan kita sering buang bukan di tong sampah, tapi di sungai, di tanah, di lahan kosong. Jadi itu plastiknya lama mengurai dan akhirnya menyebabkan polusi air, tanah, dan lain-lain,” jelasnya.

Remaja ini pun merasa senang dan bangga sekolahnya menjadi pelopor. Ia menambahkan, budaya hidup ramah lingkungan ini sudah ditanamkan sejak dini dan menjadi gaya hidup sehari-hari di lingkungan sekolahnya.

“Kalau dari sekolah kita, kita sangat senang. Soalnya kita bisa membantu untuk memperbaiki lingkungan walaupun dengan usaha-usaha dan hal-hal yang kecil. Kalau di sekolah itu kan kita disediakan tong sampah, jadi kita selalu buang sampah pada tempatnya, dan kita juga sudah dibiasakan di sekolah untuk membawa tumbler sendiri, kayak tidak membeli botol plastik,” tuturnya.

Sementara itu, ketua panitia kurban sekaligus guru agama di sekolah tersebut, Wahyudiono, mengungkapkan bahwa ide mulia ini sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, beralih ke bahan alami seperti besek dan daun pisang bukan hanya baik untuk alam, tetapi juga memiliki manfaat luar biasa bagi kualitas dan keamanan pangan.

“Banyak sekali kelebihannya. Menjaga tekstur daging dan taste-nya itu tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berupa plastik, sehingga daunan itu melindunginya, masih alami. Saya rasa ini kami sajikan yang terbaik lah kepada masyarakat, baik yang mudhohi maupun yang berkurban bisa menerima dan menikmati dagingnya segar,” papar Wahyu.

Ia mengakui, dua tahun lalu sekolahnya bahkan sudah mencapai 100 persen bebas plastik untuk kemasan kurban. Wahyu pun optimis, ke depannya mereka bisa kembali mencapai kondisi tersebut. Ia sangat sepakat bahwa plastik adalah musuh jangka panjang lingkungan karena sifatnya yang awet dan sulit terurai di alam.

“Betul sekali, plastik itu butuh waktu sangat lama untuk terurai. Insyaallah nanti kami anggarkan dalam perencanaan berikutnya, mengingat jumlah polusi melalui bahan kimia ini sangat berat dampaknya,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait