Perempuan Rentan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Maya Jika Terlalu Aktif

METROTODAY, SURABAYA – Kemajuan teknologi membuka akses luas bagi perempuan untuk berkarya, bersuara, dan membangun jejaring di ruang maya.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan serius berupa meningkatnya kerentanan terhadap kekerasan dan pelecehan digital.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Airlangga (Unair), Prof Myrtati Dyah Artaria mengatakan partisipasi perempuan yang semakin aktif di dunia maya ternyata berjalan beriringan dengan tingginya risiko ancaman yang diterima. Ruang digital baginya memiliki dua sisi mata uang: kesempatan besar sekaligus ladang potensi bahaya.

“Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, di sisi lain ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik,” ujar Prof Myrta, Kamis (28/5).

Ia menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan perpanjangan dari budaya yang sudah ada di masyarakat.

Budaya patriarki yang masih kuat hingga kini, menurutnya, turut terbawa masuk ke dalam dunia maya. Akibatnya, perempuan menjadi sasaran empuk komentar negatif, penghakiman fisik atau body shaming, hingga serangan personal.

“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata,” jelasnya.

METROTODAY, SURABAYA – Kemajuan teknologi membuka akses luas bagi perempuan untuk berkarya, bersuara, dan membangun jejaring di ruang maya.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan serius berupa meningkatnya kerentanan terhadap kekerasan dan pelecehan digital.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Airlangga (Unair), Prof Myrtati Dyah Artaria mengatakan partisipasi perempuan yang semakin aktif di dunia maya ternyata berjalan beriringan dengan tingginya risiko ancaman yang diterima. Ruang digital baginya memiliki dua sisi mata uang: kesempatan besar sekaligus ladang potensi bahaya.

“Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, di sisi lain ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik,” ujar Prof Myrta, Kamis (28/5).

Ia menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan perpanjangan dari budaya yang sudah ada di masyarakat.

Budaya patriarki yang masih kuat hingga kini, menurutnya, turut terbawa masuk ke dalam dunia maya. Akibatnya, perempuan menjadi sasaran empuk komentar negatif, penghakiman fisik atau body shaming, hingga serangan personal.

“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata,” jelasnya.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait