Transformasi Mikel Arteta: ”Cone Boy” Simbol Kebangkitan Arsenal

METROTODAY, LONDON – Desember 2019, muncul satu tanda tanya besar di kalangan pengamat sepak bola. Mengapa klub sebesar Arsenal menunjuk seorang amatir yang bahkan belum pernah melatih tim senior?

Nama Mikel Arteta pada 2019 lebih dikenal sebagai tangan kanan Pep Guardiola di Manchester City. Ia belum memiliki pengalaman sebagai nahkoda utama. Publik meragukan kemampuannya. Kendati begitu, Arteta tetap ditunjuk jajaran direksi untuk memimpin tim senior Arsenal.

Perjudian itu membuahkan hasil. Enam tahun berselang, keraguan itu berubah menjadi sejarah.

Arteta kini berdiri di puncak karier kepelatihannya setelah sukses membawa Arsenal menjuarai Premier League musim 2025/2026. Mengakhiri penantian gelar liga selama 22 tahun.

Namun, ekspedisi menuju puncak tentu tidak mudah. Enam tahun menanggung beban tuntutan para jajaran petinggi dengan bertaruh harapan dari fans Arsenal.

Arteta ditunjuk menggantikan Unai Emery yang dipecat kurang dari 24 jam usai Arsenal ditumbangkan Eitracht Frankfurt 1-2 di laga penyisihan Liga Europa. Di Liga Inggris juga tidak lebih baik. Saat itu Arsenal terdampar di posisi kesepuluh klasemen sementara paruh musim. The Gunners masih belum menemukan jalan kembali menuju kejayaan sepeninggalan manajer legendaris mereka, Arsene Wenger.

Menurut artikel yang ditulis BBC, Arsenal mengalami periode paling sulit dalam sejarah klubnya di era sepak bola modern. Musim diakhiri dengan finis di posisi kedelapan dalam dua musim beruntun, bahkan sempat gagal lolos ke kompetisi Eropa. Kekalahan demi kekalahan ditelan pahit oleh Arsenal, membuat tekanan kepada Arteta sendiri semakin besar.

Media Inggris dan media sosial saat itu dipenuhi kritik tajam terhadap pelatih berusia 44 tahun tersebut. Saking diragukannya, banyak kritik pedas dan satir dilayangkan, baik dari suporter rival maupun suporter Arsenal itu sendiri.

Di tiga tahun awal kepemimpinan Arteta, pundit seperti Gary Neville dan Ryan Merson, dalam acara televisinya bersama Sky Sports, sering mengulas Arsenal. Mulai inkonsistensi performa tim, kerapuhan pertahanan, dan menganggap skuad ini tidak memiliki cukup mentalitas untuk menjadi juara.

Salah satu cap kepada Mikel Arteta yang paling terkenal adalah “Cone Boy”. Pasalnya, Arteta dianggap sebagai “tukang pasang cone latihan”. Dia dinilai tak mampu lepas dari bayang-bayang Pep Guardiola kala menukangi Arsenal.

METROTODAY, LONDON – Desember 2019, muncul satu tanda tanya besar di kalangan pengamat sepak bola. Mengapa klub sebesar Arsenal menunjuk seorang amatir yang bahkan belum pernah melatih tim senior?

Nama Mikel Arteta pada 2019 lebih dikenal sebagai tangan kanan Pep Guardiola di Manchester City. Ia belum memiliki pengalaman sebagai nahkoda utama. Publik meragukan kemampuannya. Kendati begitu, Arteta tetap ditunjuk jajaran direksi untuk memimpin tim senior Arsenal.

Perjudian itu membuahkan hasil. Enam tahun berselang, keraguan itu berubah menjadi sejarah.

Arteta kini berdiri di puncak karier kepelatihannya setelah sukses membawa Arsenal menjuarai Premier League musim 2025/2026. Mengakhiri penantian gelar liga selama 22 tahun.

Namun, ekspedisi menuju puncak tentu tidak mudah. Enam tahun menanggung beban tuntutan para jajaran petinggi dengan bertaruh harapan dari fans Arsenal.

Arteta ditunjuk menggantikan Unai Emery yang dipecat kurang dari 24 jam usai Arsenal ditumbangkan Eitracht Frankfurt 1-2 di laga penyisihan Liga Europa. Di Liga Inggris juga tidak lebih baik. Saat itu Arsenal terdampar di posisi kesepuluh klasemen sementara paruh musim. The Gunners masih belum menemukan jalan kembali menuju kejayaan sepeninggalan manajer legendaris mereka, Arsene Wenger.

Menurut artikel yang ditulis BBC, Arsenal mengalami periode paling sulit dalam sejarah klubnya di era sepak bola modern. Musim diakhiri dengan finis di posisi kedelapan dalam dua musim beruntun, bahkan sempat gagal lolos ke kompetisi Eropa. Kekalahan demi kekalahan ditelan pahit oleh Arsenal, membuat tekanan kepada Arteta sendiri semakin besar.

Media Inggris dan media sosial saat itu dipenuhi kritik tajam terhadap pelatih berusia 44 tahun tersebut. Saking diragukannya, banyak kritik pedas dan satir dilayangkan, baik dari suporter rival maupun suporter Arsenal itu sendiri.

Di tiga tahun awal kepemimpinan Arteta, pundit seperti Gary Neville dan Ryan Merson, dalam acara televisinya bersama Sky Sports, sering mengulas Arsenal. Mulai inkonsistensi performa tim, kerapuhan pertahanan, dan menganggap skuad ini tidak memiliki cukup mentalitas untuk menjadi juara.

Salah satu cap kepada Mikel Arteta yang paling terkenal adalah “Cone Boy”. Pasalnya, Arteta dianggap sebagai “tukang pasang cone latihan”. Dia dinilai tak mampu lepas dari bayang-bayang Pep Guardiola kala menukangi Arsenal.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait