Disebut dalam Talksport, julukan lain seperti “Spanish Pulis”, “Lego Hair”, “Runner-up Specialist” hingga tagar #ArtetaOut beberapa kali trending di masa keterpurukan Arsenal. Tekanan itu sungguh besar, The Athletic menyebutkan, sempat muncul perdebatan dalam internal tim mengenai masa depan Mikel Arteta di Arsenal.
Perlahan, ia mulai menjawab seluruh keraguan publik tentangnya dengan cara membangun identitas di skuad The Gunners. Pemain-pemain senior dilepas. Fondasi tim dibangun menggunakan pilar muda seperti Bukayo Saka, Martin Odegaard, William Saliba, dan Gabriel Magalhaes.
Keberanian tersebut sempat dianggap sebagai pertaruhan besar. Arsenal dinilai terlalu mentah untuk bersaing berburu gelar. Namun, perubahan mulai terlihat.
Musim demi musim berlalu, Arsenal mulai dikenal memiliki identitas permainan yang jelas. Pressing tinggi, permainan agresif, build up cepat, dan disiplin taktik tinggi. Klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu juga mulai dianggap sebagai ancaman serius bagi lawan dalam situasi bola mati.
Puncak hasilnya datang musim ini. Arsenal sukses mengunci gelar juara Premier League musim 2025/2026. Lebih spesial lagi, Mikel Arteta dinobatkan sebagai pelatih termuda kedua yang mampu memenangkan Liga Inggris dengan usia 44 tahun dan 54 hari, hanya terpaut 2 tahun dari Jose Mourinho di posisi pertama.
”Kami mengalami masa-masa yang sangat sulit. Tapi, klub ini tetap percaya pada proses dan apa yang sedang kami bangun,” ujar Arteta saat diwawancarai Sam Cunningham di artikelnya yang termuat di laman resmi Premier League.
Dari sosok yang dulu dianggap gagal, Arteta kini menjadi simbol kebangkitan Arsenal. Dari tagar #ArtetaOut menjadi pahlawan yang mampu membawa pulang gelar liga ke London Utara setelah 6 tahun berproses serta penantian panjang 22 tahun. (ezaar)

