Refleksi Hari Kartini: Merayakan Kartini, Melupakan Gagasannya

OLEH: Dr. Machsus, Anggota Komunitas S36A; Akademisi ITS

SETIAP tahun kita merayakan Hari Kartini dengan penuh semangat. Namun diam-diam, kita juga berisiko mengosongkannya dari makna. Ia hadir di mana-mana, tetapi justru semakin jauh dari pemikiran yang dahulu ia perjuangkan.

Setiap 21 April, kita seperti memasuki sebuah panggung besar bernama “Kartini”. Kebaya dirapikan, sanggul ditegakkan, dan wajah-wajah dipoles agar menyerupai bayangan Raden Ajeng Kartini. Seindah mungkin, seseragam mungkin.

Televisi menghadirkan rangkaian acara yang nyaris seragam dari tahun ke tahun: lomba memasak, tata rias, hingga parade keluwesan. Lagu-lagu cinta mengalun, kadang sendu, kadang berlebihan, seakan perjuangan bisa diringkas dalam nada dan penampilan.

Di luar layar, antrean salon memanjang. Kartini hadir dalam bentuk make-up tebal, sanggul besar, dan selop berhak tinggi. Ada yang berbalut emas, ada pula yang cukup imitasi. Tak mengapa, yang penting tampak “Kartini”.

Namun, panggung Kartini hari ini tidak lagi berhenti di televisi atau ruang publik. Ia telah berpindah ke layar gawai, yakni ke dalam logika algoritma.

Media sosial menjelma menjadi ruang validasi baru, berupa foto berkebaya, video berdandan ala Kartini.

Di media sosial, peringatan Kartini menjelma menjadi konten, yakni dari outfit challenge, transformasi make-up, hingga kampanye “Kartini masa kini” yang dirancang untuk menarik perhatian dan meningkatkan engagement.

Bahkan, format konten Hari Kartini secara eksplisit dikemas untuk strategi branding dan viralitas, karena dinilai mampu mendatangkan interaksi tinggi dan kedekatan emosional dengan audiens .

Dalam ekosistem ini, ukuran keberhasilan tidak lagi terletak pada kedalaman makna, melainkan pada jumlah likes, komentar, dan jangkauan.

Secara umum, platform seperti TikTok dan Instagram memang dirancang untuk mendorong keterlibatan tinggi melalui konten singkat yang terus direkomendasikan kepada pengguna, sehingga perhatian publik cenderung bertahan pada level visual dan impresi awal.

Kartini pun, tanpa kita sadari, ikut terseret ke dalam arus itu, sehingga menjadi konten yang menarik, tetapi belum tentu dimaknai.

Di titik ini, pertanyaan sederhana menjadi relevan, apakah kita sedang merayakan Kartini, atau sekadar merayakan bayangannya? Sebab yang tampak dominan hari ini adalah estetika, bukan etika; simbol, bukan substansi.

Gagasan yang Terlupa

Kartini tidak lahir dari ruang rias, melainkan dari kegelisahan. Ia membaca, berpikir, lalu menulis visioner, yang melampaui zamannya.

Dalam surat-suratnya, ia tidak berbicara tentang sanggul, tetapi tentang pendidikan; tidak memperdebatkan busana, tetapi menggugat ketidakadilan; tidak sibuk menjadi “perempuan ideal”, tetapi berani mempertanyakan mengapa perempuan tidak diberi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Surat-surat tersebut telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, mulai dari edisi Belanda Door Duisternis tot Licht (1911), hingga terjemahan Inggris Letters of a Javanese Princess (1920), serta edisi Melayu Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari sana, terlihat jelas keberpihakan Kartini terhadap kaumnya, bahkan keberaniannya dalam mengkritisi struktur sosial dan pendidikan yang diskriminatif.

Kartini adalah keberanian berpikir, dan itu jauh lebih radikal daripada sekadar berdandan. Ada tiga pelajaran sunyi yang kerap luput kita baca, yakni ia memperjuangkan kesetaraan tanpa ambisi dominasi; ia menjaga etika relasi tanpa kehilangan nalar; dan ia hidup dalam keseimbangan tanpa menafikan kodrat.

Emansipasi yang Tersesat

Ironisnya, di era modern, kita justru terjebak dalam dua ekstrem yang sama-sama menjauh dari ruh Kartini. Di satu sisi, ia direduksi menjadi seremoni tahunan, yakni indah, meriah, tetapi dangkal. Di sisi lain, emansipasi dipahami secara berlebihan, seolah kebebasan harus selalu dimaknai sebagai penolakan terhadap relasi dan komitmen.

Dalam beberapa konteks, muncul kecenderungan melihat peran biologis sebagai beban, bahkan sebagai bentuk penindasan. Pilihan hidup menjadi kaku dalam satu tafsir yang semakin jauh dari struktur tradisional, dianggap semakin merdeka. Di titik ini, emansipasi bergeser dari upaya pembebasan menjadi resistensi tanpa arah.

Padahal, Kartini tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap laki-laki, apalagi terhadap kehidupan itu sendiri. Ia mengajarkan keberanian untuk berpikir, keberanian untuk bersikap, dan keberanian untuk tetap manusiawi di tengah tekanan zaman.

Membebaskan Kartini

Barangkali persoalannya bukan pada perayaannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Kita lebih mudah meniru penampilan daripada meneladani pemikiran. Lebih nyaman mengenakan kebaya daripada membaca gagasan. Lebih senang berfoto daripada berdialog.

Kartini akhirnya berubah menjadi “acara”, bukan “kesadaran”. Ia hadir setiap tahun, tetapi jarang benar-benar hidup dalam praktik keseharian. Kita merayakannya, tetapi tidak selalu melanjutkan perjuangannya.

Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi cermin, sejauh mana kita berani melampaui simbol dan menyentuh substansi. Sebab Kartini tidak pernah meminta untuk dirias. Ia hanya ingin dipahami.

Dan mungkin, di situlah perjuangan kita hari ini, yakni membebaskan Kartini dari reduksi yang kita ciptakan sendiri. Kartini tidak butuh dirayakan. Ia butuh dilanjutkan. Selamat Hari Kartini. (*)

OLEH: Dr. Machsus, Anggota Komunitas S36A; Akademisi ITS

SETIAP tahun kita merayakan Hari Kartini dengan penuh semangat. Namun diam-diam, kita juga berisiko mengosongkannya dari makna. Ia hadir di mana-mana, tetapi justru semakin jauh dari pemikiran yang dahulu ia perjuangkan.

Setiap 21 April, kita seperti memasuki sebuah panggung besar bernama “Kartini”. Kebaya dirapikan, sanggul ditegakkan, dan wajah-wajah dipoles agar menyerupai bayangan Raden Ajeng Kartini. Seindah mungkin, seseragam mungkin.

Televisi menghadirkan rangkaian acara yang nyaris seragam dari tahun ke tahun: lomba memasak, tata rias, hingga parade keluwesan. Lagu-lagu cinta mengalun, kadang sendu, kadang berlebihan, seakan perjuangan bisa diringkas dalam nada dan penampilan.

Di luar layar, antrean salon memanjang. Kartini hadir dalam bentuk make-up tebal, sanggul besar, dan selop berhak tinggi. Ada yang berbalut emas, ada pula yang cukup imitasi. Tak mengapa, yang penting tampak “Kartini”.

Namun, panggung Kartini hari ini tidak lagi berhenti di televisi atau ruang publik. Ia telah berpindah ke layar gawai, yakni ke dalam logika algoritma.

Media sosial menjelma menjadi ruang validasi baru, berupa foto berkebaya, video berdandan ala Kartini.

Di media sosial, peringatan Kartini menjelma menjadi konten, yakni dari outfit challenge, transformasi make-up, hingga kampanye “Kartini masa kini” yang dirancang untuk menarik perhatian dan meningkatkan engagement.

Bahkan, format konten Hari Kartini secara eksplisit dikemas untuk strategi branding dan viralitas, karena dinilai mampu mendatangkan interaksi tinggi dan kedekatan emosional dengan audiens .

Dalam ekosistem ini, ukuran keberhasilan tidak lagi terletak pada kedalaman makna, melainkan pada jumlah likes, komentar, dan jangkauan.

Secara umum, platform seperti TikTok dan Instagram memang dirancang untuk mendorong keterlibatan tinggi melalui konten singkat yang terus direkomendasikan kepada pengguna, sehingga perhatian publik cenderung bertahan pada level visual dan impresi awal.

Kartini pun, tanpa kita sadari, ikut terseret ke dalam arus itu, sehingga menjadi konten yang menarik, tetapi belum tentu dimaknai.

Di titik ini, pertanyaan sederhana menjadi relevan, apakah kita sedang merayakan Kartini, atau sekadar merayakan bayangannya? Sebab yang tampak dominan hari ini adalah estetika, bukan etika; simbol, bukan substansi.

Gagasan yang Terlupa

Kartini tidak lahir dari ruang rias, melainkan dari kegelisahan. Ia membaca, berpikir, lalu menulis visioner, yang melampaui zamannya.

Dalam surat-suratnya, ia tidak berbicara tentang sanggul, tetapi tentang pendidikan; tidak memperdebatkan busana, tetapi menggugat ketidakadilan; tidak sibuk menjadi “perempuan ideal”, tetapi berani mempertanyakan mengapa perempuan tidak diberi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Surat-surat tersebut telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, mulai dari edisi Belanda Door Duisternis tot Licht (1911), hingga terjemahan Inggris Letters of a Javanese Princess (1920), serta edisi Melayu Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari sana, terlihat jelas keberpihakan Kartini terhadap kaumnya, bahkan keberaniannya dalam mengkritisi struktur sosial dan pendidikan yang diskriminatif.

Kartini adalah keberanian berpikir, dan itu jauh lebih radikal daripada sekadar berdandan. Ada tiga pelajaran sunyi yang kerap luput kita baca, yakni ia memperjuangkan kesetaraan tanpa ambisi dominasi; ia menjaga etika relasi tanpa kehilangan nalar; dan ia hidup dalam keseimbangan tanpa menafikan kodrat.

Emansipasi yang Tersesat

Ironisnya, di era modern, kita justru terjebak dalam dua ekstrem yang sama-sama menjauh dari ruh Kartini. Di satu sisi, ia direduksi menjadi seremoni tahunan, yakni indah, meriah, tetapi dangkal. Di sisi lain, emansipasi dipahami secara berlebihan, seolah kebebasan harus selalu dimaknai sebagai penolakan terhadap relasi dan komitmen.

Dalam beberapa konteks, muncul kecenderungan melihat peran biologis sebagai beban, bahkan sebagai bentuk penindasan. Pilihan hidup menjadi kaku dalam satu tafsir yang semakin jauh dari struktur tradisional, dianggap semakin merdeka. Di titik ini, emansipasi bergeser dari upaya pembebasan menjadi resistensi tanpa arah.

Padahal, Kartini tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap laki-laki, apalagi terhadap kehidupan itu sendiri. Ia mengajarkan keberanian untuk berpikir, keberanian untuk bersikap, dan keberanian untuk tetap manusiawi di tengah tekanan zaman.

Membebaskan Kartini

Barangkali persoalannya bukan pada perayaannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Kita lebih mudah meniru penampilan daripada meneladani pemikiran. Lebih nyaman mengenakan kebaya daripada membaca gagasan. Lebih senang berfoto daripada berdialog.

Kartini akhirnya berubah menjadi “acara”, bukan “kesadaran”. Ia hadir setiap tahun, tetapi jarang benar-benar hidup dalam praktik keseharian. Kita merayakannya, tetapi tidak selalu melanjutkan perjuangannya.

Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi cermin, sejauh mana kita berani melampaui simbol dan menyentuh substansi. Sebab Kartini tidak pernah meminta untuk dirias. Ia hanya ingin dipahami.

Dan mungkin, di situlah perjuangan kita hari ini, yakni membebaskan Kartini dari reduksi yang kita ciptakan sendiri. Kartini tidak butuh dirayakan. Ia butuh dilanjutkan. Selamat Hari Kartini. (*)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait