METROTODAY, TEHERAN – Genderang perang di Timur Tengah tampaknya belum akan reda dalam waktu dekat. Teheran secara tegas menutup pintu dialog terkait tawaran gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).
Alih-alih melihatnya sebagai jalan perdamaian, Iran justru mencurigai tawaran tersebut sebagai taktik licik musuh untuk mengumpulkan kekuatan sebelum melancarkan serangan yang lebih mematikan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa posisi negaranya sangat jelas yakni tidak ada kompromi tanpa jaminan keamanan yang absolut.
Menurutnya, jeda pertempuran saat ini hanya akan menjadi napas buatan bagi lawan untuk menyerang balik.
“Gencatan senjata hanya berarti jeda untuk membangun kembali kekuatan guna melancarkan serangan baru. Tidak ada pihak rasional yang akan menerima jebakan itu,” kata Baqaei dalam konferensi pers di Teheran, Senin (6/4).
Sikap keras Iran ini bukan tanpa alasan. Luka dalam masih membekas akibat agresi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Serangan udara masif tersebut tidak hanya meluluhlantakkan infrastruktur vital, tetapi juga merenggut nyawa sedikitnya 1.340 orang.
Dunia internasional terguncang karena serangan itu turut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran kala itu, Ayatollah Ali Khamenei. Kehilangan sosok sentral ini memicu kemarahan nasional yang berujung pada eskalasi tanpa henti.
Sebagai respons atas tewasnya sang pemimpin, Iran meluncurkan serangan balasan yang melintasi berbagai perbatasan.
Ribuan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik menghujani wilayah Israel. Tak hanya itu, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi inang bagi aset militer AS tak luput dari sasaran.
Dampaknya luar biasa. Kerusakan parah di instalasi militer dan pemukiman di wilayah konflik. Harga minyak dunia meroket drastis dan rute penerbangan internasional lumpuh total.
Selain itu, negara-negara tetangga kini berada dalam posisi terjepit di antara dua kekuatan besar.
Baqaei menambahkan bahwa Teheran hanya akan duduk di meja perundingan jika ada mekanisme internasional yang menjamin tidak adanya serangan susulan.
Iran menuntut agar setiap keputusan terkait keamanan nasional harus memastikan berakhirnya siklus agresi secara permanen.
“Kami tidak mencari perang, tapi kami juga tidak akan membiarkan diri kami diserang dua kali dengan pola yang sama,” tegasnya. (red/mt)


