28 March 2026, 3:42 AM WIB

Kunjungan ke Posko Kesehatan Mudik di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Menurun

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Selama operasional Posko Mudik dan Balik Lebaran di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 13–26 Maret 2026, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya mencatat sebanyak 32 pelayanan kesehatan yang diberikan.

Keluhan kesehatan yang dialami penumpang didominasi oleh penyakit tidak menular seperti gastritis, ISPA, diare, atralgia, dan hipertensi, dengan gastritis atau maag menjadi yang terbanyak.

“Keluhan penumpang didominasi penyakit tidak menular, seperti gastritis, ISPA, diare, atralgia, dan hipertensi. Mungkin karena pemudik lelah setelah menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut,” tutur Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, Jumat (27/3).

Ia menambahkan bahwa jumlah kunjungan dan penanganan masalah kesehatan pemudik tahun ini berbeda dibandingkan tahun lalu, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat.

“Kita juga sering melakukan sosialisasi kesehatan, memberikan imbauan kepada pemudik. Dengan begitu kesadaran masyarakat akan kesehatan saat mudik dan balik Lebaran menggunakan kapal laut meningkat,” ujar Rosidi.

Untuk penyakit menular, Rosidi memastikan jumlahnya relatif kecil dan tidak ditemukan kasus berbahaya maupun potensi kejadian luar biasa (KLB). “Hasil pemantauan juga menunjukkan tidak ada kasus positif campak maupun TBC, sehingga kondisi secara umum tetap aman dan terkendali,” jelasnya.

Selain itu, tidak terdapat laporan penanganan khusus bagi ibu hamil, namun posko tetap siap memberikan pelayanan bagi seluruh penumpang termasuk kelompok rentan. Jumlah kunjungan paling banyak terjadi pada pertengahan periode arus mudik yaitu 18–23 Maret, dengan catatan tidak ada kasus yang dirujuk ke rumah sakit maupun kejadian kecelakaan dan kematian.

Menurut prediksi Pelindo, intensitas arus balik yang akan terjadi pada 28-29 Maret akan sama dengan arus mudik. Meski demikian, pihaknya terus melakukan kesiapsiagaan menghadapi puncak arus balik.

“Saat mobilitas masyarakat sedang tinggi, dimana risiko penularan penyakit juga tinggi, kami sebagai representasi Kemenkes hadir melakukan pencegahan penularan penyakit dengan lebih intens dari hari-hari biasa,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Selama operasional Posko Mudik dan Balik Lebaran di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 13–26 Maret 2026, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya mencatat sebanyak 32 pelayanan kesehatan yang diberikan.

Keluhan kesehatan yang dialami penumpang didominasi oleh penyakit tidak menular seperti gastritis, ISPA, diare, atralgia, dan hipertensi, dengan gastritis atau maag menjadi yang terbanyak.

“Keluhan penumpang didominasi penyakit tidak menular, seperti gastritis, ISPA, diare, atralgia, dan hipertensi. Mungkin karena pemudik lelah setelah menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut,” tutur Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, Jumat (27/3).

Ia menambahkan bahwa jumlah kunjungan dan penanganan masalah kesehatan pemudik tahun ini berbeda dibandingkan tahun lalu, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat.

“Kita juga sering melakukan sosialisasi kesehatan, memberikan imbauan kepada pemudik. Dengan begitu kesadaran masyarakat akan kesehatan saat mudik dan balik Lebaran menggunakan kapal laut meningkat,” ujar Rosidi.

Untuk penyakit menular, Rosidi memastikan jumlahnya relatif kecil dan tidak ditemukan kasus berbahaya maupun potensi kejadian luar biasa (KLB). “Hasil pemantauan juga menunjukkan tidak ada kasus positif campak maupun TBC, sehingga kondisi secara umum tetap aman dan terkendali,” jelasnya.

Selain itu, tidak terdapat laporan penanganan khusus bagi ibu hamil, namun posko tetap siap memberikan pelayanan bagi seluruh penumpang termasuk kelompok rentan. Jumlah kunjungan paling banyak terjadi pada pertengahan periode arus mudik yaitu 18–23 Maret, dengan catatan tidak ada kasus yang dirujuk ke rumah sakit maupun kejadian kecelakaan dan kematian.

Menurut prediksi Pelindo, intensitas arus balik yang akan terjadi pada 28-29 Maret akan sama dengan arus mudik. Meski demikian, pihaknya terus melakukan kesiapsiagaan menghadapi puncak arus balik.

“Saat mobilitas masyarakat sedang tinggi, dimana risiko penularan penyakit juga tinggi, kami sebagai representasi Kemenkes hadir melakukan pencegahan penularan penyakit dengan lebih intens dari hari-hari biasa,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait