Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Setiap tahun, masyarakat Desa Tambaksumur selalu menggelar dua peringatan haul sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur. Yang pertama adalah haul Mbah Zainal Abidin beserta para sesepuh desa. Tradisi ini menjadi agenda besar yang dilaksanakan warga Dusun Tambak dengan melibatkan seluruh potensi masyarakat. Acaranya selalu meriah karena bertepatan dengan tradisi ruwatan atau bersih desa sekaligus peringatan Tahun Baru Islam. Waktu pelaksanaannya pada Ahad pertama Bulan Muharram.
Rangkaian acara haul berlangsung dari pagi hingga malam. Menyajikan perpaduan antara kegiatan religius, sosial, dan budaya. Di antaranya khotmil Quran bil ghoib yang digelar serentak di masjid dan seluruh langgar (musholla), ziarah kubur bersama ke enam titik makam penting, serta khitanan massal sebagai bentuk kepedulian sosial. Tak ketinggalan, kemeriahan juga ditandai dengan karnaval budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Rangkaian haul ditutup dengan pengajian umum atau hadrah ISHARI se-Jawa Timur.
Dengan agenda yang lengkap dan semarak, haul Tambaksumur menjadi momen untuk mengenang jasa dan mendoakan para leluhur sekaligus menjadi pemersatu masyarakat. Tradisi ini menghadirkan semangat kebersamaan, memperkuat identitas desa, sekaligus menjaga kesinambungan warisan budaya dan keagamaan yang telah dirintis sejak masa Mbah Zainal Abidin.
Haul yang kedua khusus untuk K.H. Mas Ubaidah, salah seorang keturunan Mbah Zainal Abidin yang dimakamkan di kompleks makam timur. Peringatan haul ini memiliki nuansa yang berbeda. Jika haul Mbah Zainal Abidin dilaksanakan oleh warga desa secara kolektif, haul Kiai Mas justru lebih bersifat khusus, karena diselenggarakan oleh para muhibbin, santri, dan para cantrik beliau.
Para muhibbin, santri, dan cantrik itu berasal dari beragam latar belakang profesi maupun keyakinan. Tidak semuanya beragama Islam. Banyak di antara mereka adalah warga Tionghoa beragama Khonghucu, Buddha, maupun Kristen. Fenomena ini menjadi bukti nyata kebesaran jiwa Kiai Mas yang mampu membina dan merangkul murid-murid lintas agama. Bagi mereka, beliau bukan hanya seorang guru agama, melainkan juga pembimbing spiritual dan moral yang menanamkan nilai-nilai kebajikan universal.
Haul Kiai Mas dilaksanakan tepat pada hari wafat beliau, yaitu tanggal 22 Dzulhijjah. Berbeda dengan haul Mbah Zainal Abidin yang melibatkan seluruh wilayah Dusun Tambak, peringatan ini hanya terpusat di kompleks padepokan serta makam beliau di Gedung Bundar, di atas tanah seluas sekitar 4 hektar. Namun, meski ruang lingkupnya terbatas, jumlah peziarah yang datang justru lebih banyak dan dari berbagai daerah. Latar belakang pun beraneka ragam.
Menurut Ustadz H. Maslihan Alwi, Plt Ketua Yayasan Kyai Mas Ubaidah, para murid Kiai Mas yang berada di berbagai provinsi maupun beberapa negara ASEAN biasanya juga hadir dalam kesempatan itu.
Haul Kiai Mas menjadi ajang doa bersama untuk mengenang beliau, sekaligus merupakan simbol persaudaraan lintas iman yang diwariskan oleh Sang Guru. Dari sinilah, nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan selalu terjaga dan diwariskan kepada generasi setelahnya. (*)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk


