7 March 2026, 11:57 AM WIB

Meneladani Mbah Sahlan Tholib, Ulama yang Sufi dan Zuhud dari Krian, Sidoarjo (1)

spot_img

Pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

MENUJU makam K.H. Sahlan Tholib di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, tidaklah sulit. Lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan lingkar bypass Krian timur/jalan raya Madiun–Surabaya ke arah utara melalui jalan Dusun Tundungan.

1756530555963
K.H Sahlan Tholib dikenal sebagai ulama tasawuf. (repro)

Makam Romo K.H. Sahlan Tholib, yang kerap disapa masyarakat dengan panggilan Mbah Sahlan, itu berada di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah. Persisnya di sisi barat masjid pondok tersebut. Dari halaman depan masjid, makam Mbah Sahlan dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui lorong di sisi selatan masjid.

Letak makam ada di dalam sebuah bangunan berukuran sekitar 20 x 20 meter. Di dalam bangunan dengan baluran cat berwarna hijau tersebut terdapat lima makam dengan formasi berjajar. Dua di antaranya dipagari. Rangkaian bunga melati digantungkan mengitari sisi pagar. Makam Mbah Sahlan berada di dalam pagar berdampingan dengan makam istrinya, Mbah Nyai Mudrikah.

Tiga makam lainnya merupakan pesarean putra laki-laki Mbah Sahlan. Yakni, Gus H.  Abdul Qohir, Gus H. Moehammad Chudlory, dan Gus Nur Hasan Syamsul Arifin.

Sekitar 15 meter di sisi selatan bangunan makam terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat oleh para peziarah. Tidak jauh dari situ, tepatnya di sisi bagian selatan, terdapat beberapa kamar santri dan fasilitas kamar mandi. Berjalan ke selatan lagi, setelah melewati sebuah jembatan berukuran panjang sekitar 4 meter, terdapat bangunan lama yang dulu merupakan kamar santri yang kini sudah tidak lagi digunakan.

Setiap hari selalu ada orang yang berziarah ke makam Mbah Sahlan. Waktu yang paling ramai biasanya pada Kamis sore (malam Jumat) hingga hari Jumat. Mereka tidak hanya dari wilayah Sidoarjo. Ada pula yang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau.

Haul Mbah Sahlan yang diperingati setiap tanggal 27 Dzulhijjah pun selalu mengundang kehadiran banyak orang. Termasuk keluarga santri yang dulu pernah belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah.

Pada haul akbar ke-55 Mbah Sahlan yang bertepatan dengan 24 Juni 2025, ribuan orang berkumpul di halaman pondok. Hal itu menjadi bukti bahwa K.H. Sahlan Tholib adalah seorang ulama salaf kharismatik yang diharapkan banyak memberikan berkah.

Jejak Awal Mbah Sahlan sebagai Ulama Sufi

K.H. Sahlan Tholib dikenal sebagai ulama tasawuf yang mendidik santrinya agar lebih banyak melakukan riyadloh, tirakat, atau laku batin. Beliau membimbing para santri untuk tidak gila pada dunia. Salah satunya, dicontohkan dengan berpuasa setiap hari sepanjang hidupnya.

Mbah Sahlan lahir di Desa Terik, Krian, Sidoarjo, pada 1909. Beliau putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan K.H. Abdul Muntholib dan Nyai Khadijah. Sebagai ulama, Mbah Sahlan merupakan santri dari Pondok Pesantren Siwalanpanji, Buduran—salah satu pesantren tertua yang juga melahirkan banyak ulama kharismatik, pahlawan nasional, sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Mbah Sahlan merupakan murid K.H. Khozin.

Di Pondok Siwalanpanji itu Mbah Sahlan adalah adik tingkat K.H. Hasyim Asy’ari. Ulama yang satu angkatan dengan Mbah Sahlan di Panji antara lain K.H. Abdul Wahab Chasbullah yang juga merupakan salah satu dari para ulama pendiri NU.

Selain Kiai Wahab, teman seangkatan lainnya adalah K.H. Marzuqi Dahlan (Pondok Pesantren Lirboyo Kediri), K.H. Moh. Said (Pondok Pesantren PPAI Ketapang, Kepanjen, Malang), K.H. Ismail (Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangploso, Malang), dan K.H. Usman Al-Ishaqi (Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Jatipurwo, Semampir, Surabaya).

Sebelum nyantri di Pondok Siwalanpanji, Mbah Sahlan mengawali belajar mengaji dengan saudaranya. Lalu, mondok dan mendalami ilmu agama pada K.H. Marzuqi di Mindi, Porong. Di Mindi itulah namanya diganti menjadi Sahlan dari semula Romo. Selain pada Kiai Marzuqi dan K.H. Khozin, Mbah Sahlan juga berguru pada Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura.

1756544095135
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Krian, Sidoarjo. (Foto: Dite S.)

Pada tahun 1935, Mbah Sahlan kembali ke Desa Terik dan menikah dengan Nyai Mudrikah dari Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Dari pernikahan tersebut, Mbah Sahlan dan Nyai Mudrikah dikaruniai sembilan anak: tiga putra dan enam putri.

Mbah Sahlan mendirikan pondok pesantren di Sidorangu. Pada awal berdirinya, pesantren tersebut diberi nama Bahrul Ulum. Nama Sahlaniyah ditambahkan di belakang nama pesantren tersebut setelah Mbah Sahlan wafat pada 1972.

Pada masa itu, wilayah Krian hingga Mojosari termasuk daerah perang. Sehingga rintisan Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada tahun 1940 tidak didirikan permanen. Jika sedang berlangsung perang, harus mengungsi terlebih dahulu.

Mbah Sahlan mendidik santrinya dengan pendekatan kerohanian. Mengajak mereka untuk istiqamah dalam melakukan berbagai amalan seperti puasa sunah, sholat berjamaah, mengaji, bersedekah, terus bershalawat, dan berdzikir.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum terus berkembang. Jumlah santrinya juga semakin bertambah. Hingga sekitar tahun 1963, dibangun pula sekolah/madrasah. Menurut penuturan Muhammad Yunus (Gus Yunus), salah seorang cucu Mbah Sahlan, tanah masjid dan pesantren yang ada saat ini merupakan wakaf dari Mbah Nyai Mudrikah. Beliau ikhlas mendukung penuh Mbah Sahlan yang zuhud dan sufi dalam mensyiarkan Islam. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

MENUJU makam K.H. Sahlan Tholib di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, tidaklah sulit. Lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan lingkar bypass Krian timur/jalan raya Madiun–Surabaya ke arah utara melalui jalan Dusun Tundungan.

1756530555963
K.H Sahlan Tholib dikenal sebagai ulama tasawuf. (repro)

Makam Romo K.H. Sahlan Tholib, yang kerap disapa masyarakat dengan panggilan Mbah Sahlan, itu berada di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah. Persisnya di sisi barat masjid pondok tersebut. Dari halaman depan masjid, makam Mbah Sahlan dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui lorong di sisi selatan masjid.

Letak makam ada di dalam sebuah bangunan berukuran sekitar 20 x 20 meter. Di dalam bangunan dengan baluran cat berwarna hijau tersebut terdapat lima makam dengan formasi berjajar. Dua di antaranya dipagari. Rangkaian bunga melati digantungkan mengitari sisi pagar. Makam Mbah Sahlan berada di dalam pagar berdampingan dengan makam istrinya, Mbah Nyai Mudrikah.

Tiga makam lainnya merupakan pesarean putra laki-laki Mbah Sahlan. Yakni, Gus H.  Abdul Qohir, Gus H. Moehammad Chudlory, dan Gus Nur Hasan Syamsul Arifin.

Sekitar 15 meter di sisi selatan bangunan makam terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat oleh para peziarah. Tidak jauh dari situ, tepatnya di sisi bagian selatan, terdapat beberapa kamar santri dan fasilitas kamar mandi. Berjalan ke selatan lagi, setelah melewati sebuah jembatan berukuran panjang sekitar 4 meter, terdapat bangunan lama yang dulu merupakan kamar santri yang kini sudah tidak lagi digunakan.

Setiap hari selalu ada orang yang berziarah ke makam Mbah Sahlan. Waktu yang paling ramai biasanya pada Kamis sore (malam Jumat) hingga hari Jumat. Mereka tidak hanya dari wilayah Sidoarjo. Ada pula yang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau.

Haul Mbah Sahlan yang diperingati setiap tanggal 27 Dzulhijjah pun selalu mengundang kehadiran banyak orang. Termasuk keluarga santri yang dulu pernah belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah.

Pada haul akbar ke-55 Mbah Sahlan yang bertepatan dengan 24 Juni 2025, ribuan orang berkumpul di halaman pondok. Hal itu menjadi bukti bahwa K.H. Sahlan Tholib adalah seorang ulama salaf kharismatik yang diharapkan banyak memberikan berkah.

Jejak Awal Mbah Sahlan sebagai Ulama Sufi

K.H. Sahlan Tholib dikenal sebagai ulama tasawuf yang mendidik santrinya agar lebih banyak melakukan riyadloh, tirakat, atau laku batin. Beliau membimbing para santri untuk tidak gila pada dunia. Salah satunya, dicontohkan dengan berpuasa setiap hari sepanjang hidupnya.

Mbah Sahlan lahir di Desa Terik, Krian, Sidoarjo, pada 1909. Beliau putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan K.H. Abdul Muntholib dan Nyai Khadijah. Sebagai ulama, Mbah Sahlan merupakan santri dari Pondok Pesantren Siwalanpanji, Buduran—salah satu pesantren tertua yang juga melahirkan banyak ulama kharismatik, pahlawan nasional, sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Mbah Sahlan merupakan murid K.H. Khozin.

Di Pondok Siwalanpanji itu Mbah Sahlan adalah adik tingkat K.H. Hasyim Asy’ari. Ulama yang satu angkatan dengan Mbah Sahlan di Panji antara lain K.H. Abdul Wahab Chasbullah yang juga merupakan salah satu dari para ulama pendiri NU.

Selain Kiai Wahab, teman seangkatan lainnya adalah K.H. Marzuqi Dahlan (Pondok Pesantren Lirboyo Kediri), K.H. Moh. Said (Pondok Pesantren PPAI Ketapang, Kepanjen, Malang), K.H. Ismail (Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangploso, Malang), dan K.H. Usman Al-Ishaqi (Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Jatipurwo, Semampir, Surabaya).

Sebelum nyantri di Pondok Siwalanpanji, Mbah Sahlan mengawali belajar mengaji dengan saudaranya. Lalu, mondok dan mendalami ilmu agama pada K.H. Marzuqi di Mindi, Porong. Di Mindi itulah namanya diganti menjadi Sahlan dari semula Romo. Selain pada Kiai Marzuqi dan K.H. Khozin, Mbah Sahlan juga berguru pada Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura.

1756544095135
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Krian, Sidoarjo. (Foto: Dite S.)

Pada tahun 1935, Mbah Sahlan kembali ke Desa Terik dan menikah dengan Nyai Mudrikah dari Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Dari pernikahan tersebut, Mbah Sahlan dan Nyai Mudrikah dikaruniai sembilan anak: tiga putra dan enam putri.

Mbah Sahlan mendirikan pondok pesantren di Sidorangu. Pada awal berdirinya, pesantren tersebut diberi nama Bahrul Ulum. Nama Sahlaniyah ditambahkan di belakang nama pesantren tersebut setelah Mbah Sahlan wafat pada 1972.

Pada masa itu, wilayah Krian hingga Mojosari termasuk daerah perang. Sehingga rintisan Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada tahun 1940 tidak didirikan permanen. Jika sedang berlangsung perang, harus mengungsi terlebih dahulu.

Mbah Sahlan mendidik santrinya dengan pendekatan kerohanian. Mengajak mereka untuk istiqamah dalam melakukan berbagai amalan seperti puasa sunah, sholat berjamaah, mengaji, bersedekah, terus bershalawat, dan berdzikir.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum terus berkembang. Jumlah santrinya juga semakin bertambah. Hingga sekitar tahun 1963, dibangun pula sekolah/madrasah. Menurut penuturan Muhammad Yunus (Gus Yunus), salah seorang cucu Mbah Sahlan, tanah masjid dan pesantren yang ada saat ini merupakan wakaf dari Mbah Nyai Mudrikah. Beliau ikhlas mendukung penuh Mbah Sahlan yang zuhud dan sufi dalam mensyiarkan Islam. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait