Oleh karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat dan aman memerlukan perubahan cara pandang, mulai dari tingkat individu, masyarakat, hingga penyusunan kebijakan.
Di akhir pernyataannya, Prof Myrta berpesan agar perempuan tidak gentar dan tetap percaya diri menyuarakan gagasan.
Ia menekankan bahwa kehadiran dan perspektif perempuan sangat dibutuhkan di dunia digital, sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan sebagai bentuk perlindungan diri.
“Jangan biarkan rasa takut membuat diri mengecil. Dunia digital membutuhkan suara, karya, perspektif, dan keberadaan perempuan. Namun pada saat yang sama, penting juga untuk memahami bahwa menjaga diri di ruang digital bukan tanda lemah, melainkan bentuk kesadaran dan perlindungan diri,” pungkasnya. (ahm)
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya resmi mendeklarasikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah…
Lewat Minions, Illumination kembali membuktikan bahwa tingkah polos, usil, dan serba kacau Kevin, Stuart, Bob,…
Setelah kegagalan Die Mannschaft (julukan Jerman) di Piala Dunia 2026 yang berujung pada mundurnya Julian…
Bagi para suporter yang ingin menikmati lebih dari sekadar pertandingan sepak bola, San Francisco menjadi…
Di balik gemerlap kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, Philadelphia hadir sebagai salah…
ak berlebihan jika kawasan metropolitan New York–New Jersey disebut sebagai panggung utama Piala Dunia 2026.…
This website uses cookies.