Oleh karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat dan aman memerlukan perubahan cara pandang, mulai dari tingkat individu, masyarakat, hingga penyusunan kebijakan.
Di akhir pernyataannya, Prof Myrta berpesan agar perempuan tidak gentar dan tetap percaya diri menyuarakan gagasan.
Ia menekankan bahwa kehadiran dan perspektif perempuan sangat dibutuhkan di dunia digital, sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan sebagai bentuk perlindungan diri.
“Jangan biarkan rasa takut membuat diri mengecil. Dunia digital membutuhkan suara, karya, perspektif, dan keberadaan perempuan. Namun pada saat yang sama, penting juga untuk memahami bahwa menjaga diri di ruang digital bukan tanda lemah, melainkan bentuk kesadaran dan perlindungan diri,” pungkasnya. (ahm)
Tidak ada yang membayangkan Como 1907 akan duduk sejajar dengan berbagai klub elite Eropa di…
Di tengah padatnya pembeli hewan kurban, ada fenomena unik yang kian diminati masyarakat, yaitu jasa…
Tradisi toron atau pulang kampung yang dilakukan masyarakat Madura perantau menjelang Hari Raya Idul Adha…
Sapi kurban berukuran jumbo sumbangan Presiden Prabowo Subianto mengamuk dan berlari tak terkendali saat baru…
Berbeda dengan jenis yoga lain yang lebih luwes dan bervariasi, Yoga Ashtanga memiliki ciri khas…
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pendanaan baru di luar sektor perbankan demi…
This website uses cookies.