Categories: Woman Files

Perpaduan Shibori, Jeans, dan Batik yang Berani Sajikan Born Unreveled, Simbol Perlawanan Lewat Fashion

METROTODAY, SURABAYA – Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025 yang digelar di Tunjungan Plaza menjadi idealisme desainer Veni Rosita untuk menghadirkan koleksi bertema Born Unreveled yang memukau. Karya ini memadukan teknik shibori, jeans, dan batik bernuansa biru yang unik dan berani.

Koleksi Born Unreveled menawarkan dekonstruksi estetika konvensional. Potongan asimetris, tekstur kasar, motif patah, dan serat terjuntai menjadi simbol perlawanan terhadap norma-norma yang kaku. Setiap detail dirancang untuk membebaskan diri dari batasan lama dan menyingkap identitas baru.

“Tema besar SFP 2025, Rebellion, lebih tepat dipahami sebagai energi perlawanan yang elegan. Bukan sekadar melawan, tapi membebaskan diri dari batasan lama dan menyingkap identitas baru,” ujar Rosita, Selasa (18/11).

Simbol perlawanan ini terwujud dalam potongan kain yang disusun tidak teratur, mencampurkan batik, jeans, dan shibori secara acak namun tetap harmonis.

Rosita menjelaskan bahwa inti dari koleksi ini adalah ekspresi diri dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Model yang membawakan busana Born Unreveled rancangan desainer Veni Rosita dengan memadukan teknik shibori, jeans, dan batik bernuansa biru yang unik dan berani. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Intinya kita mengekspresikan diri, jadi merayakan sebuah keberanian bahwa kita berani out of the box,” imbuhnya.

Rosita menciptakan dua desain, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Desain pria menampilkan celana panjang yang ditempelkan shibori, batik, dan jeans dengan outer.

Sementara desain wanita berupa celana monyet yang dipadukan dengan aksesoris akusasiko jahit tangan dan batu-batuan.

“Benar-benar rebel banget, tapi hasilnya tetap terlihat harmonis dan cantik,” ungkap Rosita.

Inspirasi untuk koleksi ini datang dari pemanfaatan perca kain. Dengan tema Rebellion, Rosita merasa bebas berkreasi, menghasilkan motif yang unik dengan gaya santai namun tetap ekspresif. Proses pembuatan desain ini memakan waktu sekitar tiga minggu.

“Idenya suka memanfaatkan perca-perca kain, sekarang dengan tema ini bebas saja. Akhirnya motif yang seperti itu dengan gaya yang santai tapi tidak bisa digunakan sehari-hari. Tapi suatu ekspresi,” paparnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Taxmon Perkuat Pengawasan Pajak Daerah, Pemkab Sidoarjo Targetkan 454 Titik Terpasang Akhir Juli 2026

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…

6 hours ago

Socceroos Kena Tilang di Seattle, Amerika Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…

17 hours ago

Cinta Rashford pada Barcelona Bertepuk Sebelah Tangan meski Sudah Rela Turun Harga

Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…

17 hours ago

Cak Klepon Pabean Cantian Jemput Bola Urus Akta Kelahiran dan Kematian Warga Surabaya

Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…

18 hours ago

Gaji ke-13 dan TPP ASN/PPPK Surabaya Dipastikan Cair, TPP Naik Menjadi 100 Persen

Pemkot Surabaya memastikan gaji ke-13 serta Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)…

19 hours ago

Liverpool Bertaruh dengan Iraola, Van Dijk Akui Terkejut Slot Didepak

Liverpool FC resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah dua musim kebersamaan dan langsung…

19 hours ago

This website uses cookies.