Categories: Surabaya

Banyak Warga Mengeluh Desil Naik Drastis, Komisi D DPRD Surabaya Soroti Akurasi Data BPS

METROTODAY, SURABAYA – Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat dengar pendapat bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), Dinas Sosial (Dinsos), dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, Rabu (2/9).

Rapat tersebut digelar untuk menindaklanjuti banyaknya keluhan warga terkait penetapan kelompok desil yang dinilai tidak akurat.

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, mengungkapkan bahwa banyak warga yang semula masuk kategori miskin dan pra-miskin tiba-tiba naik ke desil yang lebih tinggi, sehingga kehilangan akses terhadap berbagai bantuan sosial.

“Jadi gini, fakta di lapangan banyak warga itu mengeluh karena mereka yang semula desilnya rendah, itu kemudian ujug-ujug desilnya tinggi. Yang semula mereka masuk kategori miskin dan pra-miskin, itu desilnya tinggi. Itu yang kami coba konfirmasi di sini,” kata Imam.

Imam menyoroti metode Proxy Means Test yang digunakan BPS, yang dinilai memiliki tingkat kesalahan cukup tinggi.

“Pertama, kita ingin tahu kriteria yang dipakai BPS itu apa. Ternyata tadi teman-teman juga banyak pertanyaan kritis terkait metodenya. Metodenya pakai proxy means test, padahal kalau kita coba studi pustaka, metode itu di negara-negara berkembang sudah mulai ditinggalkan karena tingkat akurasinya, margin of error-nya itu sampai 50 persen lebih,” tegasnya.

Imam juga mempertanyakan relevansi indikator yang digunakan, seperti sumber air dan daya listrik, yang belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat perkotaan seperti Surabaya.

Ia menuntut adanya kejelasan bagi warga yang desilnya berubah drastis, serta meminta desil tidak menjadi satu-satunya acuan penyaluran bansos.

“Kami minta supaya ketika ada warga yang desilnya naik drastis, bukan cuma diberi ruang untuk melakukan sanggah, tapi harus dijelaskan kenapa desilnya naik. Dan desil jangan satu-satunya alat untuk menentukan warga mendapat bansos, tapi harus disandingkan dengan data miskin/pra-miskin yang masih berlaku,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menjelaskan bahwa penetapan desil merupakan kewenangan BPS Pusat berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2025, dengan melibatkan 39 variabel. Ia mengakui adanya kendala sinkronisasi data antarinstansi.

“DTSEN ini sudah 7 kali rilis sejak tahun 2025. Masalahnya, versi terbaru sudah muncul di aplikasi, tapi belum sampai ke OPD-OPD sehingga belum bisa digunakan. Jadi warga yang merasa tidak sesuai bisa melakukan sanggah melalui dtsen.dasfam.bps.go.id atau datang langsung ke BPS,” jelas Arrief.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 3.000 warga Surabaya telah mengajukan perbaikan data secara mandiri, meskipun BPS Kota Surabaya mengaku kewalahan menangani permohonan tersebut. Arrief juga menegaskan bahwa Sensus Ekonomi yang sedang berlangsung tidak berkaitan dengan penentuan desil.

“Banyak anomali yang masih perlu dibersihkan sampai akhir tahun ini. Tapi yang menentukan pemeringkatan tetap BPS Pusat, bukan kami,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Sering Ganggu Peziarah, Anjal dan Pengemis di Kawasan Religi Ampel Surabaya Ditertibkan

Sejumlah peziarah di kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel, Surabaya, mengeluhkan gangguan dari anak jalanan…

13 hours ago

BBPOM Surabaya Periksa SPPG Penyedia Makanan MBG yang Racuni Ratusan Santri di Sidoarjo

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya segera turun tangan menyelidiki dugaan keracunan…

13 hours ago

Kakanwil Kemenag Jatim Minta Generasi Muda Kuasai Bahasa agar Siap Hadapi Dunia

Final Mini Drama Competition jenjang MI, MTs, dan MA tingkat Provinsi Jawa Timur digelar di…

15 hours ago

Kura Kura Darat Terbesar di Dunia, Aldabra Kini jadi Koleksi Baru KBS

Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk pertama kalinya menghadirkan kura-kura Aldabra (Aldabrachelys gigantea) sebagai koleksi satwa…

1 day ago

Ratusan Santri Ponpes Mambaul Hikam Keracunan MBG, Bupati Subandi Pastikan Tak Ada Yang Meninggal

Ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Sidoarjo dilarikan ke rumah sakit. Diduga keracunan makan bergizi…

1 day ago

Gibran Kaget Lihat Kandungan Mikroplastik di Air Kali Tebu Surabaya yang tampak Jernih

Kehadiran Microplastic Mobile Laboratory (Mimo) membawa terobosan unik, tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi pemakaian plastik…

2 days ago

This website uses cookies.