Para peserta Final Mini Drama Competition jenjang MI, MTs, dan MA tingkat Provinsi Jawa Timur digelar di lingkungan Kanwil Kemenag Jawa Timur. (Foto: Ahmad/METROTODAY)
METROTODAY, SIDOARJO – Final Mini Drama Competition jenjang MI, MTs, dan MA tingkat Provinsi Jawa Timur digelar di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur. Kompetisi ini menjadi bagian dari rangkaian EXPO Madrasah Jawa Timur 2026 dengan mengusung tema “Bridging Eras: Global Heritage and Green Action on Stage”.
Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris peserta didik melalui seni pertunjukan, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa dan kepedulian lingkungan.
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Ahmad Sruji Bahtiar, meninjau langsung penampilan para finalis dan memberikan apresiasi atas keberanian serta kreativitas siswa madrasah yang mampu tampil menggunakan Bahasa Inggris di atas panggung.
Menurut Bahtiar, penguasaan bahasa memiliki posisi penting dalam pengembangan kompetensi peserta didik. Kemampuan akademik yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif.
“Kalau kita mempunyai ilmu yang banyak, mempunyai kompetensi yang banyak, tetapi tidak mampu menyampaikannya dengan bahasa yang baik dan benar, maka apa yang kita sampaikan tidak akan bisa diserap oleh anak-anak,” ujarnya, Rabu (2/9).
Ia menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk membangun hubungan, memahami orang lain, dan menyampaikan ilmu pengetahuan. Karena itu, ia mendorong peserta didik untuk terus memperdalam kemampuan berbahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
“Perdalam kemampuan bahasa kita. Karena siapa yang menguasai bahasa suatu kaum, maka dia akan aman dari tipu daya mereka,” tuturnya.
Pesan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar soal penguasaan bahasa asing, tetapi agar peserta didik memiliki kemampuan komunikasi yang kuat memahami informasi global, berinteraksi dengan masyarakat luas, dan menyampaikan gagasan serta ilmu yang dimilikinya.
“Dengan menguasai bahasa, kita akan lebih mudah memahami orang lain dan menyampaikan apa yang kita miliki. Kuasai bahasa, maka kita akan lebih mudah menguasai lingkungan dan membangun komunikasi,” jelasnya.
Sebelumnya, kompetisi ini diikuti sebanyak 547 regu secara daring. Setelah melalui babak penyisihan yang ketat, 10 regu dengan nilai tertinggi berhak tampil di babak final yang dilaksanakan secara luring.
Penilaian mencakup empat aspek utama: pemahaman drama dan kesesuaian tema, ekspresi dan penampilan, aspek kebahasaan (bobot 30%), serta kreativitas dan unsur pendukung pementasan.
Tema khusus dibedakan berdasarkan jenjang: MI mengangkat “A Modern Story about Environmental Conservation”, MTs “Indonesian Folktale”, dan MA “International Folktale”.
Bahtiar berharap kompetisi semacam ini terus dikembangkan agar peserta didik madrasah tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang siap menghadapi tantangan global.
“Anak-anak kita harus mempunyai banyak kompetensi. Tetapi kompetensi itu juga harus mampu dikomunikasikan dengan baik. Karena itu, kuasai bahasa, perdalam kemampuan berbahasa, dan terus berlatih,” pesannya. (ahm)
Sejumlah peziarah di kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel, Surabaya, mengeluhkan gangguan dari anak jalanan…
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya segera turun tangan menyelidiki dugaan keracunan…
Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat dengar pendapat bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil…
Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk pertama kalinya menghadirkan kura-kura Aldabra (Aldabrachelys gigantea) sebagai koleksi satwa…
Ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Sidoarjo dilarikan ke rumah sakit. Diduga keracunan makan bergizi…
Kehadiran Microplastic Mobile Laboratory (Mimo) membawa terobosan unik, tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi pemakaian plastik…
This website uses cookies.