Tradisi Muludan di Kampung Nelayan Cumpat Surabaya: Bagi-Bagi Uang dari Atas Rumah hingga Pawai

METROTODAY, SURABAYA – Tradisi Muludan atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tetap terjaga di Kampung Nelayan Cumpat, Kedung Cowek, Surabaya.

Senin (24/8) sore, suasana semakin meriah dengan tradisi unik berupa pembagian uang yang dilemparkan ke kerumunan warga, serta kirab keliling yang diikuti warga dengan busana bergaya Timur Tengah. Ada juga tarian Timur Tengah dan unta yang menarik perhatian anak-anak.

Tradisi ini bukan sekadar hajatan, melainkan perwujudan keimanan, kecintaan kepada Rasulullah, sekaligus cerminan solidaritas sosial dan gotong royong warga pesisir.

Pawai atau karnaval menyemarakkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Nelayan Bulak Cumpat Surabaya. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Uang yang dibagikan beragam pecahan, mulai Rp 500, Rp 2000 hingga Rp 5.000. Menariknya warga bahkan membagikan uang dari atas balkon rumah agar lebih merata dan aman.

Olivia, warga Cumpat yang turut membagikan uang, menjelaskan tradisi ini berlangsung setiap tahun. Ia membagikan uang Rp 2000 hingga Rp 5000. Tiap tahun uang yang dibagikan berbeda-beda nominalnya. Tahun ini membagikan uang Rp 1 juta, sedangkan tahun lalu Rp 700 ribu.

“Tadi 2.000 annya sekitar 500-an, 5.000 annya sekitar 400 ribu Kalau tahun kemarin itu sekitar 700 ribu, tahun ini sekitar 1 jutaan lebih,” ungkap Olivia.

Ketika ditanya kenapa dibagikan dari atas, ia mengaku karena takut diserbu dan tidak merata. “Soalnya kalau di bawah takut diroyok sama anak-anak, takut direbut langsung dan tidak merata,” tuturnya.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Nelayan Bulak Cumpat Surabaya yang masih terjaga. Warga tampak berebut uang yang dibagikan dari atas rumah. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Olivia yang berprofesi sebagai juragan ikan menegaskan, berbagi ini bukan soal rugi atau untung. “Enggak, insyaallah ada yang diganti yang lebih baik,” ungkapnya.

Selain bagi-bagi uang, warga juga menggelar kirab atau pawai keliling dari wilayah Nambangan hingga ke depan Sentra Ikan Bulak (SIB), lalu berputar kembali ke Cumpat. Para peserta mengenakan pakaian ala Timur Tengah.

“Malamnya nanti ada acara tahlil, nanti uangnya juga dibagi-bagiin ke anak-anak TPQ,” imbuhnya.

Di antara kerumunan, wajah-wajah ceria anak-anak tampak antusias berebut uang yang dilemparkan. Achmad Asrori, siswa kelas 5 SD, tampak senang menerima uang tersebut. “Buat dibeli jajan,” ujarnya.

Tahun ini ia mengaku hanya mendapat Rp 5000 pecahan Rp 2000 dan Rp 1000, berbeda dengan tahun lalu Achmad bisa mendapatkan sampai Rp 25 ribu. “Banyak tahun dapatnya Rp 25 ribu,” jelasnya.

Tak hanya itu, malam harinya warga Nambangan juga kembali memeriahkan Maulid Nabi dengan membagikan barang rumah tangga seperti sapu, hingga gantungan baju. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Tradisi Muludan atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tetap terjaga di Kampung Nelayan Cumpat, Kedung Cowek, Surabaya.

Senin (24/8) sore, suasana semakin meriah dengan tradisi unik berupa pembagian uang yang dilemparkan ke kerumunan warga, serta kirab keliling yang diikuti warga dengan busana bergaya Timur Tengah. Ada juga tarian Timur Tengah dan unta yang menarik perhatian anak-anak.

Tradisi ini bukan sekadar hajatan, melainkan perwujudan keimanan, kecintaan kepada Rasulullah, sekaligus cerminan solidaritas sosial dan gotong royong warga pesisir.

Pawai atau karnaval menyemarakkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Nelayan Bulak Cumpat Surabaya. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Uang yang dibagikan beragam pecahan, mulai Rp 500, Rp 2000 hingga Rp 5.000. Menariknya warga bahkan membagikan uang dari atas balkon rumah agar lebih merata dan aman.

Olivia, warga Cumpat yang turut membagikan uang, menjelaskan tradisi ini berlangsung setiap tahun. Ia membagikan uang Rp 2000 hingga Rp 5000. Tiap tahun uang yang dibagikan berbeda-beda nominalnya. Tahun ini membagikan uang Rp 1 juta, sedangkan tahun lalu Rp 700 ribu.

“Tadi 2.000 annya sekitar 500-an, 5.000 annya sekitar 400 ribu Kalau tahun kemarin itu sekitar 700 ribu, tahun ini sekitar 1 jutaan lebih,” ungkap Olivia.

Ketika ditanya kenapa dibagikan dari atas, ia mengaku karena takut diserbu dan tidak merata. “Soalnya kalau di bawah takut diroyok sama anak-anak, takut direbut langsung dan tidak merata,” tuturnya.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Nelayan Bulak Cumpat Surabaya yang masih terjaga. Warga tampak berebut uang yang dibagikan dari atas rumah. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Olivia yang berprofesi sebagai juragan ikan menegaskan, berbagi ini bukan soal rugi atau untung. “Enggak, insyaallah ada yang diganti yang lebih baik,” ungkapnya.

Selain bagi-bagi uang, warga juga menggelar kirab atau pawai keliling dari wilayah Nambangan hingga ke depan Sentra Ikan Bulak (SIB), lalu berputar kembali ke Cumpat. Para peserta mengenakan pakaian ala Timur Tengah.

“Malamnya nanti ada acara tahlil, nanti uangnya juga dibagi-bagiin ke anak-anak TPQ,” imbuhnya.

Di antara kerumunan, wajah-wajah ceria anak-anak tampak antusias berebut uang yang dilemparkan. Achmad Asrori, siswa kelas 5 SD, tampak senang menerima uang tersebut. “Buat dibeli jajan,” ujarnya.

Tahun ini ia mengaku hanya mendapat Rp 5000 pecahan Rp 2000 dan Rp 1000, berbeda dengan tahun lalu Achmad bisa mendapatkan sampai Rp 25 ribu. “Banyak tahun dapatnya Rp 25 ribu,” jelasnya.

Tak hanya itu, malam harinya warga Nambangan juga kembali memeriahkan Maulid Nabi dengan membagikan barang rumah tangga seperti sapu, hingga gantungan baju. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait