Ada yang menekan terlalu pelan, ada yang terlalu bersemangat, namun tak ada yang kecewa. Kekeliruan justru menjadi bahan belajar dan tawa bersama.
Puncak kegembiraan pecah saat proses nglorot atau pelepasan lilin. Begitu motif asli mulai terlihat, sorak kegembiraan langsung memenuhi ruangan.
“Paling seneng pas nampak gambarnya keluar,” tutur Alea, salah satu peserta.
Sementara itu, Lilik Anani, salah satu orang tua peserta, menilai kegiatan ini sangat berharga untuk menjaga warisan budaya di tengah gempuran gawai.
“Sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak kembali ke budaya batik. Di era sekarang, anak-anak rawan lupa dengan warisan budaya kalau tidak dikenalkan secara langsung,” ungkapnya.
Helai kain yang motifnya belum sempurna warnanya pun menjadi bukti nyata: Gang Dolly kini bukan lagi sekadar catatan sejarah, melainkan tempat di mana tangan-tangan kecil sedang merangkai asa dan masa depan lewat karya. (ahm)
Page: 1 2
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, tantangan menjaga persatuan bangsa kini tidak hanya terjadi…
Forkopimda, ormas, maupun perwakilan berbagam organisasi lain menghimbau masyarakat agar tidak percaya hoaks (berita palsu).…
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Timur telah berhasil mengidentifikasi…
Proses seleksi Dewan Pengawas dan Anggota Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kebun Binatang Surabaya (KBS)…
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berkoordinasi dengan pengelola mal di Kota Pahlawan agar tidak membangun…
Penataan kawasan eks Lokalisasi Krengseng di Kecamatan Krian memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menurunkan…
This website uses cookies.