“Hari ini kita lakukan penyambungan, kita perbaiki sistemnya, agar satu wilayah dapat terhubung dengan wilayah lainnya. Banjir itu bukan hanya soal besar kecilnya saluran, tapi karena jaringannya belum menyatu. Maka langkah utama yang kita lakukan sekarang adalah memperkuat hubungan antar saluran dan mengevaluasi keseluruhan sistem yang ada,” ujar Eri, Rabu (6/5).
Ia menjelaskan bahwa sistem drainase harus dibangun secara berkesinambungan mencakup kawasan Gayungsari, Ahmad Yani, Prapen, Tenggilis Mejoyo hingga Panjang Jiwo.
Hal ini penting mengingat lokasi pembuangan akhir di Avur Wonorejo memiliki jarak yang cukup jauh dari wilayah-wilayah tersebut.
“Seperti yang sudah saya sampaikan, jarak menuju tempat pembuangan akhir di Wonorejo itu sangat jauh. Jalurnya dimulai dari Karah baru terhubung sampai melewati kawasan Rumah Sakit UBAYA di Tenggilis Mejoyo. Inilah yang menjadi tantangan utama yang harus kita atasi,” jelasnya.
Selain konektivitas, penyesuaian ketinggian dasar saluran juga menjadi fokus utama. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa sebagian saluran sudah dibangun dengan baik, namun aliran air tidak berjalan lancar karena perbedaan ketinggian di beberapa titik.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, menyatakan penyelenggaraan ibadah haji 2026 secara…
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya menertibkan enam bangunan liar (bangli) yang berdiri…
Suasana hangat penuh tawa memenuhi Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Dalam…
Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pembelaan Wartawan PWI Jawa Timur Samiadji Makin Rahmat menyatakan bahwa…
Ketua DPRD Jatim M. Musyafak Rouf mengajak seluruh masyarakat untuk bersikap dewasa atas isu-isu yang…
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, tantangan menjaga persatuan bangsa kini tidak hanya terjadi…
This website uses cookies.