METROTODAY, SURABAYA – Sebanyak 24 orang warga Surabaya dan sekitarnya yang mengikuti perjalanan wisata rohani ke kawasan Timur Tengah saat ini masih tertahan di Kota Amman, Jordania.
Kondisi ini terjadi akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah, yang menyebabkan pembatalan penerbangan pulang yang telah dijadwalkan.
Kelompok ini sempat viral melalui video yang menyebar di media sosial karena kesulitan dalam menemukan cara untuk kembali ke Indonesia.
Dalam video yang beredar, tour leader kelompok tersebut mengungkapkan kekhawatiran mereka yang sudah berada di Jordania sejak hari Minggu.
“Saat ini kami berada di Jordania di Kota Aman dan sejak hari Minggu kemarin dan sampai saat ini kami bingung karena bagaimana cara kami kembali ke Indonesia karena penerbangan kami dicancel dan sampai saat ini kami juga tidak menemukan penerbangan,” ucapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa sebelum video viral, mereka sudah menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Aman namun belum mendapatkan respon. Selain kelompoknya sendiri, menurut perkiraannya ada sekitar 200 orang lebih warga Indonesia lainnya yang juga tertahan di Kota Amman.

“Kalau grup saya sendiri ini ada 24 orang yang bisa dilihat di sini dan juga masih ada grup-grup lain dan menurut perhitungan ada sekitar 200 orang lebih Indonesia yang tertahan di Aman. Kami mohon bagi teman-teman untuk menyuarakan suara kami agar membantu pemulangan kami ke tanah air,” harapnya.
Setelah video tersebut viral, pihak KBRI di Aman segera merespon dengan mendatangi kelompok dan memberikan obat-obatan serta makanan yang diperlukan.
Staf Renata Tour Travel, Kresentia Verena, yang dikonfirmasi, membenarkan kebenaran video tersebut dan menjelaskan detail perjalanan. Rombongan yang melakukan ziarah bagi umat Kristen atau napak tilas Yesus ini berangkat tanggal 20 Februari dari Jakarta, transit di Dubai, kemudian melanjutkan ke Kairo.
“Jadi keberangkatannya itu tanggal 20 Februari dari Jakarta, transit di Dubai, kemudian melanjutkan ke Kairo. Kemudian kepulangannya harusnya terjadwal tanggal 4 Maret via Aman, transit di Dubai, lalu kembali ke Jakarta,” jelasnya.
Menurut Verena, mereka mendapatkan kabar tentang eskalasi perang ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara ke Iran pada Sabtu (28/2).
Kondisi ini membuat beberapa bandara besar di kawasan seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha tidak beroperasi normal.
“Setelah mendapatkan kabar kalau ada perang itu kami mulai was-was untuk mempersiapkan reschedule pesawat mereka ini dan sayangnya kami baru mendapat kabar bahwa pesawatnya itu dicancel tanggal 3 Maret,” ungkapnya.
Sebelumnya, maskapai Emirates sempat terus memperbarui informasi dengan harapan kondisi membaik, sehingga penerbangan bisa berjalan pada tanggal 3 atau 4 Maret. Namun demi keamanan penumpang, penerbangan tetap dibatalkan.
“Berharap mungkin ketika tanggal 3 Maret atau 4 Maret keadaan sudah membaik kemungkinan mereka bisa terbang. Tapi nyatanya memang demi keamanan para peserta belum bisa terbang,” ujar Verena.
Untuk membantu kepulangan WNI, pihak KBRI telah menjanjikan akan membiayai transportasi berupa bus dan feri untuk memindahkan rombongan dari Aman ke Kairo, Mesir, karena bandara di Kairo memiliki lebih banyak opsi penerbangan menuju Indonesia.
“Jadi mereka sekarang tengah menempuh perjalanan darat ke Kairo. Kami mohon bantuan juga pada semuanya supaya peserta kami bisa segera mendapatkan tiket kepulangan via Kairo ini karena kita sedang usahakan. KBRI juga katanya kemarin berusaha membantu supaya segera mendapatkan tiket,” harapnya.
Merujuk pada kondisi Timur Tengah yang belum stabil, pihak Renata Tour Travel akan menunda sementara waktu keberangkatan rombongan wisata rohani mendatang. “Betul kami menunda karena keselamatan peserta kami menjadi prioritas,” pungkasnya. (ahm)


