Mahasiswa dan dosen dari berbagai negara seperti Tiongkok hingga Rusia saat melukis bersama batik Kawung di Nation Star Academy (NSA) Surabaya. (Foto: Ahmad/METROTODAY)
METROTODAY, SURABAYA – Puluhan mahasiswa dan dosen asing dari berbagai negara belajar melukis batik motif Kawung dengan talenan di Nation Star Academy (NSA) Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari Community and Technological Camp (CommTECH) Insight 2026.
Kepala SMP NSA Surabaya, Inggriette Liany Widyasari, menjelaskan bahwa peserta yang berjumlah 40 orang terdiri dari 2 profesor dan sisanya mahasiswa S1, S2, serta S3. Mereka berasal dari universitas yang ada di Malaysia, Filipina, Thailand, Tiongkok dan Rusia. Tahun ini pihaknya mengangkat batik motif Kawung yang biasa digunakan oleh bangsawan dan raja-raja yang ada di keraton Yogyakarta dan Solo.
Menurutnya egiatan melukis dengan papan talenan dengan motif batik tersebut bertujuan sebagai media pembelajaran budaya nusantara. “Melukis papan talenan dengan motif batik Kawung sebagai media pembelajaran budaya nusantara kepada puluhan mahasiswa dan dosen asing dari berbagai negara,” tuturnya, Jumat (30/1).
Setiap guratan warna batik Kawung menjadi dialog lintas bangsa tentang keseharian masyarakat Indonesia, nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan filosofi hidup yang melekat pada motifnya. “Kegiatan ini juga ingin memperkenalkan budaya Nusantara bukan sebagai sesuatu yang jauh dan eksklusif, tetapi dekat, hangat, dan bisa disentuh,” jelasnya.
Salah satu mahasiswa Rusia, Marina Vadimovna, mengaku senang bisa mengenal budaya Indonesia terutama Jawa. Ia baru pertama kali mengetahui batik Jawa yang digunakan oleh para bangsawan dan raja dahulu. “Sangat menarik saya rasa ini pengalaman saya bisa mengenal langsung batik warisan budaya Indonesia yang dikenal dunia. Saya langsung mencobanya (melukis, Red),” tutur Marina.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tingkat kerumitan melukis batik berbeda dengan melukis gambar lainnya, namun hal itu menjadi tantangan untuk belajar mengenal budaya. “Luar biasa banyak sekali tantangan dalam melukis ini. Apalagi katanya jika membatik langsung mungkin sangat rumit. Dan ini memang sangat bernilai tinggi,” tuturnya.
Sementara itu Batik Kawung merupakan salah satu motif batik klasik Indonesia yang memiliki sejarah panjang, khususnya di wilayah Jawa. Ciri khasnya adalah berbentuk bulatan simetris yang terinspirasi dari buah kolang-kaling.
Sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno, motif ini sudah melekat erat dengan lingkungan keraton dan digunakan sebagai simbol kehormatan bagi bangsawan serta raja di Solo dan Yogyakarta. Selain itu, motif ini juga diartikan sebagai lambang kesucian, ketulusan, dan kontrol diri, sehingga sering dikenakan oleh pemimpin sebagai simbol kebijaksanaan. (ahm)
Penanganan banjir di wilayah Surabaya Selatan dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah kota menitikberatkan pada…
Anas Karno ditetapkan sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya dalam rapat paripurna yang digelar…
Syaifuddin Zuhri resmi dilantik dan mengucap sumpah jabatan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…
KALIMAT yang diucapkan belum sepenuhnya tuntas. Tapi, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tak…
Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju…
PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50…
This website uses cookies.