Categories: Surabaya

Jelajahi Budaya Indonesia, Mahasiswa Akuntansi ini Kenalkan Pembayaran Digital Hingga ke Pelosok

METROTODAY, SURABAYA – Tiga mahasiswa program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi QRIS Jelajah Budaya Indonesia.

Mereka adalah Antonio Billydhrama Pangestu, Fandy Ahmad Firmansyah Anwar, dan Alif Wildan Arrazak.

Kompetisi QRIS Jelajah Budaya Indonesia merupakan program dari Bank Indonesia (BI) yang bertujuan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi sebagai agen sosialisasi pembayaran digital.

Program ini berupa kompetisi yang berlangsung sejak Agustus hingga September 2025, dengan dua misi utama: misi lapangan dan misi sosial media.

Scan Squad, nama tim dari ketiga mahasiswa tersebut, mengaku mengikuti kompetisi ini untuk mencari pengalaman baru.

Di tengah kesibukan perkuliahan semester lima, kompetisi ini menjadi penyegaran karena biasanya mahasiswa hanya fokus pada riset dan inovasi.

“Di satu sisi kita pribadi bisa keliling kemana-mana dan explore tempat-tempat baru. Di sisi lain kita juga bisa mengajarkan bagaimana kebijakan Bank Indonesia dan apa saja produk yang dikeluarkan,” ujar Billy, ketua Scan Squad, Minggu (14/9).

Program ini diadakan serentak di berbagai daerah. BI memilih sepuluh finalis dari masing-masing daerah untuk menjalankan misi. Scan Squad sendiri menjalankan empat misi selama kompetisi.

Misi pertama meliputi sosialisasi BI-FAST proxy address, edukasi tentang PeKA (Peduli, Kenali, Adukan) untuk perlindungan konsumen, dan kunjungan ke Museum De Javasche Bank Surabaya.

Misi kedua adalah eksplorasi budaya di Mojokerto sambil mengenalkan sistem pembayaran elektronik kepada masyarakat.

Misi ketiga adalah edukasi mengenai QRIS Tap NFC, QRIS MPM Dinamis dan Statis, serta mengenalkan permainan QRIS Jelajah di Surabaya.

Misi terakhir adalah jelajah budaya di Kabupaten Sumenep, sekaligus mengenalkan konsep Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Dalam menjalankan misi lapangan, Scan Squad menggunakan pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari penjelasan lisan hingga praktik langsung.

“Kalau misi yang di Sumenep itu kita bawa alat peraga sendiri untuk menjelaskan ciri-ciri uang palsu dan cara cinta, bangga, serta paham rupiah. Di situ kami bawa poster untuk disebarkan ke masyarakat sekitar, sinar UV, lampu, uang, dan juga uang robek,” jelas Billy.

Selama menjalankan misi, mereka menghadapi tantangan bahasa, terutama saat berada di Sumenep, Madura. Namun, mereka menganggap ini sebagai pengalaman berharga.

“Saat mengunjungi Madura menjadi pengalaman yang berkesan bagi kami ataupun saya sendiri. Di sana kami mengenal bahasa dan budaya yang asing bagi kami mahasiswa di Surabaya,” ungkap Fandy, anggota Scan Squak

Scan Squad berkomitmen untuk terus membagikan ilmu yang telah mereka dapatkan.

“Kami akan terus mengedukasi mengenai QRIS ini. Mungkin warung-warung di sekitar lingkungan kami atau di area kampus,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

WFH Sehari dalam Sepekan Jadi Strategi Hemat Energi, Konsumsi BBM Turun 20 Persen

Pemerintah menyiapkan langkah-langkah penghematan energi nasional. Eskalasi di Timur Tengah dengan peran antara Israel-Amerika Serikat…

11 minutes ago

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Makam Tengah sebagai Titik Sentral (3)

Luas Makam Islam Desa Tambaksumur sekitar 1 hektare. Di sudut timur laut, terdapat bangunan calon…

2 hours ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (12): Kereta Cepat “Whoosh” yang Menyambung Dua Kota Suci

Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena…

3 hours ago

Waspadai Penyakit Menular saat Musim Mudik, Balai Karantina Pantau Bandara dan Pelabuhan

Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…

22 hours ago

Temukan Tempat Hiburan Nekat Buka selama Ramadan, Satpol PP Surabaya Beri Sanksi

Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…

1 day ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (11): Berlebaran di Tanah Haram

Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…

1 day ago

This website uses cookies.