Categories: Surabaya

Kali Surabaya Darurat: Ribuan Ikan Mati, Ancaman Nyata bagi Pasokan Air Bersih Jutaan Warga

METROTODAY, SURABAYA — Ribuan ikan ditemukan mati mengambang di aliran Kali Surabaya yang melintasi Desa Wringinanom, Gresik, sejak Senin (19/5).

Tragedi ekologis ini memantik kekhawatiran serius terhadap kelestarian Sungai Brantas dan ketahanan pasokan air bersih bagi lebih dari dua juta warga Surabaya dan sekitarnya.

Investigasi cepat dilakukan oleh tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), yang mendapati kadar oksigen terlarut (DO) di lokasi kejadian hanya 0,1 mg/L.

Angka ini jauh di bawah ambang batas minimal 4 mg/L yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 untuk kualitas air sungai kelas dua.

“Ikan-ikan yang mati didominasi oleh spesies lokal seperti Rengkik, Keting, Bader Putih, dan Bader Merah. Ini bukan sekadar kehilangan biodiversitas, tapi bukti kuat adanya pencemaran berat,” ujar Alaika Rahmatullah, peneliti Ecoton.

Menurutnya, angka DO yang sangat rendah menandakan kondisi air yang tidak lagi mendukung kehidupan biota.

Alaika menegaskan bahwa pencemaran tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh beban limbah organik yang tinggi, pembuangan limbah industri tanpa pengolahan memadai, serta berkurangnya vegetasi penyangga sungai.

“Ini alarm keras bagi kesehatan publik dan keberlanjutan sumber daya air,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Manuel Sidabutar, mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perikanan Universitas Brawijaya. Ia menilai fenomena ini sebagai bukti bahwa pengawasan kualitas sungai sangat lemah.

“Menjelang kemarau, debit air menurun drastis, sementara industri tetap membuang limbah. Sungai menjadi zona abu-abu yang luput dari pantauan,” ujarnya.

Ancaman Langsung bagi Air Minum Warga

Kali Surabaya merupakan sumber utama bahan baku air minum yang dikelola oleh PDAM Surya Sembada. Kerusakan kualitas air tidak hanya berdampak pada ekosistem, tapi juga mengancam keamanan air konsumsi jutaan penduduk.

Ecoton juga mencatat keberadaan mikroplastik dan logam berat yang terdeteksi dalam air dan biota sungai tersebut.

Lebih jauh, Ecoton menyoroti lemahnya tata kelola lingkungan, mulai minimnya penegakan hukum terhadap industri pencemar, ketertutupan data kualitas air, lemahnya koordinasi antar instansi, serta nihilnya pemantauan partisipatif dari masyarakat.

Ecoton menuntut tindakan segera dan tegas dari pemerintah, termasuk investigasi menyeluruh, penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran, serta moratorium izin pembuangan limbah cair hingga sistem pengawasan diperbaiki secara menyeluruh.

“Kematian ikan di Kali Surabaya bukan fenomena musiman. Ini dampak dari kegagalan tata kelola yang sistemik,” tutup Alaika.

Ia menyerukan kolaborasi nyata antara pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memulihkan dan menyelamatkan sungai dari krisis yang berlarut. (*)

Jay Wijayanto

Recent Posts

WFH Sehari dalam Sepekan Jadi Strategi Hemat Energi, Konsumsi BBM Turun 20 Persen

Pemerintah menyiapkan langkah-langkah penghematan energi nasional. Eskalasi di Timur Tengah dengan peran antara Israel-Amerika Serikat…

1 hour ago

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Makam Tengah sebagai Titik Sentral (3)

Luas Makam Islam Desa Tambaksumur sekitar 1 hektare. Di sudut timur laut, terdapat bangunan calon…

4 hours ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (12): Kereta Cepat “Whoosh” yang Menyambung Dua Kota Suci

Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena…

5 hours ago

Waspadai Penyakit Menular saat Musim Mudik, Balai Karantina Pantau Bandara dan Pelabuhan

Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…

24 hours ago

Temukan Tempat Hiburan Nekat Buka selama Ramadan, Satpol PP Surabaya Beri Sanksi

Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…

1 day ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (11): Berlebaran di Tanah Haram

Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…

1 day ago

This website uses cookies.