Masjid Jami Al Abror di Kauman, Sidoarjo, merupakan ikon penting kawasan Jalan Gajah Mada Sidoarjo. (Foto: DITE SUURENDRA)
Jalan Gajah Mada merupakan salah satu aset penting bagi Kabupaten Sidoarjo. Namun, statusnya sebagai jalan nasional menjadi kendalai bagi Pemkab Sidoarjo saat hendak mengembangkannya. Bupati Subandi mengusulkan status jalan nasional diubah menjadi jalan kabupaten. Jalan Gajah Mada ditukar guling dengan Jalan Lingkar Timur.
Pemkab Sidoarjo telah mengusulkan pertukaran status Jalan Gajah Mada dan Jalan Lingkar Timur (Jalan Veteran) ini ke pemerintah pusat. Yaitu, Kementerian Pekerjaan Umum. Jalan Lingkar Timur diubah jadi jalan nasional. Sedangkan Jalan Gajah Mada berubah status menjadi jalan kabupaten.
Menurut Bupati Subandi, usul pertukaran status jalan ini disampaikan agar Pemkab Sidoarjo memiliki kewenangan penuh untuk menata kawasan Jalan Gajah Mada. Kawasan yang merupakan salah satu ikon Sidoarjo.
”Kita sudah bersurat ke Kementerian Pekerjaan Umum. Kita usulkan Jalan Gajah Mada yang jalan nasional dengan Lingkar Timur,” ujar Bupati Subandi pada Selasa (10 Maret 2026).
Bupati Subandi menjelaskan, setelah status jalan berubah menjadi kewenangan daerah, Pemkab Sidoarjo akan penata kawasan Jalan Gajah Mada secara menyeluruh. Jalan tersebut tidak hanya diperbaiki dari sisi infrastruktur, tetapi juga dikembangkan menjadi pusat kuliner dan kawasan ekonomi.
”Nah kalau Jalan Lingkar Timur ditukar dengan Jalan Gajah Mada, kita bisa memperbaikinya. Terutama Jalan Gajah Mada agar bisa menjadi tempat masyarakat jalan-jalan,” tegasnya.
Penataan kawasan sekitar Jalan Gajah Mada, lanjut Bupati Subandi, akan membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Para pedagang kaki lima (PKL) akan memperoleh tempat untuk berjualan secara lebih tertata.
Para pelaku usaha nanti banyak berminat. Terutama usaha kuliner. Saat ini Pemkab Sidoarjo terus melakukan koordinasi intensif dengan Pemprov Jatim maupun kementerian terkait agar rencana tersebut bisa segera direalisasikan.
”Usul sudah jalan. Sudah kita masukkan ke pusat. Tinggal menunggu saja. Kita berharap semoga tahun 2026 ini bisa selesai,” pungkas Bupati Subandi.
Pada dasawarsa 1990-an, Jalan Gajah Mada merupakan pusat keramaian utama di Kota Sidoarjo. Arus lalu lintas masih berlaku dua lajur. Baik dari arah Surabaya menuju Porong maupun dari Porong menuju Surabaya. Pusat perbelanjaan di Plaza Matahari selalu membeludak oleh pengunjung.
Ada pula toko-toko garmen terkenal, seperti Lambang Jaya, Bima, Deny, dan sebagainya. Pertokoan emas, mebel, bengkel otomotif, restoran, bahkan sekolah juga menghidupkan kawasan tersebut. Di antaranya, MTsN Sidoarjo. Baik siang maupun malam, Jalan Gajah Mada selalu hidup.
Pada era tahun 2000-an, Pemkab Sidoarjo menghidupkan kampung-kampung tua di sekitar Jalan Gajah Mada. Di antaranya, Kauman, Daleman, Jetis, serta Lemah Putro. Revitalisasi itu menyalakan lagi memori tentang keberadaan Sidoarjo saat masih bernama Kabupaten Sidokare.
Masjid Al Abror menjadi salah satu ikon utama di lokasi tersebut. Begitu pula Kampung Batik Jetis. Masih tertinggal bekas-bekas tradisi dan bangunan kuno di dalam perkampungan sepanjang Jala Gajah Mada. Kawasan Sidoarjo Kota Lama ini berpotensi menjadi destinasi wisata yang berbobot tinggi. (MT)
Upaya penguasaan tanah oleh mafia tanah tidak sekadar dengan mengutak-atik dokumen administrasi pertanahan. Apabila pemilik…
Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan…
Aksi Hari Perempuan Internasional di Surabaya: Minta Reformasi Satgas Anti Kekerasan hingga Pengesahan UU PPRT
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan bahwa setiap kawasan wisata harus mampu menggerakkan aktivitas ekonomi…
Persiapan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi 1947 Saka mulai bergeliat di Pura Agung Jagat Karana,…
Menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sekaligus wujud kepedulian sosial, BRI Region 12 Surabaya melalui…
This website uses cookies.