Categories: Nasional

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (11): Berlebaran di Tanah Haram

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–

BAGI orang Indonesia, Lebaran hampir selalu identik dengan satu kata: mudik. Jalan tol penuh, stasiun padat, bandara seperti pasar malam, dan grup WhatsApp keluarga mulai ramai sejak H-7 dengan pertanyaan klasik: “Kamu mudik tanggal berapa?”

Di rumah, ibu-ibu kita biasanya sudah menyiapkan ketupat sejak malam takbiran. Ayah-ayah sibuk mengecek kursi tamu dan merapikan taman. Anak-anak menunggu momen berburu amplop Lebaran dari para paman atau gutteh dan bibi atau oneng, yang wajahnya kadang baru benar-benar diingat kembali setahun sekali.

Saya sendiri dibesarkan oleh Ibu atau Nyek di desa terpencil bernama Desa Tolbuk, Bangkalan. Masakannya sederhana, tetapi rasanya selalu pulang di ingatan. Hingga kini, meski beliau telah lama wafat, aroma dapur itu tetap terasa dekat, seperti bagian dari Lebaran yang tak pernah benar-benar pergi.

Abah, orang Madura asli, bukan Madura diaspora, memang mendidik kami dengan “keras” agar anak-anak siap menghadapi kerasnya tantangan dunia. Setelah Beliau tiada, kami baru menyadari betapa visioner Abah, yang hanya orang kampung.

Keberhasilan model didikannya mulai tampak ketika mengantarkan anak pertama, atau kakak kesatu kami, diterima sebagai mahasiswa baru kedokteran umum di Univesitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Seingat kami, saking bahagianya, Abah kami menyembelih sapi dengan aneka masakan khas Madura untuk merayakan rasa syukurnya beserta sanak saudara dan warga se-kampung.

Beliau juga telah lebih dahulu berpulang. Demikian pula Bapak mertua. Kini, tinggal Ibu mertua yang dengan sabar terus mendidik dan mendoakan kami. Pada kesempatan ini, beliau kami ajak umrah bersama. Sebuah perjalanan yang terasa bukan sekadar ibadah, melainkan juga bentuk syukur yang sunyi.

Namun, di antara semua kenangan Lebaran itu, ada satu pengalaman yang tidak pernah tercatat dalam “buku panduan mudik nasional”, yakni berlebaran di Tanah Haram.

Di Makkah, tidak ada tradisi takbir keliling rumah. Tidak ada opor ayam yang dimasak sejak subuh. Tidak ada tetangga yang datang sambil berkata, “Maaf lahir batin ya… sambil nambah ketupat satu lagi.”

Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran harga BBM melambung tinggi, apalagi karena ulah Trump dan Netanyahu yang nyumet mercon dan kembang api di atas langit Iran. Justru di balik kesederhanaannya itulah letak keunikannya.

Hari kemenangan dirayakan di tempat yang selama berabad-abad menjadi pusat arah shalat umat Islam. Di bawah naungan Ka’bah, manusia dari seluruh dunia berkumpul untuk satu tujuan yang sama, yakni bersujud kepada Tuhan.

Dan menariknya, bahkan di tempat yang begitu sakral, humor kecil tetap hidup, terutama jika di sekitar kita ada jamaah Indonesia.

Malam Takbir di Pusat Kiblat

Ketika gema takbir mengitari Ka’bah. Malam terakhir Ramadhan di Makkah memiliki atmosfer yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Suasana usai sholat Ied di Masjidil Haram yang penuh sesak dengan jemaah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Masjidil Haram seperti jantung yang berdetak tanpa henti. Manusia datang dan pergi dalam arus yang tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagian thawaf, sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian lagi hanya duduk memandang Ka’bah dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.

Semua menunggu satu kabar, apakah malam ini adalah malam terakhir Ramadhan? Ketika pengumuman resmi terdengar bahwa esok adalah Idulfitri, gema takbir mulai berkumandang.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Tak lama kemudian, ribuan suara menyahut. Takbir itu seperti berputar mengelilingi Ka’bah, menyatu dengan langit malam Makkah. Di samping saya, seorang jamaah Indonesia berbisik:

“Ini takbirnya terasa beda ya…”

Temannya mengangguk pelan.

“Iya… biasanya kita takbir keliling kampung.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Sekarang keliling Ka’bah.”

Kami semua tersenyum. Bahkan di tengah suasana yang begitu menggetarkan, ruang kecil untuk humor tetap ada, seolah menjadi cara sederhana untuk menenangkan hati yang terlalu penuh.

Fajar Idulfitri di Tanah Haram

Pagi kemenangan sebelum matahari terbit. Pagi Idulfitri di Makkah dimulai bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing.

Sejak dini hari, manusia sudah bergerak menuju Masjidil Haram. Banyak yang tidak kembali ke hotel sejak malam. Mereka memilih bertahan di masjid, menjaga tempat, sekaligus menjaga rasa.

Pakaian terbaik dikenakan. Wewangian disemprotkan. Langkah kaki terasa lebih pelan, seolah semua orang sadar sedang menuju momen yang tidak biasa. Pelataran masjid perlahan berubah menjadi lautan manusia.

Di tengah itu, jamaah Indonesia mudah dikenali. Dari peci hitam, dari bahasa yang akrab, atau dari kebiasaan saling memanggil “Pak” dan “Bu” kepada orang yang bahkan baru dikenal lima menit lalu. Belum lagi jika ada orang Madura bicara lantang dengan aksen logatnya yang kental.

Seorang jamaah berkata:

“Lebaran tahun ini sederhana sekali ya…”

Temannya tersenyum.

“Iya… biasanya jam segini kita sudah ribut cari ketupat dan opor ayam, atau ayam lodho.”

Ia menatap botol zamzam di tangannya.

“Sekarang sarapannya air zamzam.”

Suasana jelang sholat Idul Fitri di Masjidil Haram yang penuh sesak dengan jemaah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Shalat Id di Depan Ka’bah

Sujud di pusat arah dunia. Ketika matahari mulai naik, Masjidil Haram telah penuh.

Jutaan manusia berdiri dalam satu arah. Ketika imam memulai takbir, tangan-tangan terangkat serempak.

“Allahu Akbar.”

Pada momen itu, kita sadar bahwa ini bukan sekadar shalat Id biasa. Ini adalah sujud di titik yang selama ini hanya kita bayangkan dalam doa.

Di hadapan Ka’bah. Seorang jamaah Indonesia berkomentar setelah shalat:

“Kalau di kampung, habis ini langsung cari sarapan…”

Temannya menjawab ringan:

“Kalau di sini… langsung cari thawaf.”

Lebaran Tanpa Sekat Bangsa

Persaudaraan tanpa identitas. Setelah shalat Id, suasana berubah menjadi hangat.

Ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” terdengar dalam berbagai bahasa. Orang-orang saling menyalami, saling memeluk.

Di tempat ini, batas negara seperti hilang. Seorang jamaah Indonesia tertawa kecil:

“Lebaran tahun ini… tamunya internasional semua.”

Kurma dan Zamzam

Hidangan paling sederhana. Jika di Indonesia meja Lebaran penuh hidangan, di sini cukup kurma dan zamzam.

Seorang jamaah membuka tas kecilnya:

“Ini opor versi hemat.”

Temannya menimpali:

“Yang penting berkahnya… bukan menunya.”

Kami tertawa. Sederhana, tetapi justru terasa utuh.

Thawaf di Hari Kemenangan

Lebaran tanpa jeda ibadah. Di banyak tempat, Lebaran adalah hari istirahat. Di sini, ibadah justru berlanjut.

Manusia terus mengelilingi Ka’bah, seperti sungai yang tidak pernah kering.

“Biasanya Lebaran itu santai,” kata seseorang.

“Ini Lebaran plus olahraga,” jawab temannya.

“Olahraga spiritual,” tambahnya.

Rindu Diam-Diam Hadir

Ketika rumah menjadi kenangan. Di tengah semua itu, ada satu rasa yang tak bisa disangkal, yakni rindu.

Rindu pada keluarga. Pada suara ibu. Pada suasana rumah.

Seorang jamaah berkata:

“Lebaran di sini tidak ada keluarga…”

Lalu ia melihat sekeliling. Tampak di depan mata lautan manusia dari seluruh dunia. Ia pun tersenyum.

“Eh… ternyata keluarganya lebih besar.”

Doa di Rumah Tuhan

Hari kemenangan yang sunyi. Di depan Ka’bah, banyak orang berdiri lama.

Tidak semua menangis. Tetapi hampir semua diam lebih lama dari biasanya.

Doa-doa dipanjatkan tanpa suara keras, seolah hati berbicara langsung tanpa perlu perantara kata.

Di tempat ini, manusia merasa kecil. Namun justru karena itu, Tuhan terasa sangat dekat.

Pulang Membawa Cahaya

Lebaran yang mengubah cara pulang. Berlebaran di Tanah Haram bukan sekadar pengalaman. Ia adalah cara baru memahami Idulfitri.

Bahwa Lebaran bukan tentang keramaian, tetapi kejernihan. Bukan tentang hidangan, tetapi keikhlasan. Bukan tentang kembali ke rumah, tetapi kembali ke diri sendiri.

Ketika jamaah pulang ke tanah air, mereka memang membawa kurma dan air zamzam. Namun yang paling berharga adalah sesuatu yang tidak terlihat, yakni sebuah cahaya kecil di dalam hati.

Cahaya yang mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukanlah saat kita merayakan hari raya, melainkan ketika kita berhasil pulang: kepada Tuhan, dan kepada diri kita yang lebih jernih. (*/bersambung)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Waspadai Penyakit Menular saat Musim Mudik, Balai Karantina Pantau Bandara dan Pelabuhan

Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…

17 hours ago

Temukan Tempat Hiburan Nekat Buka selama Ramadan, Satpol PP Surabaya Beri Sanksi

Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…

19 hours ago

Mobil Innova Zenix Ditumpangi Dua Lansia Terguling Tabrak Tiang Lampu dan Pohon

Sebuah mobil Toyota Innova Zenix mengalami kecelakaan tunggal setelah menabrak tiang lampu penerangan jalan dan…

21 hours ago

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Ziarah dengan Paket Lengkap (2)

Cukup mudah menjangkau Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Di tengah ruas Jalan Tol Waru—Juanda,…

22 hours ago

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Jejak Ulama Sepuh, Tokoh Sakti, dan Wali Karismatik (1)

”Kelak, Tambaksumur akan jadi ramai seperti Ampel. Orang akan datang ke sini dulu sebelum ke…

2 days ago

Dukungan Mengalir, Para Kiai NU Doakan Bupati Subandi Kembali Pimpin PKB Sidoarjo

Bupati Subandi mendapat doa istimewa dari pimpinan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sidoarjo. Baik jajaran MWC…

2 days ago

This website uses cookies.