Kompleks makam Ibrahim Al-Jaelani atau Mbah Bungur beserta para pengikutnya di Bungurasih Dalam, Kecamatan Waru, Sidoarjo. (Foto: Dite Surendra)
Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Kecamatan Waru menjadi gerbang wilayah Kabupaten Sidoarjo di sisi utara. Di kecamatan ini, terletak pula gerbang bagi Jawa Timur berupa terminal, yaitu Terminal Purabaya atau yang lebih akrab disebut Terminal Bungurasih.
Sebutan Terminal Bungurasih tak bisa dilepaskan dari lokasinya yang berada di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru. Ya, sejarah panjang mengiringi asal-muasal berkembangnya Bungurasih hingga terkenal menjadi lokasi terminal bus yang pernah didapuk sebagai terminal tersibuk se-Asia Tenggara.
Secara turun-temurun, masyarakat sekitar percaya bahwa nama Desa Bungurasih diambil dari seorang figur aulia (wali Allah) yang pernah tinggal di Bungurasih, yakni Mbah Bungur yang memiliki nama asli Ibrahim Al-Jaelani.
Namun, setelah berbagai penelitian dan penelusuran sejarah berdasar literatur serta artefak yang terbukti keabsahannya, ternyata fakta yang ditemukan lebih dari itu. Bungurasih adalah desa kuno yang sudah eksis jauh sebelum kedatangan Mbah Bungur. Bahkan, kalau dihitung mundur dari tahun 2025, usia Desa Bungurasih kini menginjak 1.165 tahun.
Usia yang jauh lebih tua daripada Kota Surabaya, Majapahit (1293 M), dan Kerajaan Airlangga. Bahkan, lebih dulu ada sebelum Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (929 M).
Hal itu terangkum dalam buku Bungurasih Desa Kuno yang ditulis Henri Nurcahyo, budayawan, sekaligus peneliti sejarah. Dalam buku itu, Bungurasih terbukti sudah eksis jauh sebelum kedatangan Mbah Bungur. Ini karena nama Desa Bungur Lor tercatat dalam Prasasti Kancana atau Prasasti Gedangan di tahun 860 Masehi.
“Di dalam prasasti itu dituliskan bahwa Raja Mataram Kuno, Rakai Kayuwangi, memberikan hadiah kepada Desa Bungur Lor dan Desa Asana sebagai Desa Sima (perdikan), dengan tugas menjaga bangunan suci bernama kancana,” ungkap Henri.
Dalam prasasti itu, sebut dia, jelas tertulis tanggalnya. Diberikan oleh Raja Rakai Kayuwangi tanggal 31 Oktober tahun 860 Masehi. Data tersebut bisa menjadi bukti bahwa Desa Bungurasih sudah ada sejak tahun 860 Masehi.
Sedangkan bukti lain menunjukkan, Ibrahim Al-Jaelani atau Mbah Bungur diperkirakan hidup dan menjadi murid dari Sunan Ampel sekitar abad ke-15. Zaman menjelang keruntuhan Majapahit. Kesimpulannya, asal-usul Desa Bungurasih bukan dari Mbah Bungur, melainkan justru Mbah Bungur itu disebut Bungur karena menetap di desa bernama Bungur.
Makam Mbah Bungur atau Ibrahim Al-Jaelani masih lestari dan dirawat dengan baik oleh masyarakat. Letaknya tak jauh dari Terminal Bungurasih, sekitar satu kilometer arah barat terminal. Tepatnya di Bungurasih Dalam, Kecamatan Waru. Masyarakat menyebutnya dengan makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani atau Ki Ageng Bungur atau Mbah Bungur atau Mbah Jenggot. Nama lain yang disebut warga adalah Mbah Joyo Amijoyo.
Area makam Mbah Bungur cukup asri dan teduh. Makam terlindungi oleh rimbunan pohon bambu dan ditandai dengan pohon beringin tua yang menjulang tinggi. Pohon beringin itulah yang memberi kesan terlindungi sekaligus keramat.
Sebuah makam besar yang berada di tengah dan diselubungi kelambu putih-cokelat itu dipercaya sebagai makam Mbah Bungur alias Mbah Ibrahim. Dulu nisannya terbuat dari batu dan tumpukan bata kuno. Namun, kondisi makam itu sekarang sudah bagus. (*)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama terlihat di Kabupaten Sidoarjo . Paguyuban Sosial Marga Tionghoa…
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Kota Pahlawan mulai bersolek. Bukan hanya soal dekorasi…
Bagi banyak umat Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum spiritual yang diyakini memiliki…
Pembagian takjil dan buka puasa bersama yang digelar oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) resmi berakhir…
Pemkot Surabaya melakukan penertiban bangunan liar yang dijadikan tempat pengumpulan barang bekas di sepanjang kawasan…
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus,…
This website uses cookies.