Ilustrasi membaca kitab kuning. (Foto: Istimewa)
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
—————————–
KAROMAH lain yang dimiliki K.H. Ali Mas’ud tentu adalah ilmu laduni dimana beliau memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu tanpa melalui proses pendidikan formal atau pembelajaran konvensional karena hal itu merupakan karunia langsung dari Allah SWT.
Membaca Kitab dengan Terbalik
Selain hafal al Quran, K.H. Ali Mas’ud dikenal juga piawai membaca kitab tanpa pernah sekolah atau mondok. Dikisahkan saat menghadiri sebuah pengajian kitab di Ponpes Sawah Pulo Surabaya pimpinan K.H. Usman Al Ishaqi, Mbah Ud bersikap aneh.
Di tengah pengajian yang dihadiri para kiai dan santri itu, Mbah Ud malah tidak bisa diam. Ia terus bertingkah, duduk, berdiri, lalu berjalan-jalan ke sana ke mari, seakan tidak menyimak apa yang disampaikan oleh Kiai Usman.
Namun, tiba-tiba Mbah Ud meminta kitab yang sedang dibaca oleh Kiai Usman. Setelah kitab diberikan, Mbah Ud membacanya. Bukan dengan cara biasa, Mbah Ud tampak memegang kitab Al Hikam itu dengan posisi terbalik.
Namun tak disangka, ia dengan lancar membacanya. Bahkan, sekalian menjelaskan isi dan makna yang terkandung di dalamnya. Tentu saja hal ini membuat takjub para kiai dan santri Kiai Usman yang hadir dalam pengajian itu.
Menghentikan Pesawat ketika Dilarang Marhabanan
Kejadian aneh juga pernah terjadi saat Mbah Ud naik haji. Dikisahkan oleh K.H. Mas Zubair bin Harits yang menemaninya naik haji bersama sang istri.
Saat sudah di dalam pesawat, Mbah Ud yang merasa senang karena akan ke Tanah Suci terus membaca marhabanan yang menjadi kesenangannya dengan suara keras. Nadanya tak beraturan, sambil ia memukul-mukul sesuatu di dalam pesawat sebagai musik pengiring.
Penumpang lain yang mengetahui kebiasaan Mbah Ud tidak berani menegur. Namun, seorang awak kabin mendekatinya. Dia meminta Mbah Ud agar tidak mengucapkan kata-kata keras karena dianggap mengganggu kenyamanan bersama. Apalagi pesawat hendak diberangkatkan.
Mbah Ud akhirnya berhenti membaca marhabanan. Namun, hatinya dongkol. Ajaib, ternyata mesin pesawat itu tak bisa dihidupkan sampai beberapa jam, sehingga penerbangan terpaksa delay alias ditunda.
Seorang penumpang kemudian menasihati awak pesawat itu untuk meminta maaf kepada Mbah Ud karena telah menegurnya. Benar saja, setelah meminta maaf dan dimaafkan oleh Mbah Ud, mesin pesawat langsung bisa dihidupkan. Penerbangan haji itu pun berlangsung lancar hingga ke Tanah Suci. (Redaksi/bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Singapore Tourism Board (STB) dan Pakuwon Group (PG) resmi memperbarui kemitraan strategis dalam memperkuat sinergi…
Disperinaker Kota Surabaya membuka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan tahun 2026. Langkah ini…
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Akademi Angkatan Laut (AAL)…
Aksi pencurian telepon genggam milik seorang penjual ayam geprek di Stasiun Gubeng Surabaya sisi lama…
Persebaya Surabaya bangkit dari tren negatif dengan meraih kemenangan 1-0 atas PSM Makassar di Stadion…
Antusiasme masyarakat Surabaya untuk melakukan donor darah tidak surut di bulan Ramadan. Seperti di halaman…
This website uses cookies.