“Suasananya saya lihat cukup ramai dan seru banget. Banyak anak kecil, remaja, sampai orang tua berkumpul di sini. Menyenangkan sekali karena ada live music-nya juga, jadi kita bisa kulineran bareng keluarga atau teman dengan santai,” ungkap Audina antusias.
Daya tarik utama yang membuatnya dan teman-temannya penasaran datang tak lain adalah deretan kuliner tradisional. Di tengah gempuran makanan modern, ia melihat makanan lokal sebagai sesuatu yang unik berpadu dengan suasana cangkrukan.
“Tertarik ke sini karena kulinernya sih, Kak. Kebetulan tadi kami sudah mencoba nasi pecelnya. Rasanya enak banget, pas dinikmati sore-sore seperti ini,” ungkapnya.
Audina pun berharap Pemkot Surabaya lebih sering menghadirkan acara bernuansa tradisional nan hangat ini agar generasi sebayanya tetap mengenal akar budaya.
“Harapannya, event seperti ini bisa lebih sering diadakan. Supaya generasi muda dan anak-anak kecil sekarang bisa tahu, kenal, dan tidak lupa dengan permainan serta makanan tradisional asli kita,” pungkasnya. (ahm)
Komitmen PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (Tjiwi Kimia) dalam pengembangan bisnis sekaligus berkontribusi pada…
Hari Raya Idul Adha membawa berkah bagi pengepul kulit hewan kurban di Surabaya. Seperti di…
Pola penyembelihan hewan kurban di kalangan masyarakat kini mengalami pergeseran. Jika dulu warga umumnya membeli…
Seorang pejalan kaki asal Wonorejo, Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, ditemukan tewas di lokasi usai…
Tim gabungan yustisi menggelar patroli pengawasan ketat di sepanjang aliran Kali Surabaya, dimulai dari wilayah…
Selama libur panjang Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Waisak, Hari Lahir Pancasila, warga Surabaya…
This website uses cookies.