Categories: Lifestyle

Senja, Musik dan Aroma Kuliner, Tugu Pahlawan Surabaya Kini Berubah Jadi Pasar Seni Modern nan Tradisional

Di sisi lain, aroma menggoda dari stan kuliner tradisional langsung menyerbu indra penciuman para pengunjung.

Menurut Saida, Senja Budaya kali ini menjadi misi khusus penyelamatan warisan kuliner lokal.

Generasi muda diajak bernostalgia dan bertualang rasa mencicipi makanan tempo dulu yang kini mulai langka, seperti Kue Rangin, Kue Putu, hingga Semanggi Suroboyoan.

“Kita kolaborasikan antara kuliner tempo dulu dengan makanan modern. Tujuannya jelas, kita ingin menggali dan mengenalkan kembali sejarah serta identitas Surabaya kepada anak-anak muda lewat rasa dan visual yang menarik,” tutur Saida.

Tak hanya memanjakan lidah, suasana semakin hidup dengan kehadiran permainan tradisional yang difasilitasi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).

Gelak tawa anak-anak yang bermain bebas di atas rumput hijau Tugu Pahlawan berpadu harmonis dengan alunan musik pop Jawa modern yang sedang digandrungi. Perpaduan ini menciptakan harmoni sore yang sangat hidup dan meriah.

Hingga Sabtu petang, tercatat ratusan pengunjung telah memadati lokasi setelah menukarkan tikar masuk seharga Rp5.000 saja.

Pihak pengelola menargetkan acara yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB ini mampu menarik hingga 10.000 pengunjung selama dua hari pelaksanaannya.

Hiburan rakyat pun disiapkan, malam ini dipentaskan Ludruk Luntas, sedangkan Minggu besok akan tampil Ludruk RRI.

“Selain makanan dan kegiatan, adapula hiburan rakyat yang dihadirkan. Seperti malam ini ada penampilan dari Ludruk Luntas. Kalau besok ada pertunjukan Ludruk RRI,” imbuhnya.

Lebih jauh, Saida berharap melalui Senja Budaya ini, makna Tugu Pahlawan tidak lagi hanya sebatas monumen sejarah.

Monumen itu kini menjelma menjadi ruang hidup tempat warga merayakan kebersamaan, melestarikan tradisi, dan merajut tawa di bawah langit senja yang hangat.

“Ayo Rek, khususnya anak-anak muda, datang ke Tugu Pahlawan. Kita nikmati makanan tradisional, bermain permainan jadul, dan nonton ludruk bareng-bareng di sini,” jelasnya.

Suasana hangat dan unik ini juga dirasakan langsung oleh Audina Putri (18), remaja asal Surabaya yang datang bersama teman-temannya setelah mendapat rekomendasi.

Baginya, ini adalah pengalaman pertama menghadiri acara budaya dengan konsep ruang terbuka di ikon sejarah kotanya sendiri.

Page: 1 2 3

Jay Wijayanto

Recent Posts

16 Anak dari Keluarga Siders Ohio Disekap Bertahun-tahun, Terungkap Lewat Penggeledahan Kasus

Publik Amerika Serikat tengah dikejutkan oleh satu kasus domestik paling mengerikan dan ekstrem sepanjang tahun…

2 days ago

Keliling Kota Piala Dunia #12: Mexico City, Kerenyahan Taco Al Pastor hingga Kemegahan Aztec yang Mendunia

Piala Dunia 2026 menjadi momen bersejarah bagi Mexico City. Ibu kota Meksiko ini akan kembali…

2 days ago

Kecelakaan Maut di Jalan Kertajaya Surabaya, Lansia Terpental Hantam Pembatas Jalan hingga Tewas

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Kertajaya, Surabaya, Senin (13/7). Sebuah mobil SUV Honda CR-V menabrak…

2 days ago

Sulit Cari Suku Cadang, 6 Bulan Merakit Berbuah Medali Dunia, Robot Sumo Siswa Surabaya Menangi Kompetisi di Singapura

Tim Robotik SMA Labschool Unesa 1 Surabaya kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dalam…

2 days ago

Hari Pertama MPLS Bangun Jam 4 Pagi, Aulia Semangat Kembali Bertemu Teman Sekolah

Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru resmi dimulai. Di SLB A YPAB Tegalsari,…

2 days ago

Gelandang Bafana Bafana Jayden Adams Ditemukan Meninggal Usai Bela Negaranya di Piala Dunia 2026

Awan hitam pekat menggelayuti jagat sepak bola Afrika Selatan. Jayden Adams, gelandang muda visioner yang…

2 days ago

This website uses cookies.