Categories: Internasional

Pria Australia Mampu Perpanjang Hidup 105 Hari dengan Jantung Titanium, Begini Kisahnya

METROTODAY, SYDNEY – Seorang pria di Australia mampu memperpanjang hidup selama 105 hari dengan jantung buatan berbahan titanium, sebelum akhirnya menerima transplantasi jantung donor.

Jantung buatan yang diciptakan oleh pendiri dan kepala teknologi BiVACOR, Daniel Timms, ini menggunakan rotor yang melayang secara magnetis (magnetic levitation/maglev) untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan paru-paru.

Teknologi serupa digunakan oleh kereta-kereta cepat seperti Linear Chuo​​​​​​​ Shinkansen di Jepang yang kini sedang dikerjakan.

Menurut BiVACOR, rotor yang melayang pada jantung buatan menghilangkan risiko aus dan rusak. Jantung buatan mereka diperkirakan dapat bertahan lebih dari 10 tahun, jauh lebih lama dibandingkan perangkat lainnya.

Ini merupakan rekor hidup terlama bagi pasien yang dipasangi perangkat jantung, menurut kelompok riset Australia yang terdiri dari para ahli dari perusahaan medis AS-Australia BiVACOR, Universitas Monash, dan institusi lainnya.

Dalam tahap awal pengembangan, BiVACOR bekerja sama dengan para ahli internasional, termasuk Toru Masuzawa, profesor dari Universitas Ibaraki, Jepang, yang memiliki keahlian dalam teknologi maglev.

Pasien asal Australia berusia 40-an itu menderita gagal jantung parah dan menjalani prosedur operasi selama enam jam untuk memasang jantung buatan di Rumah Sakit St. Vincent, Sydney, pada 22 November 2024, menurut kelompok riset tersebut.

Pada awal Februari 2025, pria tersebut menjadi orang pertama di dunia yang diperbolehkan pulang dari RS dengan jantung buatan berbahan titanium.

Awal bulan ini, dia menerima transplantasi jantung donor dan saat ini dalam masa pemulihan.

Dokter spesialis jantung dari RS St. Vincent, Chris Hayward menyatakan, perangkat itu akan merevolusi pengobatan gagal jantung.

“Dalam satu dekade ke depan, kita akan melihat jantung buatan menjadi alternatif bagi pasien yang tidak dapat menunggu jantung donor atau ketika donor jantung tidak tersedia,” kata Hayward.

Timms mengatakan bahwa Toru ​​​​​​​Masuzawa dari Universitas Ibaraki dan rekannya Nobuyuki Kurita telah terlibat dalam pengembangan jantung buatan sejak Oktober 2001.

“Keahlian mereka dalam teknologi maglev telah membantu BiVACOR mencapai konfigurasi maglev yang digunakan dalam perangkat ini,” tutup Timms. (*)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Kenjeran Jadi Saksi Lahirnya Laboratorium Keliling Deteksi Ancaman Mikroplastik

Mobil laboratorium pendidikan keliling Perjalanan Mikroplastik (Microplastic Journey), yang merupakan yang pertama di Indonesia dioperasionalkan.

46 minutes ago

Komisi B DPRD Surabaya Soroti Pagar Tinggi Mal di Surabaya: Jangan Bangun Kesan Kota Mencekam

Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya menuai sorotan. Anggota Komisi B DPRD…

1 hour ago

Kanwil DJP II Jatim Capai Penerimaan Rp16,08 T, Buah Sinergi dengan Media

Kanwil DJP Jatim II mencatat penerimaan pajak telah mencapai Rp16,08 triliun. Kepatuhan wajib pajak juga…

2 hours ago

Gantikan Rontgen, Hormon dalam Air Liur Bisa Diagnosa Kapan Gigi Anak Tumbuh

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sindy Cornelia Nelwan, drg., Sp.KGA., K-KGA.,…

3 hours ago

Operasi SAR Khusus KM Mutiara Sentosa 2 Dihentikan, Bangkai Kapal Diduga Terbawa Arus

Operasi Pencarian dan Pertolongan khusus penanganan kebakaran KM Mutiara Sentosa II resmi dihentikan dan dialihkan…

10 hours ago

Jenazah Dua Korban KM Mutiara Sentosa 2 Diserahkan ke Keluarga, Tiga Jenazah Menyusul

Dua jenazah korban kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 telah resmi diserahterimakan kepada pihak keluarga. Tim…

14 hours ago

This website uses cookies.