Timnas Turki harus pulang lebih awal setelah kalah dua kali lawan Australia dan Paraguay. (Foto: Al Jazeera)
METROTODAY, SAN FRANSISCO – Sepak bola punya cara paling kejam untuk meruntuhkan kesombongan sebuah tim. Datang dengan status mentereng sebagai kuda hitam paling mematikan di Piala Dunia 2026, tim nasional (timnas) Turki justru harus pulang paling awal dari turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Kisah anak asuh Vincenzo Montella terhenti secara tragis setelah terkapar oleh dua kekalahan beruntun yang memalukan dari Australia dan Paraguay di fase grup, sebuah antikilmaks luar biasa bagi tim yang sempat digadang-gadang bakal meledak di tanah Amerika.
Bila ada penghargaan dengan keberangkatan paling teatrikal, Turki adalah pemenangnya. Beberapa pekan lalu, jalanan kota Instanbul lumpuh total ketika ribuan suporter fanatik membakar flare merah, mengibarkan bendera raksasa, dan mengawal bus timnas menuju Bandara Internasional Instanbul layaknya tentara yang siap menaklukkan dunia.
Ekspektasi publik Instanbul membumbung begitu tinggi, meyakini bahwa generasi emas yang dihuni nama-nama seperti Hakan Calhanoglu, Arda Guler, Kenan Yildiz, hingga Ferdi Kadioglu, akan mengulangi dongeng indah Piala Dunia 2002 yang digelar di Korea Selatan dan Jepang.
Namun siapa sangka, euphoria bak juara dunia tersebut tampaknya justru menjadi beban mental yang membuat kaki para pemain mendadak kaku akibat demam panggung yang parah begitu menginjakkan kaki di rumput Amerika Serikat.
Dikabarkan oleh ESPN, dua pertandingan melawan Australia dan Paraguay menyajikan sebuah paradoks anomaly sepak bola yang mengenaskan. Turki mendominasi lapangan hijau layaknya raksasa yang mengurung kurcaci, memainkan sirkulasi bola yang tampak indah di layar kaca namun sama sekali tidak mematikan untuk membunuh lawan.
Turki mengurung pertahanan lawan dari menit pertama hingga peluit Panjang berbunyi, memaksa musuh-musuhnya menumpuk sepuluh pemain di garis pertahanan dan hanya bisa pasrah melihat aliran bola para penggawa Ay Yildizlilar (julukan Turki).
Tragedi tersingkirnya Turki dari Piala Dunia terasa semakin tidak masuk akal jika kita membedah isi perut statistik mereka di lapangan.
Sepanjang dua pertandingan grup, armada Bulan-Bintang tampil sangat superior dengan mendikte ritme permainan lewat rata-rata penguasaan bola yang sangat dominan hingga di atas 75 persen.
Dominasi mutlak tersebut kian sahih dengan keberhasilan 1.333 umpan akurat yang membuat lini tengah Australia dan Paraguay sempat kalang kabut kebingungan mengejar bola. Sialnya, kemewahan taktik tersebut bertransformasi menjadi sirkus di sepertiga akhir lapangan.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memperluas jangkauan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Bersama BPJS Ketenagakerjaan, diluncurkan Gerakan Sadar…
Absennya Neymar Junior dalam dua laga awal Brasil di Piala Dunia 2026 memunculkan tanda tanya…
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS),…
Stasiun Surabaya Gubeng sempat mengalami pemadaman listrik dari PLN pada Jumat (19/6) dan Sabtu (20/6).…
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…
Paraguay menjaga napas mereka di Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Turki dengan skor tipis 1-0…
This website uses cookies.