Bintang MU Ini Jadi Pahlawan, Pantai Gading Pecundangi Ekuador 1-0 di Philadelphia

Tak lama berselang, Alan Minda juga hampir menyarangkan bola ke jala Pantai Gading, tetapi bola kembali membentur mistar.

Reuters melaporkan, dua peluang berharga tersebut membuat pendukung Ekuador frustasi sekaligus menjadi bukti bahwa mereka sebenarnya tampil lebih berbahaya pada 45 menit pertama.

Pantai Gading merespons lewat aksi pemain muda berusia 19 tahun, Yan Diomande.

Winger yang menjadi salah satu kejutan dalam susunan pemain Emerse Fae itu tampil sangat aktif di sisi sayap. Kecepatan dan akselerasinya dalam duel satu lawan satu merepotkan Piero Hincapie.

Salah satu umpan silang Diomande berhasil menemukan Elye Wahi yang melepaskan tembakan ke arah gawang, lagi-lagi bola hanya menghantam mistar.

Memasuki babak kedua, pertandingan semakin sengit. Ekuador kembali memperoleh peluang melalui Enner Valencia dan Gonzalo Plata, tetapi Yahia Fofana tampil cemerlang di bawah mistar Pantai Gading.

Sebaliknya, negara yang terletak di Afrika Barat tersebut mulai menemukan kembali ritme permainan mereka.

Franck Kessie dan Sangare semakin agresif dalam perebutan bola di lini tengah, membuat Ekuador tidak lagi leluasan mengalirkan bola dari kaki ke kaki.

Ketika pertandingan tampak akan berakhir tanpa gol, Emerse Fae membuat keputusan krusial dengan memasukkan sayap Manchester United, Amad Diallo, dari bangku cadangan.

Pergantian tersebut terbukti menjadi momen penentu. Pada menit ke-90, Wilfried Singo melakukan penetrasi dari sisi kanan sebelum mengirim umpan tarik ke arah Amad.

Pemain berusia 23 tahun itu dengan tenang menyambar ke pojok gawang yang tidak mampu dijangkau Hernan Galindez.

Stadion yang mulanya didominasi suara La 593 (suporter Ekuador, diambil dari kode area telepon negara) mendadak hening ketika bola bersarang di dalam gawang.

Kemenangan Pantai Gading menghentikan rekor tak terkalahkan Ekuador yang bertahan selama 19 pertandingan sejak September 2024.

Padahal, La Tri merupakan salah satu tim dengan performa paling konsisten di Amerika Selatan dan digadang-gadang sebagai kuda hitam di Piala Dunia 2026.

Tak lama berselang, Alan Minda juga hampir menyarangkan bola ke jala Pantai Gading, tetapi bola kembali membentur mistar.

Reuters melaporkan, dua peluang berharga tersebut membuat pendukung Ekuador frustasi sekaligus menjadi bukti bahwa mereka sebenarnya tampil lebih berbahaya pada 45 menit pertama.

Pantai Gading merespons lewat aksi pemain muda berusia 19 tahun, Yan Diomande.

Winger yang menjadi salah satu kejutan dalam susunan pemain Emerse Fae itu tampil sangat aktif di sisi sayap. Kecepatan dan akselerasinya dalam duel satu lawan satu merepotkan Piero Hincapie.

Salah satu umpan silang Diomande berhasil menemukan Elye Wahi yang melepaskan tembakan ke arah gawang, lagi-lagi bola hanya menghantam mistar.

Memasuki babak kedua, pertandingan semakin sengit. Ekuador kembali memperoleh peluang melalui Enner Valencia dan Gonzalo Plata, tetapi Yahia Fofana tampil cemerlang di bawah mistar Pantai Gading.

Sebaliknya, negara yang terletak di Afrika Barat tersebut mulai menemukan kembali ritme permainan mereka.

Franck Kessie dan Sangare semakin agresif dalam perebutan bola di lini tengah, membuat Ekuador tidak lagi leluasan mengalirkan bola dari kaki ke kaki.

Ketika pertandingan tampak akan berakhir tanpa gol, Emerse Fae membuat keputusan krusial dengan memasukkan sayap Manchester United, Amad Diallo, dari bangku cadangan.

Pergantian tersebut terbukti menjadi momen penentu. Pada menit ke-90, Wilfried Singo melakukan penetrasi dari sisi kanan sebelum mengirim umpan tarik ke arah Amad.

Pemain berusia 23 tahun itu dengan tenang menyambar ke pojok gawang yang tidak mampu dijangkau Hernan Galindez.

Stadion yang mulanya didominasi suara La 593 (suporter Ekuador, diambil dari kode area telepon negara) mendadak hening ketika bola bersarang di dalam gawang.

Kemenangan Pantai Gading menghentikan rekor tak terkalahkan Ekuador yang bertahan selama 19 pertandingan sejak September 2024.

Padahal, La Tri merupakan salah satu tim dengan performa paling konsisten di Amerika Selatan dan digadang-gadang sebagai kuda hitam di Piala Dunia 2026.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait