Categories: Akal Sehat

Ramadan dan Jejak Aktivis: Merawat Nilai di Tengah Perubahan Peran

Oleh: Machsus, Anggota Komunitas S36A dan Wakil Rektor II ITS

“Ramadhan tiba… Ramadhan tiba… marhaban ya Ramadhan…”

BAIT itu seperti mesin waktu. Begitu terdengar, kenangan langsung bergerak mundur ke masa silam. Bukan hanya ke suasana masjid yang lebih terang atau pasar yang lebih ramai, tetapi ke masa ketika Ramadan identik dengan bergumul di sekretariat, tikar gulung, dan diskusi yang tak kenal jam.

Bagi para aktivis mahasiswa, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Bulan puasa bagian dari fragmen sejarah pribadinya. Ramadan adalah ruang kaderisasi batin. Siang hari diisi aksi demonstrasi dan advokasi, sore berburu takjil atau bukber, malam tarawih berjamaah, tadarus, lalu lanjut diskusi sampai sahur.

Forum-forum kecil itu tak sekadar membahas isu kampus atau bangsa, tetapi juga merawat kesadaran bahwa intelektualitas harus bersenyawa dengan keimanan.

Ketika sulit bangun pagi, kita selalu ada apologi, “bagaimana kita bisa bangun pagi, lha wong tidurnya saja sudah pagi”.

Ketika siang, lapar tetap ditahan, meski perdebatan kadang lebih panas dari cuaca kota pesisir. Di antara spanduk dan selebaran, terselip keyakinan bahwa perubahan tak lahir dari kenyamanan.

Jejak Aktivis

Spanduk yang tadi siang dibentangkan, menjelang magrib sudah dilipat rapi. Megafon diganti doa. Air mineral diputar bergiliran. Satu buah kurma terkadang dibagi dua bukan karena pelit, tapi karena solidaritas.

Sahur bersama di sekretariat terasa nikmat dan menjadi tradisi, meski hanya dengan menu mi instan, telur dadar, dan obrolan panjang tentang keumatan dan keindonesiaan.

Di ruang-ruang sederhana itu, kami belajar bahwa menjadi insan akademis bukan hanya soal indeks prestasi, melainkan juga keberpihakan moral terhadap keadilan dan kebenaran.

Lantaran ilmu tanpa nilai hanya melahirkan kecerdasan yang kering, sedangkan iman tanpa gerak sosial akan kehilangan daya ubahnya. Yang penting sahur bareng, asal jangan mokel bareng. Lantaran konsistensi adalah bagian dari idealisme aktivis.

Memori Kolektif

“Ramadan tiba, semua bahagia…”

Bahagia yang dulu terasa begitu tulus. Bukan karena menu berbuka yang mewah, tetapi karena kebersamaan. Bukan karena unggahan media sosial, tetapi karena rasa memiliki. Ramadan seperti ruang aman untuk tetap kritis tanpa kehilangan adab. Kita bisa berbeda pendapat di forum rapat, tetapi tetap satu shaf saat salat.

Kita bisa berdebat keras, tetapi tidak saling memukul, melainkan tetap saling merangkul. Ketika azan magrib berkumandang, terkadang kami juga berbagi gelas yang sama saat berbuka.

Di bulan suci ini, idealisme terasa lebih jernih. Kritik tetap tajam, tetapi hati tetap lembut. Diskursus tetap hidup, tetapi ukhuwah tetap dijaga. Semua perbedaan terasa begitu nikmat.

Waktu berjalan. Banyak yang kini tak lagi tidur di sekretariat atau begadang membahas pernyataan sikap. Peran berubah, tanggung jawab bertambah.

Dulu lantang mengkritik kebijakan, kini justru ikut menyusun kebijakan. Dulu berdiri di luar pagar, kini berada di dalam sistem. Namun setiap Ramadan tiba, memori itu muncul kembali, dan mengingatkan bahwa jati diri seorang kader bukan ditentukan oleh posisi, tetapi oleh nilai yang dibawa kemana pun melangkah.

Cermin Diri

Ramadan selalu mengajarkan pengendalian diri. Menahan lapar mungkin mudah. Menahan ego jauh lebih sulit. Dulu belajar menahan diri untuk tidak emosi saat forum aksi demonstrasi yang memanas. Kini belajar menahan diri agar tidak tergoda kenyamanan, tidak larut dalam fasilitas dan jabatan.

Puasa menjadi semacam rem batin dan mengingatkan bahwa integritas lebih penting daripada popularitas, serta mengurangi kecepatan ambisi agar tetap dalam jalur nilai-nilai kebenaran. Lantaran keberanian menyuarakan kebenaran harus dibarengi kerendahan hati untuk menerima kritik.

Setiap menjelang Ramadan, romantisme historis itu kembali terngiang-ngiang di benak kita, yang hangat, akrab, dan seakan tak pernah lekang oleh waktu.

Bedug masjid, tarawih dengan shaf rapat, diskusi ringan selepas witir, tawa kecil di sela doa.

Ramadan seperti album lama yang setiap tahun dibuka kembali, dan selalu menghadirkan rasa rindu dan haru yang sama.

Spirit Kemenangan

“Marhaban ya Ramadan…”

Sapaan itu bukan hanya untuk bulan suci, tetapi untuk diri sendiri. Selamat datang kembali pada semangat yang dulu begitu menyala. Selamat datang kembali pada kesadaran bahwa intelektual sejati adalah mereka yang menjaga keseimbangan antara pikir dan zikir, antara gagasan dan gerakan.

Nostalgia Ramadan bukan sekadar mengenang masa silam yang penuh kenangan. Ramadan adalah cermin.

Ramadan bertanya dengan halus: apakah nilai identitas kader itu masih terjaga dalam sanubari kita? Apakah kebersamaan itu masih dirawat? Apakah semangat berbagi masih menjadi kebiasaan, bukan hanya kenangan?

Ramadan tiba setiap tahun. Tetapi nostalgia yang dibawa bukan untuk membuat kita terjebak pada romantisme historis di masa silam. Ramadan hadir untuk mengingatkan kita bahwa yang dulu pernah baik, bisa kembali dihidupkan dan direvitalisasi dalam konteks kekinian dan kenantian.

Pada akhirnya, kemenangan bukan hanya ketika takbir berkumandang. Kemenangan adalah ketika semangat Ramadan, yang dulu membentuk karakter insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT., tetap menyala setelah bulan suci itu berlalu. Marhaban ya Ramadan!!! (*)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H Dipantau di 21 Kabupaten/Kota di Jatim Hari Ini, Kemenag: Awal Puasa Mungkin 19 Februari

Pemerintah akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadan 1447 Hijrah Selasa (17/2). Hasil…

3 hours ago

Ramalan Tahun Kuda Api 2026: Ekonomi Ketat tapi Banyak Peluang, Kendalikan Emosi dan Ambisi

Imlek tahun 2577 Kongzili atau 2026 memasuki tahun kuda api, dipercaya sebagai simbol kebebasan semangat…

5 hours ago

Banjir di Osowilangun Disebabkan Saluran Tersumbat Sampah, Pemkot Surabaya Lakukan Pembersihan

Banjir melanda kawasan Osowilangun akibat hujan berintensitas tinggi yang diperparah oleh kenaikan muka air laut.…

5 hours ago

Truk Ekspedisi Terguling di Jalan Menur Pumpungan Surabaya, Pengemudi Mengantuk Tabrak Pohon

Truk pengangkut barang ekspedisi tiba-tiba terguling di Jalan Menur Pumpungan, Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya,…

8 hours ago

Ponpes Siwalanpanji, Pondok Tertua Pencetak Para Ulama (2): Tetap Relevan dan Diminati karena Tradisi Pengajian Klasik

BERMULA dari majelis kecil, pesantren Siwalanpanji yang dirikan K.H. Hamdani akhirnya berkembang. Bangunan pesantren dibuat…

10 hours ago

Layanan Kesehatan UHC Terjamin, Warga Surabaya yang Mampu Diminta Bayar BPJS Mandiri

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa warga Surabaya terjamin layanan kesehatannya melalui Universal Health…

21 hours ago

This website uses cookies.